Tokoh

AM Hendropriyono: "Semboyan The Old Soldiers Never Die, bukan Post Power Syndrome"

AM Hendropriyono:

“Semboyan The Old Soldiers Never Die, bukan Post Power Syndrome”

MASYARAKAT masih bisa merasakan kiprah para prajurit tua (the old soldiers) di berbagai domain kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan berbagai pemaknaan.
Ada yang memaknai, kiprah prajurit tua tadi sebagai gejala post power syndrome. Namun ada juga yang menyandarkan maknanya pada segugus kalimat inspiratif yang pernah diucapkan Jenderal Douglas Mac Arthur di tahun 1951, The Old Soldiers Never Die, They Just Fade Away
Salah seorang prajurit tua yang kiprahnya sangat menonjol di berbagai bidang, adalah Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono yang terlihat aktif mengamati dunia intelijen dan politik, serta aktif di dunia bisnis, pendidikan, bahkan kesenian.
Redaksi Senayanpost di awal Ramadhan ini berkesempatan berbincang-bincang singkat dengan AM Hendropriyono di Jakarta. Berikut petikannya:
Apa makna di balik kiprah para prajurit tua dalam urusan kekinian?
Itu adalah refleksi dari pengabdian prajurit yang tidak pernah mati kepada bangsa dan negaranya. Pengabdiannya tetap teguh, seteguh ia memegang sumpahnya sebagai prajurit.
Selama kiprah prajurit tua dilandaskan pada jiwa pengabdian dan berpegang teguh pada sumpah prajurit, itulah wujud semboyan the old soldiers never die, sebagaimana pernah diucapkan Jenderal Besar Mac Arthur pada pidatonya di hadapan kongres AS pada 19 April 1951.
Jasmani prajurit tua bisa sirna, badannya bisa binasa. Tapi jiwa pengabdiannya bisa terus hidup. Kenapa Sirna? Karena untuk membedakannya dengan mati. Tapi maksud Mc Arthur sama.
Hanya saja kata mati maksud dia untuk jiwa, dan sirna untuk raga. Jiwa yang tetap hidup adalah jiwa yang setia abadi terhadap sumpahnya sendiri.
Jadi, sumpah prajurit merupakan ‘roh’ bagi jiwa pengabdian yang tetap hidup?
Ya, apalagi Sumpah Prajurit diawali dengan mengucapkan kata “demi Allah saya bersumpah” yang bermakna bahwa kita siap untuk mnerima laknat dari Tuhan Yang Maha Esa jika mengingkarinya.
Sumpah pertama berbunyi: setia kepada pemerintah dan tunduk kepada undang-undang dan ideologi negara.
Setia kepada pemerintah, berarti setia kepada pemerintah yang sekarang, pemerintah yang sedang menjalankan fungsinya. Tidak pernah disebut pemerintah yang mana.
Tunduk kepada undang-undang, berarti tunduk kepada hukum positif yang berlaku, hukum yang sekarang, bukan hukum yang dulu, bukan pula hukum yang akan datang.
Sumpah kedua berbunyi: tunduk kepada hukum tentara.
Artinya, bukan tunduk kepada hukum rimba, bukan hukum pragmatik. Prajurit harus tunduk kepada aturan tentara yang sekarang, bukan aturan yang dulu. Kalau dulu boleh tinggal di rumah jabatan, setelah pensiun tidak boleh!
Sumpah ketiga berbunyi: menjalankan segala kewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab kepada tentara dan negara RI.
Setiap prajurit tua punya kewajiban moral untuk tidak berkomentar negatif kepada tentara aktif, adik-adik kita dari generasi penerus. Tidak ikut-ikutan mereka yang bukan prajurit tua (the old soldiers), menjelek-jelekkan aparat intelijen yang masih aktif. Tidak juga malah ingin membubarkan Satuan Teritorial.
Soal Agus Wijoyo yang mengusulkan pembubaran Satuan Teritorial itu tinggalkan saja, sebagai usul dari seorang penyelenggara negara. Jangan ada dari “the old soldiers” yang ikut-ikut mendukung hal yang tidak kita setujui itu. Tapi jangan mengkritik sampai menyerang pribadi Agus Wijoyo. Itu sama sekali tidak etis!
Sumpah keempat berbunyi: memegang teguh disiplin, berarti tunduk, setia, hormat serta taat kepada atasan, dengan tidak membantah perintah atau putusan.
