Opini

Selamat Datang Norma Kehidupan Baru di Era Covid19

Oleh: Dr. Adji Setijoprodjo M.Si

Norma Kehidupan Baru?

Hanya tinggal menunggu waktu beberapa saat lagi, secara pelan-pelan Indonesia menerapkan norma kehidupan baru. New norm. Norma baru yang dinilai merupakan cara tepat dan aman untuk tetap hidup normal, di tengah keberadaan virus Covid19 di antara kita.Jadi kebiasaan lama masyarakat untuk berkegiatan sosial, budaya, keagamaan, ekonomi, di tempat kerja, di perjalanan, di pasar, di sekolah, di pelabuhan pendaratan ikan, di lahan pertanian dan sebagainya bisa dilakukan seperti biasa lagi. Hanya saja, ada kebiasaan baru yang sudah dilakukan warga, sejak saat covid19 mewabah di Indonesia, yaitu protokol kesehatan untuk mencegah penularan pada orang lain, akan tetap di lanjutkan penerapannya. Mayoritas masyarakat Indonesia sejak covid19 mewabah, sudah menerapkan protokol kesehatan memakai masker, cuci tangan pakai sabun, jaga jarak dengan orang lain di tempat ramai, jauhi kerumunan, membersihkan rumah, tempat ibadah dan fasilitas umum dengan disinfektan, dan sebagainya.  Masih sesuai dengan protokol kesehatan, bagi yang diduga tertular covid19, akan dilakukan test PCR. Bila, ada kepastian tertular, maka yang bersangkutan akan dirawat, diisolasi, selama 14 hari. Sampai sembuh. Isolasi bisa dilakukan secara mandiri, atau di rumah sakit.

Mengapa norma kehidupan baru diperlukan?

Karena pada saat Covid19 mewabah, di berbagai daerah, kehidupan social, ekonomi, budaya, dan sebagainya, berkurang drastis. Tidak berhenti total. Akan berlangsung berapa lama? Secepatnya, pada saat tingkat kesembuhan penderita positif covid19, meningkat signifikan. Tingkat kematian zero. Kasus positif covid19 juga menurun tajam. Sehingga ruang perawatan penderita positif covid19 di rumah sakit, berangsur kosong. Maka kehidupan ekonomi, pendidikan, pertanian, pedagangan, pariwisata, nelayan, dan sebagainya, harus kembali dilakukan oleh masyarakat, dengan fasilitasi pemerintah. Bahkan, hubungan negara dan masyarakat Indonesia dengan masyarakat internasional, perlu dipulihkan. Tentu dengan tetap menggunakan protokol kesehatan.

Beberapa tahun yang lalu ada slogan hidup harmoni dengan HIV-AIDS. Kearifan global yang melahirkan slogan hidup harmoni dengan HIV-AIDS ini tidak muncul begitu saja. Slogan tersebut lahir setelah melewati masa yang penuh pro-kontra tentang ancaman virus HIV AIDS di bidang sosial, ekonomi, budaya, dsb. Virus HIV AIDS ditemukan di Congo tahun 1976. Kemudian mewabah secara pandemic ke seluruh dunia. Virus HIV-AIDS, menewaskan 36 juta orang. 31 juta diantaranya hidup dengan AIDS, termasuk di Indonesia (1). Mirip kasus virus Covid19, virus HIV AIDS di Indonesia juga menyebar di seluruh propinsi. Kementerian Kesehatan RI pun mencanangkan upaya pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS yang bertujuan untuk mewujudkan target Three Zero pada 2030. Yaitu: 1) Tidak ada lagi penularan infeksi baru HIV, 2) Tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan 3) Tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV AIDS (ODHA)(2)

Jadi, sudah sepatutnya lah, kalau prakarsa Hidup Harmoni Dengan COVID19, yang nge-top dengan istilah Norma Kehidupan Baru kita sikapi dengan menjalankannya sesebaik mungkin.

Sulitkah norma kehidupan baru dipraktekkan?

