Sebabkan Ledakan Besar di Beirut, Ini Perusahan Pembeli Amonium Nitrat

Sebabkan Ledakan Besar di Beirut, Ini Perusahan Pembeli Amonium Nitrat

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Amonium nitrat yang meledak di Pelabuhan Beirut rupanya merupakan pesanan dari sebuah perusahaan. Rencananya, bahan kimia itu akan digunakan untuk mendukung aktivitas pertambangan.

Fabrica de Explosivos Mocambique (FEM), sebuah perusahaan manufaktur bahan peledak di Mozambik, mengatakan mereka yang awalnya memesan amonium nitrat seberat 2.750 ton yang disimpan Pelabuhan Beirut selama hampir 7 tahun.

Juru bicara perusahaan mengatakan bahan kimia itu dipesan sebagai bahan baku pembuatan peledak bagi sejumlah perusahaan tambang di Mozambik.

“Kami dapat memastikan bahwa kami yang memesannya,” kata juru bicara FEM dilansir dari CNN, Sabtu (8/8/2020).

Juru bicara yang namanya disamarkan menjelaskan proses pemesanan bahan kimia tersebut. Pada 2013, perusahaannya menjalin kerjasama dengan perusahaan perdagangan luar negeri untuk memfasilitasi pembelian bahan kimia amonium nitrat dari Georgia ke Mozambik.

Tetapi, setelah beberapa bulan paket amonium nitrat yang dibawa menggunakan kapal milik Rusia, Rhosus, meninggalkan Georgia tidak juga sampai. Fasilitator pengiriman paket tersebut menyebut paket tidak akan tiba disebabkan kendala teknis.

“Kami telah diberi tahu oleh perusahaan itu: ada masalah dengan kapal, pesanan Anda tidak akan terkirim,” lanjutnya.

“Jadi, kami tidak pernah membayarnya, kami tidak pernah menerimanya,” ucapnya.

Kemudian, lanjut si juru bicara, perusahaannya mengajukan pemesanan lain untuk mengganti yang “sempat dinyatakan hilang” pada pengiriman pertama. Namun, lagi-lagi paket tersebut tidak sampai ke Mozambik setelah kapal pembawanya ditahan di Pelabuhan Beirut, sedangkan muatannya harus diturunkan untuk disita.

“Itu benar-benar diluar kendali kami,” katanya melanjutkan.

Telah bekerja di FEM sejak 2008, si juru bicara baru kali itu menjumpai pesanan yang tak pernah sampai. Dia sempat menaruh kecurigaan, pasalnya bahan kimia yang dikirimkan dalam jumlah sangat besar.

“Ini tidak biasa. Ini sama sekali tidak biasa.”

“Biasanya, saat Anda memesan apapun yang Anda beli, Anda akan mendapatkan barangnya. Ini dikirim menggunakan kapal, bukan membeli barang dikirim menggunakan pos,” pungkasnya.

Ledakan besar di Beirut pada Selasa (4/8/2020) sore menyebabkan 150 orang tewas dan melukai lebih dari 5.000 orang. Insiden mematikan tersebut semakin memicu kemarahan masyarakat yang menuding pemerintah abai dan korup sehingga barang berbahaya bisa berada di pelabuhan dalam waktu lama.

Polisi dan interpol sudah menginterogasi kapten kapal dan pemilik kapal Rhohus guna menggali informasi penting yang bisa mendukung investigasi ledakan.