Opini

Selamat Jalan Bang Mimar

Oleh Tatang Ramadhan Bauqie

PERTAMA kali mengenal namanya saat saya masih mahasiswa Seni Rupa yang sedang melakukan Kerja Praktek, selama 3 bulan di majalah TEMPO. Sekitar tahun 1980.

Membaca informasi berupa promosi sebuah majalah berita baru yang akan terbit, namanya FOKUS. Dan, mendengar nama penggagas dan yang akan menjadi Pemimpin Redaksinya bernama Masmimar Mangiang.

Saya berpikir, seru ini. Majalah TEMPO sebagai satu-satunya majalah berita, saat itu, akan mendapat saingan.

Selesai Kerja Praktek, saya kembali ke Bandung. Kembali ke kampus untuk melakukan Tugas Akhir. Majalah FOKUS terbit. Tapi, saya tak intensif mengikuti perkembangannya.

Satu semester saya lalui. Tugas Akhir selesai. Tinggal satu kewajiban saya di kampus, menulis skripsi.

Mendengar kabar, grup TEMPO akan mendirikan usaha baru, penerbitan buku. Dan terwujud, namanya GRAFITI PERS.

Lalu, datang tawaran kepada saya dari TEMPO untuk membantu pelaksanaan proyek pertama GRAFITI PERS menerbitkan sebuah buku, yaitu: Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia (Jilid satu).

Sebuah buku yang akan berisi informasi data dan sedikit kisah 600 orang Indonesia “terkenal”.

Saya diminta menangani perwajahannya.

Selesai pengerjaan buku itu, saya ditawari untuk bekerja, menjadi karyawan di TEMPO. Saya ragu untuk menerimanya, karena saya belum selesai sekolah. Masih punya “utang”, skripsi.

Tapi, saat itu Mas Goenawan Mohammad sebagai Pemred, dan alm. Mas Prinka sebagai Kepala Bagian Tata Muka TEMPO (sebutannya masih begitu) “memprovokasi” yang terasa sebagai tantangan, senada mengatakan: Ah, bikin skripsi, kan, bisa dilakukan sambil bekerja di TEMPO. Bercampur dengan rasa kepincut dan senang beraktifitas di lingkungan TEMPO, ahirnya tawaran kerja itu saya terima.

Segera saja saya boyongan pindah, dari Bandung ke Jakarta. Kerja sebagai karyawan TEMPO, yang saat itu berkantor di gedung Proyek Senen.

Mulai mengikuti lagi keberadaan majalah FOKUS. Yang, tak lama waktu berselang berhenti penerbitannya. Disusul beberapa waktu kemudian, Masmimar Mangiang, sebagai mantan Pemred FOKUS, bergabung ke TEMPO.

Sejak itu, saya kenal dan berteman dengan Masmimar.

Saya menyapanya dengan “Mas Masmimar”. Terasa ribet, karena harus menyebut dua kali kata “Mas”, selanjutnya, saya menyapanya dengan “Bang Mimar’.

Kesan pertama melihat sosoknya, saya langsung teringat seorang aktor film Indonesia terkenal: Bambang Irawan (saat itu, sudah almarhum).

Kenapa? Ya, karena, Masmimar cakep. Kulitnya langsat. Rambutnya ikal, ya, model rambut Bambang Irawan. Gerak-geriknya kalem. Selalu berpenampilan rapi, dengan kekhasan: Baju lengan pendek. Atau, kalau kengan panjang, selalu digulung. Ramah dan menyenangkan. Terlebih, buat saya sebagai perokok. Masminar perokok berat. Sambil mengetik, selalu sambil “ngebul”. Saat itu, di ruang kantor masih sangat bebas untuk merokok. Termasuk di ruang rapat.

Di waktu kemudian, saya berempat bersama (alm) Ed Zulverdi, Jim Supangkat dan Masmimar “bikin Kwartet” Perokok Cangklong.

Waktu berjalan. Dan suatu hari, saya terkejut. Masmimar bilang, ia mau berhenti dari TEMPO. Karena, majalah PRISMA, salahsatu almamaternya, memanggilnya untuk kembali.

Di waktu kemudian, setelah saya, juga, berhenti dari TEMPO, Masmimar, kerap minta saya untuk membuat ilustrasi untuk kulit muka PRISMA.

Waktu, cepat sekali berjalan.

Kembara Masmimar dan saya di dunia penerbitan pers, berpusing. Pertemuan fisik dengan Masmimar menjadi amat langka.

Sampai suatu hari, ia menelpon saya, mengajak saya membantu penanganan perwajahan majalah Ekonomi dan Keuangan yang diterbitkan oleh (alm) Syahrir (Ci’il) saya penuhi ajakannya, hanya sebagai kontributor saja. Tidak berlangsung lama.

Terhenti, antara lain karena, Syahrir berpulang.

Saya dan Masmimar, “berpisah maning”. Cukup lama.

Sampai, pada suatu hari (lagi-lagi) Masmimar menelepon saya. Dan, bilang, bahwa, saat itu, ia sudah “menclok” sebagai Pemimpin Redaksi koran harian ekonomi NERACA.