Bagaimana prospekpraktek norma baru untuk hidup harmoni dengan virus Covid19? Rasa-rasanya bukan perkara yang sulit untuk dipraktekkan. Sejak Maret 2020 yang lalu, arus edukasi dan praktek tentang protokol kesehatan menghadapi covid19 deras mengalir ditengah-tengah warga. Beragam informasi tentang bagaimana cara menggunakan masker, mencuci tangan pakai sabun, dsb mudah dijumpai di mana-mana. Info resmi dari Gugus Tugas Penanggulangan Wabah Covid19 tersebut bisa di baca di banner yang dipasang di pinggir jalan, di kantor desa, di pasar, di tayangkan di layar TV, viral di medsos, dan sebagainya. Jadi informasi tentang protokol kesehatan yang harus dipergunakan bila sedang di rumah, di luar rumah, di fasilitas umum dan sebagainya, selalu hadir disekeliling kita. Sehingga setiap orang akan mendapatkan akses informasi yang dibutuhkan untuk menjalankan protokol kesehatan dengan baik dan benar. Dalam norma baru, tentu akan lebih banyak protokol kesehatan yang disusun, disesuaikan dengan sektor kegiatan yang ada. Kurang lebih, tujuannya adalah agar masyarakat tetap bisa menjalankan aktifitas sosial, ekonomi, keagamaan, budaya dan sebagainya dengan aman dan nyaman ditengah-tengah keberadaan Corona virus 2019. Protokol kesehatan cegah penularan Covid19 diterapkan oleh warga disemua fasilitas umum dan rumah pribadi. Di pasar tradisional, misalnya, sebelumnya jarang dilakukan penjual dan pembeli memakai masker. Kemudian, secara acak diperiksa suhu badan penjual dan pembeli oleh petugas kesehatan. Protokol kesehatan yang lain: cuci tangan pakai sabun, tetap jaga jarak dengan orang lain, dan tidak menggunakan uang kertas atau logam untuk pembayaran, dan sebagainya. Pelan-pelan kebiasaan tersebut tentu akan bisa kita lakukan. Di awal memang belum terbiasa. Masih ada warga masyarakat yang belum mengikuti protokol kesehatan dengan baik. Namun berangsur-angsur masyarakat mengikuti dengan patuh protokol kesehatan tersebut. Ada pengawasan melekat oleh masyarakat sendiri kepada warga yang abai terhadap pelaksanaan protokol kesehatan. Bahkan ada inovasi baru untuk menyempurnakan pelaksanaan protokol kesehatan. Agar tujuan yang diharapkan, bisa tercapai dengan hasil maksimal. Misalnya pembayaran atas pembelian sesuatu tidak lagi menggunakan uang kertas atau logam (coin). Menggunakan e-money. Karena uang kertas dan logam dianggap bisa menjadi media penularan virus. Virus apa saja. Termasuk virus Covid19. Diperkirakan, kegiatan hidup sehari-hari dengan praktek norma kehidupan baruakan berlangsung dengan baik. Seperti biasa. Perilaku hidup yang dilakukan lebih berorientasi padabersama menjaga kesehatan. Sehingga ancaman penyakit apa pun, termasuk ancaman virus Covid19, bisa dikelola. Selama vaksin covid19 masih dalam proses penemuan, maka hidup harmoni dengan covid19 menjadi solusi yang tepat. Kita tetap berperilaku hidup sehat, walau pun bersama kita, ada dan hidup virus-virus yang berbahaya bagi kesehatan. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam norma baru tetapdilakukan walau vaksin anti Covid19 sudah ditemukan. Harus diakui bahwa PHBS sudah lama dibuatkan kebijakannya. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 65 Tahun 2013,Tentang Pedoman Pelaksanaan Dan Pembinaan Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan. Dalam Permenkes 65 tahun 2013disebutkan pengertian PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat(3)

Konsisten Melaksanakan Norma Kehidupan Baru.

