Selamat Jalan, Prof Fiz

Selamat Jalan, Prof Fiz
Ahmad Erani Yustika

Oleh: Ahmad Erani Yustika

PERTAMA kali kami bertemu dan berkenalan sekitar 2009 (12 tahun silam). Ia selalu santun dan cenderung pendiam. Tak lama sejak bersahabat, saya terkejut membaca berita dia menjadi Dekan FEB UI dalam usia yang sangat muda. Ia merontokkan banyak "kelaziman" di kampusnya saat itu. 

Belum usai takjub, saya tersentak sebab tak lama setelah itu ia meraih Guru Besar dalam usia yang begitu belia (34 tahun). Selanjutnya adalah sejarah: menjadi Stafsus Presiden dan Rektor Universitas Paramadina (tentu masih dalam usia yang ranum). Ia ikonik zaman: muda, pintar, keren, berprestasi.

Usai perkenalan medio 2009 itu kami kerap dipertemukan di panggung-panggung diskusi/seminar. Ia selalu tenang ketika menghadapi perbedaan pendapat, terlebih ketika menyikapi kritik yang dialamatkan kepada pemerintah (sebagai Stafsus Presiden ia mesti menjelaskan kritik tersebut). 

Sikapnya terus dingin dan berbicara lurus dengan data. Tulisan yang diproduksinya juga selaras dengan karakter itu: jernih dan mudah dipahami. Saya kira, pada masa itu, dia adalah standar yang bagus sebagai figur representasi pemerintah. Satu lagi, kepintaran yang dipunyainya dipantulkan dalam sikap yang rendah hati.

Pentas seminar yang masih saya kenang, salah satunya adalah saat kami mengupas soal desain kebijakan ekonomi jangka pendek pada 3 Maret 2018 (3 tahun lalu). Seminar itu diselenggarakan oleh ISEI dan Bappenas dengan pembicara Prof. Sri Adiningsih (Ketua Wantimpres), Prof. Ari Kuncoro (Dekan FEB UI), Prof. Firmanzah (Rektor Paramadina), Prof. M. Ikhsan (Staf Khusus Wapres), dan saya. 

Ia -meskipun bukan berlatar Ilmu Ekonomi- bisa memberi deskripsi sederhana peta ekonomi domestik dan konstelasi perubahan ekonomi global, yang ujungnya bermanfaat untuk merumuskan kebijakan ekonomi yang solid.

Pada 2019 secara fisik saya bersua terakhir dengannya di FEB UB ketika menjadi penguji disertasi. Ia begitu detail dan tajam mengulik satu demi satu pokok bahasan disertasi. Setelah itu kami pulang bareng ke Jakarta dan bercakap panjang (kebetulan pesawatnya tertunda berangkat) perkara aktivitas masing-masing dan rencana ke depan. Ia juga banyak cerita soal Paramadina dan tantangan yang dihadapinya. 

Pagi ini, kembali saya tersedak olehnya, bukan atas eksekusi rencana masa depannya, namun kepergiannya yang begitu cepat. 

Every man must do two things alone: he must do his own believing and his own dying,” ucap Martin Luther. 

Saya cuma bisa mengantar sampai pusara dengan doa. Selamat jalan, Prof. Fiz (nama panggilan Prof. Firmanzah). Ilmu dan jihad di dunia pendidikan akan mengantarmu memperoleh kemuliaan di sisi Sang Khalik.

Prof. Ahmad Erani Yustika PhD, Guru besar FEB Universitas Brawijaya, Malang.