Nasional

Sekjen Liga Muslim: Radikalisme Akibat Pendidikan Agama yang Salah

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Setelah mendapat gelar doktor honoris causa (HC) di bidang peradaban Islam dan kemanusiaan, Sekjen Liga Muslim Dunia (Rabithah Alam Islamy) Syekh Muhammad Abdul Karim Al-Isa, bicara pada seminar nasional ‘Beragama yang Harmonis dan Konstrukti yang Menguatkan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara’ di MPR RI.

Dunia sekarang dihadapkan pada kelompok masyarakat yang merasa memiliki kebenaran mutlak. Seolah-olah mereka memonopoli kebenaran diantara berbagai perbedaan. Termasuk perbedaan agama, etnis, dan lain-lain, sehingga melahirkan sikap ekstrimisme, radikalisme, dan terorisme.

“Kita mesti tanya pada diri sendiri bagaimana beragama yang benar, yaitu adanya keharmonisan dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Karenanya kita harus mengukuhkan dan mendidik cara berpikir pada anak-anak agar mereka mempunyai kemampuan berpikir yang moderat bahwa perbedaan itu suatu keniscayaan dan sunnatulah,” tegas Abdul Karim di Kompleks MPR RI Senayan Jakarta, Kamis (27/2/2020).

Seminar dibuka oleh Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, dan dihadiri wakil ketua MPR RI H. Jazilul Fawaid, Ahmad Muzni, Syarief Hasan, Hidayat Nur Wahid, tokoh lintas agama, dan para mahasiswa dari berbagai universitas di Jakarta.

Selanjutnya, kata Abdul Karim masalah ekstrimisme tersebut bukan saja dihadapi oleh suatu negara, tapi dunia. Karena itu, solusinya harus ada dialog antar umat beragama dengan mengedepankan keharmonisan, kemanusiaan, dan kedamaian bersama-sama.

“Kita semua harus sadar akan tanggungjawabnya untuk kemamusiaan. Bahwa kita semua sama-sama manusia dan harus berusaha bersama-sama untuk menyelesaikan berbagai persoalan perbedaan tersebut untuk menegakkan kemanusiaan dengan membangun peradaban dan kedamaian dunia. Bahwa radikalisme itu berangkat dari pendidikan dan pemahaman yang salah pada agama, kareannya kita harus belajar pada ahlinya, pada ulama yang benar-benar memahami ajaran Islam,” ungkapnya.

Menurut Abdul Karim, itu penting mengingat ada kelompok-kelompok kecil yang akan menghancurkan nilai-nilai kemansuiaan tersebut. Karena itu untuk menghadapi radikalisme itu, harus dimulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, ormas dam lain-lain.

“Dan, yang paling efektif untuk menciptakan keharmonisan, kedamaian dan menegakkan kemanusiaan itu adalah melalui sebuah UU,” pungkasnya. (WS)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close