Soal melupakan kisah pilu mau pun suka cita masa lalu, itu sifat asli manusia. Termasuk kita, para WNI. Saya yakin, Allah Tuhan YMK sengaja memberi karunia feature lupa di dalam diri manusia. Agar memori otak dan hatinya, tidak dipenuhi dengan kisah sedih tak terlupakan. Apalagi tak terhapuskan. Kalau manusia tidak ada feature lupa,memori sedih dan pilu akan bertumpuk permanen. Bertambah tiap hari. Dan akan selalu muncul tanpa henti silih berganti. Akibatnya, manusia akan selalu bersedih hati. File memori kesedihan dirinya akan mendominasikehidupan manusia. Kehidupan sulit move on dari masa lalu. Terjebak kenangan masa lalu yang pilu dan tiada habisnya. Dalam batas kemampuan menahan rasa sedih dan pilu itu, tidak sedikit orang yang akan menjadikan Tuhan sebagai sasaran kekecewaan. Maaf, itu semua hanya illustrasi imajiner penulis, apa yang akan terjadi pada diri manusia bila Tuhan tidak memberikan feature lupa. Saat ini saja, saat feature lupa sudah di-install Tuhan dalam diri manusia, banyak orang yang menuduh Tuhan tidak adil pada diri mereka. Mengapa? Karena musibah/bencana yang terjadi, diletakkan dalam konteks yang tidak adil oleh manusia. Padahalfenomena alam, yang sebagian dampaknya bisa menimbulkan bencana bagi lingkungan, bisa dipelajari oleh umat manusia. Sehingga langkah-langkah mitigasi sudah bisa dilakukan mendahului terjadinya fenomena alam tersebut. Betul, ada dampak fenomena alam tersebut yang bisa merusak alam. Termasuk manusia  serta makhluk hidup di dalamnya. Seperti letusan gunung api.  Namun manusia bisa mengelola risikonya. Sehingga jumlah korban bisa dibuat sesedikit mungkin.

Thema yang diajukan dalam tulisan ini, adalah hidup normal secara harmoni bersama dengan bencana. Dalam hal ini adalah Covid19. Apa itu bencana? Siklus bencana mengikuti sebuah pakem. Baik pakem yang sifatnya alamiah, non alamiah maupun social. Ada bencana yang terjadi akibat ulahtangan manusia (man made disaster). Bencana yang lain terjadi karena diakibatkan oleh proses alam (natural disaster).  Undang-Undang RI nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana memberikan penjelasan tentang definisi dan jenis-jenis bencana. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam. Bencana alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan terror (UURI 24/2007 Bab I, Pasal1). Wabah pandemic Covid19 berada dalam kategori Bencana Non Alam.

Sebelum wabah pandemic Covid 19 melanda berbagai Negara di dunia, termasuk Indonesia,  warga dunia sudah berulang kali menghadapi wabah penyakit yang mematikan.

NO

WABAH PENYAKIT

TAHUN TERJADI

AKIBAT

1

HIV AIDS.

Ditemukan di Congo. Menye-bar ke seluruh dunia.

1976.

 

Sejak 1981, 36 juta meninggal dunia.

31 juta hidup dengan HIV AIDS.

2

Flu Hongkong.

3 bln serang Singapore , Vietnam, Philippines, India, Australia, US.

13 Juli 1968

1 juta orang meninggal dunia. Setengah-nya warga Hongkong.

3

Flu Asia, China.

1956-1958

2 juta orang meninggal dunia. 70 ribu orang meninggal di US.

4

Influenza.

1/3 penduduk dunia terinfeksi

1918-1920

20 – 50 juta orang meninggal dunia.

5

Kolera

Mulai dari India

1910-1911

Di US

800,000 orang meninggal dunia

6

Flu Rusia

1889-1890

1 juta orang meninggal dunia

7

Kolera

India, Eropa, Afrika, US

1852-1860

1 juta orang meninggal dunia

8

The Black Death/penyakit pes.

Asia, Afrika, Eropa.Berasal dari kutu di tikus,

1346-1353

25 juta orang meninggal dunia

9

Wabah Justinian.

Kekaisaran Bizantium Mediteranian

541-542

25 juta orang meninggal dunia

10

Wabah Antonine

165

5 juta orang meninggal dunia

 

 

 

 

Sumber: (4)

5 bencana dahsyat yang terjadi di Indonesia.