Disiplin adalah penyesuaian tingkah laku diri kita sebagai the old soldiers, dengan aturan perundang-undangan yang berlaku sekarang. Bukan yang dulu.
Pengertian “jangan membantah perintah atau keputusan” adalah jangan membantah perintah atau keputusan dari pemerintah yang sah. Kalau keputusan Komnas HAM yang bukan pemerintah, tidak usah dilayani.
Atasan kita sekarang setelah pensiun adalah suara hati kita sendiri, yang dulu sudah lulus dalam menerima ajaran moral dan pengetahuan etika sebagai prajurit TNI.
Sumpah kelima berbunyi: memegang segala rahasia tentara sekeras-kerasnya.
Artinya, prajurit TNI tidak boleh menceritakan tentang batas kemampuan dan kekuatan, konflik, aib, kelemahan TNI dulu maupun sekarang.
Itulah bedanya antara semboyan THE OLD SOLDIERS NEVER DIE, dengan POST POWER SYNDROME!
Post power syndrome itu artinya masih mau ikut campur mengurusi hal-hal yang sudah bukan urusannya, karena sudah menjadi urusan generasi penerus yang menggantikan kita.
Bagaimana penilaian anda tentang kiprah prajurit tua seperti Kivlan Zen yang dan Agus Wijoyo menyoroti isu kebangkitan PKI?
Saya benarkan reaksi Kivlan Zen dan aksi Agus Wijoyo yang tentu saja dalam persepsi mereka masing-masing. Mereka telah menggugah kewaspadaan kita terhadap kebangkitan PKI. Indikasi dengan aksi demonstratif anak-anak muda mengenakan kaos bergambar palu-arit, senada dengan yang dipakai para pembeli kaos-kaos oblong bergambar Che Guevara, gerilya komunis yang dulu pernah menjadi musuh Amerika Serikat nomer wahid.
Namun demikian, rakyat kita tidak usah panik. Karena mengatasi aksi demonstratif seperti itu tidak sesulit aksi penyebaran pamflet gelap PKI Gaya Baru di pertengahan tahun 1972 di bawah pimpinan Sayid Ahmad Sofyan Al-Baraqbah yang sulit diatasi, karena aksi itu mereka kawal dengan kekuatan gerilya bersenjata pasukan Bara (Barisan Rakyat).
Cara PKI untuk bangkit, tidak akan menyimpang jauh dari strategi perang subversi. Pertama, mereka melakukan “kerja massa” secara klandestin (secara rahasia, tidak demonstratif). Kemudian, membentuk front-front kekuatan. Di masa dulu, front kekuatan itu seperti Gerwani, CGMI, Pemuda Rakyat dan lain-lain. Tahap berikut adalah perlawanan bersenjata. Tahapan seperti tersebut harus dilalui, walau tidak selalu berturutan.
Saya juga menghargai langkah-langkah yang diupayakan Zacky Anwar Makarim, Kiki Syahnakri dan kawan-kawan di lapangan, yang bertujuan mencegah agar demo massa anti PKI tidak menjadi anarkis.
Perlu disadari, sinyalemen tentang kebangkitan kembali PKI yang lebih nyata dan mungkin lebih berbahaya adalah di bidang seni budaya.
Di bidang itu bisa mereka melakukan infiltrasi yang lebih sukar dideteksi daripada melalui aksi demonstratif mengenakan kaos bergambar palu arit, yang menggelikan.
Tapi ada juga yang secara demonstratif mengaku bangga sebagai anak PKI, apakah ini menunjukkan kekuatan PKI sudah semakin signifikan?
Terhadap komentar anak-anak yang mengaku PKI termasuk tentang kekuatan mereka yang sudah bangkit, lebih banyak bualan daripada kenyataan.
Kita harus waspada terhadap usaha adu domba sebagaimana peringatan Panglima TNI, yang bisa menjadi konflik horizontal yang justru sangat berbahaya.
Dalam literatur ilmu sosial Barat, tidak ada istilah konflik horizontal. Bagi mereka yang ada istilah chaos. Dalam keadaan chaos yang harus hadir adalah Pemerintah untuk menghentikannya.
Dalam suasana chaos, segala macam jenis hukum telah kehilangan daya rekatnya. Tindakan pemerintah di realitas yang goncang itu, tidak perlu lagi mencari-cari dasar hukum apapun! Karena mengatasi suasana chaos sudah berwatak hukum.
(tonto)
 

KOMENTAR
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
Close
Close