Ulama Berakhlak Mulia yang Cicit Nabi Saw

Sayyiduna ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin

Sayyiduna ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

ALHAMDULILLAH. Akhirnya, dua buku ini ketemu kembali!”

Demikian “seru gembira” dua bibir saya. Awal minggu ini. Tentu saja gembira. Sebab, sejak bertahun-tahun yang silam, dua buku yang terselip di antara tumpukan buku-buku lain itu saya cari. Ya, dua buku yang ditulis seorang Syaikh Al-Azhar kondang dan sangat tawadhuk: Prof. Dr. ‘Abdul Halim Mahmud. Dua buku itu, yang satu tentang “Sayyiduna ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin”. Sedangkan buku yang satu lagi tentang “Sultan Para Arif  (Sulthân Al-‘Ârifîn): Abu Yazid Al-Bisthami”. 

Saya, memang, pengagum Syaikh Al-Azhar ke-40 itu. Sejak menimba ilmu di Kairo, antara 1978-1984, saya senantiasa “melahap” karya-karya tulis ulama kondang yang anak keturunan ‘Ali bin Abu Thalib dari garis ayahnya itu. Entah kenapa, setiap kali rampung menyimak karya-karya tulis ulama kondang yang meraih gelar Ph.Dnya dari Universitas Sorbonne, Paris, Perancis itu, di bidang tasawuf dan tentang seorang tokoh sufi bernama Al-Muhasibi itu, benak dan hati saya senantiasa merasa damai dan tenteram. Siraman ruhaniah seakan tercurah deras memasuki relung benak dan hati saya. 

Segera, begitu dua buku itu berada di tangan, saya pun menyimak kembali salah satu buku itu. Buku itu menyajikan kisah hidup seorang ulama yang luar biasa: Sayyiduna ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin. 

Bagaimanakah kisah hidup cicit Nabi Saw. itu?

“Alhamdulillâh wasy syukru lillâh.” Demikian ucap seorang putra mahkota hari itu penuh kelegaan kepada para bawahannya. Begitu mereka memasuki Kota Makkah. Mereka baru saja menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk ukuran kala itu dan melelahkan. Antara Damaskus dan Makkah yang berjarak sekitar 2.350 kilo meter. 
 
Capek dan melelahkan, tentu saja. Sebab, dengan naik unta, kala itu perjalanan di antara dua kota itu paling tidak memerlukan waktu 40 hari. Ya, paling sedikit sekitar 40 hari. Itu pun bila tiada gangguan sama sekali. Termasuk gangguan alam, seperti badai gurun pasir yang bergulung-gulung kencang. Atau serangan para perampok gurun pasir yang terkenal garang dan ganas. Kedatangan putra mahkota sebuah dinasti di Suriah ke Tanah Suci itu adalah untuk menunaikan ibadah haji. 

Berwajah Teduh dan Menyejukkan Hati

Selepas menikmati rehat beberapa lama di Kota Suci Makkah, putra mahkota itu lantas bertawaf. Di seputar Ka‘bah. Sebagaimana para jamaah yang lain, ia pun berusaha keras mendekati Hajar Aswad. Untuk menyentuh dan menciumnya. Namun, karena banyak jamaah yang juga hendak menyentuh dan mencium Batu Hitam itu, tokoh yang pada masa pemerintahannya berhasil mengepakkan kekuasaannya hingga memasuki  Pulau  Majorca, Minorca,  Ivica, Corsica, Sardinia, Kreta, Rodesia,  Siprus, kawasan sebelah selatan Perancis dan  hampir  seluruh Spanyol,  Selat Gibraltar hingga Ismus,  dan di Asia membentang dari Gurun Sinai  hingga  ke padang rumput Mongolia itu tidak kuasa menyentuh Batu Hitam itu. Malah, para jamaah yang ada pun tidak hirau dengan kehadiran dirinya.

Usai bertawaf, sang putra mahkota kemudian duduk di sebuah kursi di tempat tinggi, yang disediakan baginya. Supaya ia dapat melihat para jamaah yang sedang bertawaf di seputar Ka‘bah. Kemudian, ia pun mengamati dengan penuh perhatian para jamaah itu. Bersama para pengawal yang mengitari dirinya.

Dalam suasana demikian, tiba-tiba sang putra mahkota melihat seorang pria berwajah menyejukkan hati memasuki tempat melaksanakan tawaf. Pria itu mengenakan pakaian ihram. Sebagaimana banyak di antara para jamaah lainnya. Tanda ketaatan dan kepatuhan kepada Allah Swt. berpendar cemerlang. Di raut wajahnya nan bersih. Orang itu langsung bertawaf di seputar Ka‘bah dan kemudian mendekati Hajar Aswad. Dengan langkah mantap dan pembawaan yang tenang. Manakala para jamaah lain melihat orang itu, mereka pun memberikan jalan kepadanya. Sehingga, ia dapat menyentuh dan mencium Hajar Aswad. Dengan tenang dan leluasa. 
Kejadian itu, tentu saja, membuat sang putra mahkota terpana. Juga, terusik hatinya. Ia saja, yang seorang putra mahkota, tidak kuasa menyentuh Hajar Aswad. 
“Siapakah orang itu?” tanya pelan salah seorang pejabat. Yang kala itu mendampingi sang putra mahkota.
“Saya tidak tahu, siapakah orang itu,” sahut sang putra mahkota. Ia pura-pura tidak mengenal betul bahwa orang itu adalah Sayyiduna ‘Ali Zain Al-‘Abidin bin Al-Husain. “Dalam kondisi dirinya yang ketakutan, tentu ia tidak akan berani mengenalkan dirinya.”

