Selain Jakarta, Manila dan Melbourne Lockdown Lagi karena Covid

Selain Jakarta, Manila dan Melbourne Lockdown Lagi karena Covid
Jakarta sepi

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, kembali menerapkan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara total sebagai langkah rem darurat terkait penanggulangan pandemi virus corona (Covid-19) selama dua pekan mulai 14 September.

"Maka dengan melihat kedaruratan ini tak ada pilihan lain bagi Jakarta kecuali menarik rem darurat," kata Anies dalam konferensi pers yang disiarkan melalui saluran YouTube, Rabu (8/9).

Keputusan ini diambil saat Jakarta memiliki 11.030 kasus aktif atau pasien positif Covid-19 yang dirawat dan isolasi sampai Selasa (8/9). Persentase kasus positif Covid-19 dalam sepekan terakhir sebesar 13,2 persen.

Kasus positif Covid-19 di Ibu Kota mayoritas berasal dari klaster perkantoran. Hal ini tak terlepas dengan kebijakan pelonggaran aktivitas masyarakat yang diambil Anies dalam PSBB transisi fase satu.

Dilansir CNNIndonesia, selain kasus positif yang terus melonjak, DKI kini mulai kekurangan lahan khusus pemakaman pasien Covid-19. Saat ini, Pemprov DKI tengah menambah luas lahan untuk pemakaman jenazah dengan protokol Covid-19 di TPU Pondok Ranggon yang hanya menyisakan sekitar 1.100 lubang.

Selain Jakarta, sejumlah negara juga memberlakukan kembali penguncian wilayah (lockdown) kota yang mengalami lonjakan kasus Covid-19. Sebut saja Australia yang kembali mengunci kota Melbourne, Selandia Baru yang menutup kota Auckland, dan Filipina yang mengunci Manila.

Filipina

Pada 4 Agustus, Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, kembali menerapkan lockdown di sebagian ibu kota Manila, menyusul adanya lonjakan kasus virus corona.

Ia menyadari bahwa fasilitas dan petugas kesehatan Manila terancam tumbang menyusul lonjakan kasus baru secara terus-menerus.

Kebijakan lockdown diterapkan setelah Duterte menyetujui rekomendasi satuan tugas penanganan corona yang menganjurkan lockdown Manila dan wilayah sekitarnya hingga 18 Agustus.

Gagasan penerapan lockdown muncul setelah 80 asosiasi medis yang mewakili puluhan ribu dokter menyatakan Filipina telah kalah dalam pertarungan melawan Covid-19.

Meski demikian, Duterte mengatakan lockdown saat itu tidak seketat kebijakan serupa yang diberlakukan sebelumnya. Warga Metro Manila hanya diperbolehkan keluar rumah untuk membeli makanan, kebutuhan pokok, dan bekerja bagi mereka yang tidak bisa melakukan pekerjaan dari rumah.

Filipina menjadi negara di Asia Tenggara dengan kasus corona tertinggi yakni mencapai 48.947, sekitar 4.066 meninggal, dan 186.058 telah sembuh.

Australia

ada 7 Juli, pemerintah negara bagian Victoria, Australia kembali memberlakukan lockdown selama enam pekan untuk mengendalikan kasus virus corona yang melonjak di kota Melbourne.

Perdana Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, mengumumkan perbatasan antara Victoria dan New South Wales (NSW), dua negara bagian terpadat di Australia akan ditutup untuk pertama kalinya sejak terjadi pandemi.

Selama lockdown, pemerintah menutup sebagian besar bisnis ritel dan manufaktur di Melbourne. Personel militer dan polisi pun dikerahkan untuk menjaga perbatasan dan memastikan warga tetap tinggal di rumah selama masa isolasi.

Hingga saat ini, kasus Covid-19 di Australia sebanyak 26.564, dengan 797 kematian, dan 23.039 dinyatakan sembuh. (Jo)