Politik

Sentil Prabowo, Ma’ruf Sebut Utang Boleh dalam Islam

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Calon Wakil Presiden nomor urut 01, KH Ma’ruf Amin ikut menyentil pernyataan Prabowo Subianto yang menyebut Menteri Keuangan sebagai ‘menteri pencetak utang’.

Ma’ruf menyatakan bahwa berutang sendiri sangat lazim dan diperbolehkan di dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia maupun dalam hukum agama Islam.

“Indonesia punya utang. Kemudian Kemenkeu utang. Lah utang itu dibolehkan oleh undang-undang. Dalam Islam utang boleh kok. Jadi utang secara negara boleh, secara agama boleh,” ujar Ma’ruf di Jakarta, Jumat (1/2).

Ma’ruf menyatakan bahwa rasio utang luar negeri Indonesia saat ini masih sangat sehat ketimbang negara-negara lain seperti Turki, Amerika dan Jepang.

Diketahui, Kementerian Keuangan mencatat utang pemerintah pusat mencapai Rp4.418,3 triliun dengan rasio utang pemerintah Indonesia terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) berkisar 29,9 persen.

“Kalau utang kita di Indonesia, yang saya baca itu masih lebih sehat dibanding Amerika, Turki, Jepang, sekalipun rasio utang itu masih di bawah batas maksimum,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ma’ruf menyebut pemerintah Indonesia tak bisa mengajukan utang luar negeri apabila tanpa persetujuan DPR.

Sebab, kata dia, DPR bersama pemerintah harus menyepakati bersama soal besaran utang luar negeri yang nantinya dituangkan dalam APBN dalam bentuk undang-undang.

“Yang bikin DPR, yang menentukan berapa besarnya, berapa bolehnya itu ada aturannya dan yang menentukan juga DPR. Dan DPR itu semua partai ada di situ. Termasuk partai anda juga di situ ada,” katanya.

Lebih lanjut, Ma’ruf turut mengklaim seluruh partai politik yang berada di DPR telah menyetujui besaran anggaran utang luar negeri pemerintah.

Menurut dia, DPR pasti akan menolak bila besaran utang luar negeri Indonesia terlalu besar dan melebihi batas rasio PDB yang dimiliki Indonesia.

“Jadi semua (partai) itu. Dan dianggap tidak melanggar. Kalau melanggar pasti di impinge (ditolak). Makanya tanya dulu,” ucapnya. (WW)

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close