“Tuan, saya mengenali orang itu,” sahut Hammam bin Ghalib Al-Farazdaq, seorang pensyair kondang kala itu. Yang menyertai sang putra mahkota. Ia tahu, putra mahkota berdusta. Semestinya, dalam kedudukannya sebagai seorang seniman yang dekat dengan sang putra mahkota, ia lebih menjaga martabat dan kedudukan sang putra  ketimbang orang lain. 

Namun, sang penyair malah tidak sekadar memberi penjelasan perihal orang yang itu seadanya. Segera, di tempat yang agak tinggi, ia pun berdiri membacakan puisi yang begitu indah perihal sosok yang sedang bertawaf itu. Sebagian dari puisi tersebut adalah sebagai berikut:

Putra seorang hamba terbaik Allah, inilah (jati diri sosok) ini
Ketakwaan, kebeningan hati, dan kebersihan pikiran, itulah “warna” sosok ini
Putra Fathimah, bila kau tak mengenalnya sama sekali
Memiliki kakek yang menjadi penutup para Nabi
Anak siapa ia? Betapa aneh pertanyaan seperti ini
Orang Arab dan asing pun tahu, siapa sosok yang kau ingkari ini.

Memiliki Garis Keturunan Istimewa

Mendengar jawaban berupa puisi tersebut, sang putra mahkota pun sangat gusar. Tentu saja. Ia langsung memerintahkan untuk menghapus gaji yang seharusnya diterima oleh sang pensyair dari Kas Negara (Bait Al-Mâl). Tidak hanya itu. Sang pensyair kemudian dijebloskan ke dalam bui di ‘Usfan: suatu tempat di antara Makkah dan Madinah. Namun, sang putra mahkota tidak menghiraukan keputusan itu. Ia tidak memedulikan pemotongan gaji dan jaminan hari tuanya. Tidak pula penahanannya. Meski hidup dalam bui, ia tidak berhenti mengritik dan menyindir sang putra mahkota lewat puisi-puisinya.

Mengetahui kejadian yang menimpa diri sang pensyair, tokoh yang dihormati khalayak tersebut yang tidak lain adalah ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin itu kemudian mengirim sejumlah dana kepada sang pensyair. Sebagai biaya hidup selama ia dalam penjara. Namun, sang pensyair menolaknya dan berucap, “Saya menggubah puisi demi iman dan keyakinan saya. Demi Allah Swt. semata. Jadi, saya tidak patut menerima uang sebagai imbalannya.”
“Allah mengetahui maksudmu. Kiranya Allah memberikan balasan yang sepadan dengan niatmu itu. Namun, bila engkau terima pertolongan ini tidak berarti merusak imbalan yang balasan yang diberikan Allah,” jawab cucu ‘Ali bin Abu Thalib itu. Akhirnya, sang pensyair menerima uang itu.

Siapakah ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin?

Bernama lengkap Abu Al-Hasan ‘Ali bin Al-Husain  bin  ‘Ali bin Abu Thalib, cucu khalifah ke-4 dalam sejarah Islam ini adalah seorang ulama kondang Madinah. Kala itu. Tokoh yang dikenal pula dengan sebutan ‘Ali  Al-Ashghar  (Kecil) ini, sebagai pembeda dengan ‘Ali  Al-Akbar,  saudara kandungnya yang tewas bersama ayahnya, Al-Husain bin ‘Ali,  dalam Perang  Karbala’, juga dikenal dengan sebutan  Al-Sajjâd  (Yang Sangat Tekun Bersujud).
 
‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin lahir di Madinah pada Jumat, 5 Sya‘ban 38  H/4 Januari  659  M. Pada masa pemerintahan kakeknya,  ‘Ali  bin  Abu Thalib. Tepatnya dua tahun sebelum kakeknya itu berpulang. Ibunya (berpulang selepas melahirkannya) adalah  putri Khosru Persia, Shahr-Banu, yang tertawan pada  saat penaklukan  Ctesiphon (Al-Mada’in) dan kemudian  menikah  dengan Al-Husain  bin ‘Ali. Ia  adalah satu-satunya putra Al-Husain  bin  ‘Ali yang selamat dari penumpasan di Padang Karbala’ yang terjadi pada Selasa,  10  Muharram 61 H/9 Oktober 680 M, karena kala itu ia sedang sakit. Sehingga, ia tidak ikut bertolak ke medan pertempuran. 

Ternyata, tragedi tersebut berdampak kuat atas diri ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin. Ia senantiasa tampak berwajah sedih dan muram durja.  Ketika ia ditanya tentang keadaan dirinya yang demikian, ia menjawab, “Nabi Ya‘qub menangis hingga nyaris buta ketika beliau kehilangan putranya, Yusuf. Padahal, beliau tidak yakin bahwa Yusuf sudah berpulang. Sedangkan saya pernah menyaksikan lebih dari selusin keluarga dekat saya dibantai. Dalam satu hari. Bisakah Anda membayangkan, akankah kesedihan saya atas diri mereka sirna?” 

Tokoh yang satu ini tumbuh dewasa di Kota Nabi: Madinah Al-Munawwarah. Lewat sosok  yang terkenal  sangat  santun dan hidup sangat  sederhana  inilah  Al-Husain  bin ‘Ali bin Abu Thalib menurunkan anak keturunannya.  Lewat pernikahannya dengan Fathimah binti Al-Hasan bin ‘Ali (saudara sepupunya: putri Al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib), ia memiliki  lima putra dan dua putri: Muhammad Al-Baqir, Zaid, Al-Husain Al-Asyghar, ‘Abdullah Al-Bahr, ