Semua Relatif

Semua Relatif

"Berapakah kecepatan kereta? "

Seorang anak bertanya kepada bapaknya. 

"Relatif, " Jawab ayahnya. 

"Kok, relatif, ayah? "

"Bergantung kesepakatan kita, mengukurnya dari mana. Jika kita sepakat mengukurnya dari sebuah titik diam. Kita bisa menghitungnya dengan cermat. "

"Terus, kenapa relatif? "

"Kalau ayah berdiri disini. Dan kamu naik mobil yang juga bergerak, maka jawaban dari pertanyaanmu berbeda. Ayah bisa menjawab 120 KM/jam. Sementara kamu harus tahu dulu berapa kecepatanmu. Mobilmu bergerak searah atau berlawanan dengan kereta itu."

"Jadi, benar tidaknya jawaban bergantung dari posisi dimana kita berdiri? "

"Yups... "

"Artinya ayah? "

"Artinya sebelum menjawab pertanyaan kita harus sepakat dulu mengukurnya dari mana. Kesepakatan itulah yang menentukan jawabannya benar atau salah. "

"Tanpa kesepakatan titik awalnya kita gak akan bisa bertemu jawaban yang benar? "

"Iya. "

Anak itu bingung. Ia hanya mau jawaban yang simpel agar bisa menenangkan hatinya. Sebab betapa ribetnya kehidupan jika semua jawaban selalu relatif. 

Tapi kebenaran mungkin gak sesimpel itu. 

Sama saja perdebatan konyol soal iman. 

Ada dua orang berbeda agama berdebat. Ukurannya kitab suci masing-masing. Dan mereka masing-masing ngotot bahwa dirinyalah yang paling benar. Sebab sesuai dengan kitab suci. Masalahnya kitab sucinya berbeda. 

Sungguh. Itu adalah perdebatan yang paling absurd. 

"Tapi ayah, jika semua adalah relatif, apa yang bisa kita jadikan pegangan? Betapa tidak enaknya hidup dalam ketidakpastian seperti itu. "

"Memang tidak enak, nak. Tapi ketidakenakan itu resiko karena kita berfikir. Berfikir selalu diawali dengan keraguan. "

"Dan akhirnya? "

"Juga keraguan... "

Lalu buat apa kita berfikir jika akhirnya tidak membawa kepastian? 

Ayahnya tersenyum. Ia merasa sedang mengajarkan bagaimana cara berfilsafat kepada anaknya. Bahkan anaknya kini mulai berfikir kenapa ia harus berfikir. 

"Yuk, kita cari makan, " ajak ayahnya. Ia tahu, sebelum berfilsafat manusia harus kenyang dulu. 

"Kenapa kita harus makan sekarang, ayah? Kenapa gak satu jam lagi? Kenapa gak 20 menit lagi? "

"Ya, karena kita lapar. "

"Kenapa ayah yakin kita lapar? Kalau ayah merasa lapar, apakah itu juga pasti dirasakan orang lain? "

"Lho, tadi kan kita sarapan bareng. Kalau sekarang ayah lapar, kamu juga pasti lapar? "

"Apa yang membuat ayah mengambil kesimpulan itu? Padahal metabolisme kita berbeda. Bisa saja sekarang aku belum lapar, kan? Apa ayah akan memaksaku makan padahal aku belum lapar? "

Ayahnya terdiam. 

Ia mulai sadar. Mempertanyakan banyak hal terkadang malah membawa persoalan tersendiri...

*Eko Kuntadhi, penulis, pegiat sosial media.