OpiniPolitikTerorisme

Segera Tunjuk Panglima Perang Melawan Radikalisme

Oleh: Surya Fermana, Pemerhati Sosial Politik)

Presiden Joko Widodo menyatakan perang melawan radikalisme selepas menjenguk Menkopolhukam Jenderal TNI (Purn) Wiranto di RSPAD. Wiranto mengalami luka tusuk di perut bawah ketika kunjungan ke Pandeglang Banten meresmikan gedung baru Universitas Mathlaul Anwar. Pelaku penusukan adalah pasangan suami istri yang terpapar radikalisme dan berujung tindakan terorisme.

Peristiwa penusukan Wiranto adalah puncak gunung api yang di bawahnya tersimpan magma yang sewaktu-waktu dapat meletus sangat besar. Kembali pada pernyataan Presiden maka perangnya harus jelas siapa pemimpinnya dan apa strateginya? Jaringan radikal sudah menguasai simpul logistik di Kementerian dan BUMN. Dakwah mereka berkembang pesat di kementerian dan BUMN sehingga memudahkan mereka melakukan infiltrasi ideologi ke wilayah kaum moderat hingga ke pelosok negeri.

Dakwah mereka makin dikuatkan dengan sekolah-sekolah yang mereka dirikan beserta modul pengajaran yang sudah disiapkan. Penguasaan Kampus tentu juga menjadi target. Mereka juga menguasai sarana komunikasi channel TV dan pasukan cyber yang selalu siaga melakukan framing atas tindakan yang mereka lakukan. Framing terbalik dari apa yang dinyatakan pemerintah.

Pembubaran HTI melalui Perppu Ormas hanya menghancurkan casing mereka yang segera berubah bentuk dengan berbagai wajah namun substansi tetap gerakan mengganti ideologi negara. Perlawanan kepada gerakan radikal bukan lagi dengan cara penegakan hukum tapi perang! PERANG RAKYAT SEMESTA MELAWAN RADIKALISME.

Seluruh kekuatan negara diaktifkan terlibat. TNI tidak lagi bersifat pasif membantu polisi tetapi aktif bergerak. Sesungguhnya UU kita sudah tidak lagi mampu mewadahi konsep perang tidak konvensional (Unconventional Warfare). Perang konvensional dalam tinjauan intelijen strategis sudah hampir tidak ada lagi di belahan dunia ini. Perang proxy menggunakan pihak ketiga guna menghancurkan suatu negara itu yang terjadi di berbagai belahan dunia. Proxy war bekerja melaului infiltrasi ideologi, ekonomi, pengorganisasian pemberontak dan bantuan persenjataan.

Lebih mutakhir bantuan perang cyber. Diperlukan seorang Panglima Perang semesta melawan radikalisme untuk mengkonsolidasikan semua kekuatan bangsa. TNI, Polri, Ahli cyber, ahli keuangan dan terutama dukungan masyarakat. Langkah awal segera bersihkan orang-orang yang masuk gerakan radikal dan mereka yang terpapar. Bersihkan dunia pendidikan dari pengajar dan kurikulum radikal. Rebut kembali tempat ibadah yang dikuasai kaum radikal. Blokir semua channel tv, youtube, portal berita dan akun medsos milik kaum radikal. Kemo-therapy harus dilakukan karena jejaring kanker radikal sudah menuju otak NKRI. Tabik!


 

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close