NO

BENCANA

TAHUN TERJADI

AKIBAT

1

Gempa dan tsunami di Aceh, 9,3 skala Richter. Terjadi juga di Malaysia, India, Srilanka

26 Desember 2004

225 ribu orang meninggal dunia.

2

Letusan Gn. Kelud di Kediri, Jawa Timur

19 Mei 1919

5,115 orang meninggal dunia.

3

Letusan Gn. Krakatau

26-27 Agustus 1883

36 ribu orang meninggal dunia.

4

Letusan Gn. Tambora dan tsunami.

April 1815

71 ribu orang meninggal dunia

5

Letusan Toba

77 ribu tahun yang lalu

Tidak ada informasi jumlah penduduk yang meninggal dunia.

Sumber: (5)

Apa Syarat Norma Kehidupan Baru Bisa Dimulai?

Dalam buku WHO: COVID19 strategy up date 14 April 2020, disampaikan perubahan status transisi menuju kondisi yang stabil terkendali atau di tingkat tidak adanya penularan. Negara yang akan menerapkan konsep new normal harus memiliki bukti bahwa penularan Covid-19 di wilayahnya telah bisa dikendalikan. Ke-6 kondisi penting yang harus dicapai untuk memungkinkan suatu negara yang sebelumnya memiliki kasus tertular covid19, masuk ke tahap penerapan new norm adalah:

  1. Sufficient health system on public health capacities are in place: detection, testing, isolation, quarantine. Sistem kesehatan yang ada sudah mampu melakukan identifikasi, isolasi, pengujian, pelacakan kontak, hingga melakukan karantina orang yang terinfeksi. Sistem kesehatan ini mencakup rumah sakit hingga peralatan medis
  2. Outbreak risks in high vulnerability settings are minimized.Risiko wabah virus corona harus ditekan untuk wilayah atau tempat dengan kerentanan yang tinggi.
  3. Workplace preventive measures are established to reduce risk. Penetapan langkah-langkah pencegahan risiko di lingkungan kerja diberlakukan,
  4. Risk of imported cases managed thru an analysis of likely origin……etc.Risiko terhadap kasus dari pembawa virus yang masuk ke suatu wilayah harus bisa dikendalikan.
  5. Communities are fully engaged and understand the transition entails a majorshift……etc.Masyarakat harus diberikan kesempatan untuk memberi masukan, berpendapat dan dilibatkan dalam proses masa transisi menuju new norm.(6)

Apa Tantangan Norma Kehidupan Baru?

Dari aspek pelaksanaan norma kehidupan baru, tampaknya tidak ada hal krusial yang perlu diantisipasi. Seluruh warga Negara Indonesia yang wilayahnya pernah di PSBB, pernah di PKM, dan pernah ada tetangga, atau warga daerahnya terbukti positif terinfeksi Covid19, sudah faham bagaimana sikap yang harus dilakukan. Mereka harus menjalankan seluruh protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya.

Apa tantangan yang potensial akan dihadapi agar pelaksanaan norma kehidupan baru sukses?