Saya bertanya, kok, ke koran? Jawabannya: (alm) Pak Zulharmans, mantan Ketua PWI Pusat, pemilik NERACA, yang sedang sakit, mendaulatnya untuk “menggantikan” posisinya sebagai Pemred NERACA. Masmimar menangkap permintaan itu sebagai “Wasiat”. Ia menerimanya.

Sebagaimana biasa, urusan dengan saya: Soal Perwajahan.

Atas inisiatifnya, dan, juga permintaan Pak Abdul Latief (pemilik PASARAYA) yang setelah Pak Zulharmans wafat, ikut mengkontribusi pendanaan NERACA yang konon, saat itu mengalami krisis.

Saya sanggupi ajakan Masmimar, hanya sebagai order pekerjaan berdasar kontrak berjangka waktu.

Selesai, tugas. Selesai kontrak saya dengan NERACA.

Sebelum saya berpamit, Masmimar bilang: Pak Latief ingin membuat dan menerbitkan sebuah majalah Gaya Hidup & Gaya Belanja.

Saya ikuti. Bertemu Pak Latief, dan, sepakat. Saya bekerja di ALatief Corpiration, di divisi baru grup itu. Penerbitan majalah.

Majalah terwujud, Pak Latief memberi nama majalah, praktis saja: BELANJA. Terbit satu bulan sekali.

Sampai edisi ke 13, terjadi Krisis Moneter yang dahsyat. Majalah BELANJA pun, ditutup. Wassalam.

Sejak krisis itu, saya mengetahui, Masmimar lebih aktif di dunia pendidikan, terutama sebagai dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI). Sampai lebih kurang dua tahun lalu, Masmimar, pensiun.

Waktu luangnya makin banyak. Dan, saya melihat, Masmimar, tak lagi punya ambisi untuk bekerja. Ia lebih menampakkan ingin memanfaatkan dan menikmati waktunya untuk getol bersilaturahmi dengan teman-temannya yang sungguh banyak itu.

Masmimar, sebagai orang yang sangat tertib, seperti membuat jadual harian dan mingguan, dengan siapa ia ingin bertemu.
Agendanya, cuma satu: Minum kopi, merokok (Ia kembali merokok setelah lama berhenti. Jantungnya pernah dioperasi). Dan, ngobrol-ngobrol, bercanda. Membongkar kisah-kisah lucu masa lalu yang dialami bersama teman-temannya itu.

Tempat favoritnya: Kedai Tjikini, tempat ngopi di daerah Cikini.

Saya, rupanya masuk dalam jadwal “Ngopi-nya”.

Pertama kali saya hadir di Kedai Tjikini, atas “undangannya”, saya terkejut karena ia ngerokok! Saya tanya: “Lho, kok, Bang Mimar merokok lagi?”

Santai dan sambil terkekeh ia menjawab: “Umur saya udah masuk tujuh puluh. Hitungan, jatah umur saya gak lama lagi. Merokok atau tidak merokok, saya akan mati. Saya gak mau rugi dua kali, gak merokok, mati. Ya, saya pilih merokok aja. Nanti ruginya hanya satu kali, mati”.

Saya tertawa, Masmimar sangat gemar dan fanatik akan humor. Cerita dari saya yang dianggap dan dirasa lucu olehnya, saban ketemu bisa dia minta diceritakan ulang. Berulang. Sampai saya yang punya cerita aja bosan. Tapi, Masmimar, tak pernah berkurang ledakan tawanya.

Sejak itu, secara berkala, saya dan Masmimar, bertemu di Kedai Tjikini.

Sekali pertemuan, mengabiskan waktu, paling sedikit 6 jam. Hanya ketawa-ketawa, mengobral “bual dan bual”.

Selanjutnya, kita pake istilah itu kalo mau ngopi: “Besok, ya, jangan lupa acara perbualan kita”.

Cilaka… Nona Corona tiba.

Menghentikan hajat rutin perbualan saya dengan Masmimar.

Habis idul Fitri saya kirim WA, menuliskan “Mohon Maaf Lahir & Batin”. Dalam balasan, ia menulis, antara lain: “Lebih keras dan lebih khusyuklah kamu berdoanya. Biar si corona itu lekas hengkang!”.

Setelah itu, saya membaca beberapa statusnya “yang agak aneh” di FB.

Disusul WA yang saya terima dari seorang sahabat, Awang Ruswandi, mantan murid dan kolega Masmimar sebagai dosen di Ui, ia menulis: “Bang Mimar sakit………..”

Saya terkesiap. Lekas mengirim Masmimar WA. Tak berbalas.
Hingga, kemarin, Senin, 29 Juni 2020, lepas Magrib, kembali saya terima WA dari rekan Awang: “Bang Mimar, baru saja, jam 18.50, telah meninggalkan kita”.

Saya tercenung…

Innalillahi wainnaillaihi raji’un.
Selamat Jalan Sahabat.
Selamat Jalan Orang baik.

*Tatang Ramadhan Bauqie, jurnalis senior dan pelukis, tinggal di Bandung.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close