Catatan dari SenayanFeatures

Semuanya Bisa Diubah

Dulu ketika memilih perjalanan dengan kereta api di semua jurusan di Jawa, mulai dari saat masuk stasiun pemberangkatan, di dalam gerbong-gerbong kereta, di stasiun-stasiun yang dilewati, sampai stasiun tujuan, kita selalu menemukan pemandangan yang serba tak teratur, kumuh dan menjemukan.
Memasuki stasiun kita sudah dihadang para calo yang menawarkan tiket-tiket lebih mahal dari harga yang semestinya. Kereta mulai bergerak molor beberapa puluh menit dari jadwal. Di dalam kereta semua kelas para penumpang terasa tak nyaman. Selain yang duduk di kursi, banyak penumpang duduk di gang-gang atau tidur berserak di sela-sela kursi. Sebagian penumpang mengisap rokok, asap putih mengepul dan perlahan keluar melalui jendela. Tentu penumpang yang tidak merokok sangat terganggu. Asap rokok –berfilter maupun kretek– pun masuk melalui hidung mengganggu pernapasan para penumpang. Mereka tak bisa protes. Paling hanya menggerutu.
Ketika kereta akan berhenti di setiap stasiun, berlompatan pedagang asongan masuk gerbong berjejal menjajakan dagangan. Berisik sangat mengganggu, berebut jalan dengan penumpang yang mau turun. Sampai di stasiun, penumpang yang masih akan melanjutkan perjalanan melongok lewat jendela mendapati pemandangan yang sama: menyesakkan. Stasiun terkesan kumuh. Gerai atau lapak berderet tak tertata. Kamar kecil bercat kusam, bau anyir dan kadang air pembilas tak mengalir. Kereta sampai di stasiun tujuan molor dari jadwal. Mereka turun dengan lunglai. Tak sempat istirahat karena suasana dalam gerbong tak nyaman.
Setelah Ignatius Jonan menjabat Direktur Utama PT KAI, semua dibenahi. Tak lagi ada calo beroperasi di semua stasiun. Berkereta semakin nyaman. Jumlah penumpang sesuai dengan jumlah kursi yang tersedia. Semua stasiun bersih dan rapi. Perjalanan kereta relatif sesuai jadwal. Dulu orang berpikir, sepertinya perkeretaapian di Indonesia sulit ditata, karena kultur dan rendahnya disiplin. Dengan kerja keras dan disiplin tinggi, semuanya dapat diubah.
Dulu, Jakarta, kota besar yang setiap tahun selama puluhan tahun  selalu kebanjiran, dibayangkan tak akan bisa lepas dari air bah. Setelah Joko Widodo (Jokowi) menjabat Gubernur DKI Jakarta kemudian dilanjutkan penggantinya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, upaya keras untuk mengatasi banjir dilakukan. Banjir Kanal Timur (BKT) dibangun, sungai-sungai dinormalisasikan, bangunan liar di semua bantaran sungai ditertibkan, gorong-gorong diperdalam dan ditata, sumur-sumur resapan digali. Sudah dua tahun ini tak ada lagi banjir menggenangi Jakarta. Alhamdulillah.
Ternyata kerja keras dan cerdas dari tokoh-tokoh seperti Jonan, Jokowi, dan Ahok bisa mengubah sesuatu yang semula dianggap tidak mungkin menjadi mungkin. Pengguna kereta semakin banyak, warga Jakarta pun bisa tidur nyenyak.
Salam

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close