Senyum Ekonomi di Tengah  Pandemi

Senyum Ekonomi di Tengah  Pandemi
Dr. H.M. Amir Uskara

Oleh: Dr. H.M. Amir Uskara

PANDEMI tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu buruk seperti bayangan orang, hancur berkeping-keping.  Nyatanya, ungkap Sri Mulyani, kontraksi ekonomi Indonesia tidak seburuk negara-negara lain. Bahkan Indonesia hanya sedikit di bawah China satu satunya negara yang sudah mampu mengatasi keterpurukan ekonomi akibat pandemi. 

Betul, pandemi Covid-19  membuat perekonomuan dunia sangat terpuruk. Berdasarkan laporan terbaru IMF di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, Sri Mulyani mengemukakan kondisi perekonomian global menghadapi tekanan luar biasa sepanjang 2020.

Perekonomian seluruh negara, termasuk anggota G20 mengalami kontraksi hebat. Namun, posisi Indonesia masih lebih baik. Jauh lebih baik ketimbang Singapura, Jepang, dan Amerika Serikat sekalipun.

Indonesia, ungkap Sri Mulyani, diperkirakan IMF  mengalami kontraksi  hanya 1,5 persen pada tahun 2020. Ini kontraksi yang jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika -- meski masih minus. 

Dengan kontraksi minus 1,5 persen itu, Indonesia berada di posisi kedua, di bawah China yang positif 1,9 persen. Di bawah Indonesia ada Korea Selatan yang diproyeksi  oleh IMF minus 1,9 persen dan Rusia minus 4,1 persen. 

"Indonesia di antara kelompok G20 pertumbuhan ekonominya masih terbaik kedua sesudah China, " kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konpers APBN Kita, Selasa (24/11/2020). Pernyataan IMF yang dikutip Sri Mulyani,  jelas membuat kita bangsa Indonesia agak lega. Bisa tersenyum. Setidaknya akan membangkitkan optimisme.

Menurut Sri Mulyani,  akibat pandemi Covid-19  hampir semua negara ekonominya down pada kuartal kedua dan ketiga. Karena pandemi mempengaruhi seluruh negara, tidak pandang bulu,  maka ketahanan ekonomi tiap-tiap negara akan sangat diuji. Keberhasilan menghadapi ujian itu, tergantung bagaimana negara tersebut mengantisipasinya. Oleh karena itu, semua negara saat ini  menjalankan strategi counter cyclical melalui APBN atau kebijakan fiskal. Jelas Sri Mulyani.

"Indonesia ada di bagian yang dianggap cukup rendah modestnya,  yaitu di sebelah kanan, sesudah China.  Dan perubahan dari sisi defisit ini adalah untuk memberikan support bagi perekonomian,  khususnya untuk belanja di bidang kesehatan," ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers melalui YouTube Ministry of Finance Republic of Indonesia.

Adanya counter cyclical ini, lanjut Sri, kemudian menyebabkan hutang pemerintah  semua negara mengalami kenaikan, termasuk Indonesia. Tapi bagi Indonesia, kenaikan hutang itu, masih berada di koridor aman. Bahkan masih belum menyentuh batas yang ditetapkan undang-undang.

Berdasarkan pengamatan IMF terhadap negara-negara maju (G20) rata-rata angka kenaikan hutangnya luar biasa.  Rerata utang mereka sebelum krisis di tingkat 100 persen dari GDP. Kini saat menghadapi pandemi Covid-19,  hutangnya melonjak di sekitar 130 persen dari GDP. 

Sementara itu, Indonesia, utang pemerintah selama ini berada di sekitar 30 persen.  Kemudian naik menjadi 36 hingga 37 persen di era pandemi.  Terlihat, hutang Indonesia  jika dibandingkan dengan negara lain, masih relatif kecil.  

Ini terjadi karena ekonomi Indonesia punya ketahanan, khususnya di sektor tradisional. Pertanian, perkebunan, perikanan, pertambangan, UMKM, dan sektor tradisional lain, ikut menopang ketahanan perekonomian Indonesia di masa pandemi. 

Meski demikian, Indonesia tidak boleh lengah. Karena pandemi ini belum bisa diprediksi kapan berakhir. Karena itu Indonesia  harus  tetap menjaga kondisi ekonominya di semua lini, supaya  tetap baik dan fiskalnya sustainable. Tutur Sri Mulyani.

Seperti diketahui, pada kuartal II-2020,  pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat minus 5,32 persen.  Pada kuartal ketiga, minus -3,49 persen.  Betul Indonesia masuk kategori resesi. Tapi tidak berarti, ekonomi Indonesia ambruk. Tak tertolong. Sebaliknya, Indonesia -- dengan pengalaman menghadapi resesi berkali-kali dan selamat -- akan mampu membalikkan keadaan.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, China masih menjadi negara tujuan ekspor utama Indonesia. Pada Oktober 2020, peningkatan ekspor tertinggi RI ke China mencapai US$ 234,7 juta. Nilai ini meningkat 8,94% dibandingkan dengan September 2020.

Dengan peningkatan ekspor ini, maka total ekspor nonmigas RI ke China menjadi US$ 2,86 miliar. Meningkat dari September yang tercatat sebesar US$ 2,62 miliar. Dari gambaran di atas, pulihnya ekonomi China, jelas akan mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia.

Negara lain yang juga jadi tujuan ekspor Indonesia dan terus meningkat nilainya  adalah Vietnam dengan nilai US$ 96,1 juta, Filipina US$ 83,3 juta. Lalu Malaysia US$ 65,8 juta dan Spanyol senilai US$ 54,8 juta. Ke depan, dengan makin efisiennya sistem perekonomian Indonesia -- berkat pelajaran ekonomi digital akibat pandemi -- insya Allah, Indonesia akan mampu membalikkan kondisi keterpurukan ini menjadi lompatan yang menakjubkan.  Pelajaran ekonomi digital selama pandemi yang berhasil membuka mata semua rakyat Indonesia terhadap "pasar tanpa batas"  akan menjadikan     Indonesia  "the first champion of world economy". Semoga.

* Penulis adalah Pengamat Ekonomi/ Anggota DPR RI