Sederet Teori Konspirasi Soal Ledakan di Lebanon, di Antaranya Bom Nuklir

Sederet Teori Konspirasi Soal Ledakan di Lebanon, di Antaranya Bom Nuklir

BEIRUT, SENAYANPOST.com – Laporan-laporan tentang ledakan dahsyat di pelabuhan Beirut, Lebanon, menyebar dengan cepat di sosial media beberapa saat usai kejadian.

Di saat banyak video yang tampak asli difilmkan oleh warga tersebar, klaim dan narasi palsu “hoaks” tentang penyebab ledakan juga menyebar dengan cepat di platform sosial media, seperti Twitter dan WhatsApp.

Jadi, kesalahan informasi apa yang menyebar secara viral di sosial media?

Dari kembang api hingga bom nuklir

Dilansir BBC News Indonesia, klaim-klaim tentang penyebab ledakan menyebar dan viral di Twitter. Spekulasi yang muncul adalah ledakan tersebut akibat dari terbakarnya sebuah pabrik kembang api.

Asumsi itu muncul karena, berdasarkan video yang beredar di sosial media, adanya sebuah ledakan yang lebih kecil yang diikuti kebakaran sebelum terjadi ledakan besar.

Klaim tentang kembang api tampaknya masuk akal pada saat itu, tetapi twit-twit viral lainnya menyatakan alasan lain, yaitu ledakan itu akibat dari bom nuklir karena tercipta awan besar seperti jamur putih yang membumbung tinggi di dalam rekaman.

Twit yang kini telah dihapus itu menyebut bencana itu sebagai akibat dari ledakan “atomik”. Twit yang menghasilkan ribuan shares dan likesitu dibagikan oleh pemilik akun yang telah terverifikasi oleh Twitter dan memiliki lebih dari 100 ribu pengikut.

Sebuah komentar di Twitter menyebut ledakan yang memunculkan awan berbentuk jamur di Beirut akibat dari bom atom. Kami melabeli twit itu sebagai informasi

Para ahli senjata dan bom dengan cepat merespon klaim tersebut dengan mengatakan bahwa jika ledakan itu disebabkan oleh bom nuklir, maka akan disertai dengan kilatan cahaya putih yang menyilaukan dan gelombang panas yang membakar banyak orang.

Juga, awan jamur tidak selalu muncul akibat dari bom nuklir. Menurut para ahli, awan tersebut muncul akibat dari hasil kompresi udara lembab, yang mengembunkan air dan menciptakan awan.

‘Serangan bom atau rudal’

Klaim yang tidak berdasar terus menyebar dan viral. Salah satunya adalah menuduh Amerika Serikat, Israel atau Hizbullah sebagai aktor yang meledakan “bom nuklir”. Klaim ini dibagikan oleh situs berita partisan dan publik figur.

Teori konspirasi yang dipromosikan oleh kelompok sayap kanan ini juga telah dibagikan di platform seperti Facebook, 4chan, Reddit dan aplikasi komunikasi seperti Telegram, menurut penelitian dari Institute for Strategic Dialogue.

Pesan-pesan tersebut memiliki fokus utama pada klaim palsu bahwa ledakan ini akibat dari serangan Israel, baik bom atau serangan rudal pada gudang senjata milik Hizbullah.

Tampilan sebuah klaim palsu yang menyebut bahwa serangan roket sebagai penyebab ledakan di Beirut – dengan asumsi bahwa targetnya adalah fasilitas senjata milik Hezbollah.

Klaim palsu menyebar secara darling menyebut serangan roket sebagai penyebab ledakan di Beirut. (BBC)

Chloe Colliver, dari Institute for Strategic Dialogue, mengatakan kepada BBC News: “Kami telah mengetahui sumber disinformasi itu, termasuk jaringan online ekstrimis sayap kanan, yang menyebarkan klaim tidak berdasar tentang sifat dan motivasi di balik ledakan itu.

“Ini termasuk teori yang mencoba mengaitkan ledakan itu dengan Israel atau negara bangsa lain.”

Pihak berwenang di Lebanon dan Israel telah menepis tuduhan bahwa Israel memiliki hubungan dengan insiden tersebut.

Para ahli teori konspirasi sayap kanan, termasuk pendukung QAnon, juga telah mulai menyebarkan klaim palsu tentang ledakan itu di Facebook. Mereka meyakini bahwa serangan itu terkait dengan “perang antara pemerintah dan sistem perbankan sentral”.

Qanon, teori konspirasi yang meluas dan tidak berdasar, mengatakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang melancarkan perang rahasia melawan elit pedofil pemuja setan di pemerintahan, bisnis dan media.

Narasi hoax ke PM Israel

Foto-foto Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat berpidato di Majelis Umum PBB pada 2018 diunggah di media sosial. Dalam foto itu Netanyahu terlihat sedang menunjuk dengan tangan ke peta lokasi ledakan.

Beberapa pengguna media sosial menggunakan gambar-gambar itu sebagai “bukti” bahwa Israel memiliki andil dalam ledakan itu.

Gambar-gambar itu asli dan tidak dimanipulasi, tetapi telah digunakan di luar konteks.

Netanyahu sebenarnya menunjuk ke distrik yang sama sekali berbeda di kota Beirut, di mana ia mengklaim Hizbullah menyembunyikan senjata.

Lokasi ledakan berada beberapa kilometer di utara dari “Situs 1” di peta Netanyahu.

Komentar Trump

Rumor tentang kemungkinan adanya serangan susulan menyebar setelah Presiden Trump menggambarkan peristiwa itu sebagai “serangan mengerikan” pada konferensi pers Gedung Putih.

Lembaga penelitian the Institute for Strategic Dialogue telah mengidentifikasi bahwa komentarnya dibagikan dan diedit oleh kelompok sayap kanan di media sosial dengan mengatakan bahwa ledakan itu akibat dari serangan teror atau bom.

Satu tulisan di Telegram mengklaim bahwa Trump mengatakan “ledakan itu seperti sebuah serangan teroris yang mengerikan”. Sebenarnya, Trump mengatakan bahwa ledakan itu tampak seperti “serangan yang mengerikan”.

“Kami juga telah melihat klaim yang dibangun dari pernyataan Presiden Trump tentang ledakan itu sebagai sebuah ‘serangan’, yang mana telah menyediakan bahan bakar bagi komunitas konspirasi dan disinformasi selama 24 jam terakhir. Ini menunjukkan risiko dari bahasa yang tidak akurat dan komunikasi selama masa krisis,” kata Colliver.

Unggahan lain di media sosial membuat klaim tidak berdasar bahwa komentar Trump adalah bukti bahwa AS telah diperingati sebelumnya tentang ledakan tersebut.

Penjelasan di atas merupakan pengingat penting bahwa kejadian-kejadian terkini adalah saat yang subur untuk menyebarkan informasi dan spekulasi yang salah secara online.

Jadi, pikirkan baik-baik sebelum Anda berbagi informasi di sosial media.