Sejuknya Beragama

Sejuknya Beragama
Butet Kartaredjasa

Oleh: Butet Kartaredjasa

KEMARIN sejumlah seniman Yogyakarta diundang Pak Al Makin, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, untuk silaturahmi dan reriungan. Sebuah peristiwa yang langka. Pak Rektor  bilang “Mungkin ini pertama kali terjadi di UIN SUKA.” 

Kampus perguruan tinggi Islam ini kemarin mendadak dihangati peristiwa seni: ada yang nyanyi-nyanyi juga pada melukis on the spot. Bahkan Pak Rektor UIN pun juga ikutan melukis bareng pelukis-pelukis Yogya: Djoko Pekik, Ivan Sagita, Hari Budiono, Anusapati, Nasirun, Jumaldi Alfi, Totok Buchori, Bambang Herras, Yuswantoro Adi, Kuss Indarto, Agus Burhan (Rektor  ISI), Gatot Eka Cahyono, Benkbenk dan lainnya.

Saya pun turut hadir memenuhi undangan ini, karena akan merasakan sejuknya beragama, setelah belakangan kita sering diteror kecemasan dan ketakutan jika bersinggungan dengan agama. 

Sungguh melegakan, gagasan Rektor UIN ini sepertinya ingin menegaskan bahwa agama dengan kesenian itu tidak berseberangan. Bukan saling curiga. Bukan dua pihak yang ngebet ingin saling mematikan. Tapi, agama dan kesenian itu bener-bener bisa dirasakan sebagai persekutuan yang saling menghidupi. Asyik banget. Sejuk pol.

Lebih mengesankan lagi, justru di kesempatan kemarin itu pematung kontemporer yang juga staf pengajar Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonedia (FSRD ISI) Yogyakarta, Ninus Anusapati,
secara on the spot mejadikan saya sebagai obyek drawingnya. Sebuah peristiwa yang bener-bener langka. Saya merelakan diri diam mematung dan direkam Ninus melalui goresan-goresannya yang luar biasa.

Terima kasih Pak Rektor.
Terima kasih Sobat Ninus.

*Butet Kartaredjasa, seniman, tinggal dan berkarya di Yogyakarta.