  1. Kompak melawan Covid19 saat ini, dilupakan. Di depan sudah dikemukakan perilaku mudah melupakan hal pilu di masa lalu oleh kebanyakan warga Indonesia. Ingat bencana gempa bumi yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia? Saat itu, warga korban bencana alam di latih oleh BPBD, lembaga penggiat pengurangan risiko bencana, dan sebagainya, untuk menghadapi risiko bencana bila terjadi lagi. Rambu-rambu dipasang menuju tempat evakuasi. Simulasi atau latihan dibuat dengan melibatkan semua warga dan aparat pemerintah, baik di tingkat desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten dan propinsi. Tujuannya? Agar kalau bencana terjadi, apa pun jenis bencananya, simulasi akan disesuaikan, maka semua warga dan aparat pemerintah sudah menyiapkan diri. Terlatih. Pertanyaannya? Apakah pelatihan, simulasi atau drill menghadapi risiko bencana itu masih terus dilaksanakan? Dilaksanakan secara berkala sampai sekarang? Apakah dalam merencanakan anggaran desa, dimasukkan budget kegiatan simulasi menghadapi risiko bencana? Apa yang terjadi dengan kebiasaan yang dilakukan saat wabah covid19 terjadi saat ini? Respons dan kekompakan warga dan pemerintah serta pihak swasta sangat baik. Kita ingin kerjasama yang sangat baik ini tidak dilupakan. Tetap diteruskan.
  2. Budget pengadaan sarana pendukung pelaksanaan protocol kesehatan tidak ada. Untuk suksesnya pelaksanaan norma kehidupan baru, sarana pelaksanaan protokol kesehatan perlu disediakan, baik dari budget negara, maupun budget sendiri.Lembaga seperti: keluarga, pendidikan, perdagangan, pariwisata, transportasi, dan sebagainya, perlu menganggarkan pengadaan sarana PHBS tersebut. Sehingga proses pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat, bisa secara utuh di fasilitasi konsistensi pelaksanaannya.
  3. Koordinasi antar lembaga pemerintah, swasta dan swadaya masyarakat, melemah. Saat ini semua lembaga pemerintah, swasta, swadaya masyarakat termasuk keluarga sangat kuat. Seluruh keputusan pemerintah pusat maupun gugus tugas penanggulangan covid19 dilaksanakan oleh pemerintah di tingkat desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota dan propinsi dengan baik. Saat pelaksanaan norma kehidupan baru, maka koordinasi yang bagus tersebut seharusnya tetap berfungsi dengan baik.
  4. Inisiatif baru dan kreatifitas dalam pelayanan public, kurang ditumbuh kembangkan. Saat ini, masyarakat dan pemerintah mengerahkan daya kreatifitas dan insiatif mereka untuk menghasilkan inisiatif terobosandi bidang pelayanan publik, perdagangan, produksi, pariwisata, pendidikan, kesehatan, pertanian dan sebagainya. Mereka diberi ruang untuk berkembang. Sehingga efisiensi serta efektifitas pelayanan, distribusi dan produksi barang-barang konsumsi di tengah keterbatasan tetap bisa dilakukan. Pada norma baru, iklim berinovasi dan berkreasi untuk bidang apa pun diharapkan terus dikembangkan.

Sepenuh optimisme, masyarakat difasilitasi pemerintah, akan mendapatkan pelajaran berharga dari pelaksanaan norma kehidupan baru. Perjalanan sejarah peradaban bangsa Indonesia akan memasuki tahapan yang lebih baik. Tata aturan yang diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan akan membuat hidup menjadi lebih aman dan nyaman. Karena pelaksanaan protokol kesehatan akan menjadi payung di atas semua kegiatan apa pun. Peradaban baru yang terbentuk tersebut akan memastikan semua pihak akan menjaga keselamatan dan kesehatan diri sendiri, keselamatan dan kesehatan orang lain, serta keselamatan serta kesehatan bangsa nya.

  1. com dari MPH online, Minggu, 15/3/2020.
  2. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media /20181201/ 5028759/28759/.
  3. https://www.academia.edu /11179975/ Permenkes_Nomor_65_ Tahun _ 2013_Tentang _Pedoman_ Pelaksanaan _Dan_Pembinaan_Pemberdayaan_ Masyarakat _Bidang_ Kesehatan.
  4. https://www.suara.com/news/2020/03/12/205713/virus-corona-jadi-pandemi-ini-10-pandemi -paling-mematikan-di-dunia
  5. https://www.boombastis.com/bencana-terdahsyat-indonesia/62629
  6. https://www.npr.org/sections/goatsandsoda/2020/04/15/834021103/who-sets-6-conditions-for-ending-a-coronavirus-lockdown

Jimbaran, Badung, Bali, 6 Juni 2020.

Adji Setijoprojo, Alumni S-1 IAIN SUKA Yogya, S-2 FISIP UI, dan S-3 MP UNJ.

Pernah mondok di Ponpes Krapyak, Bantul (1970-1974).

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close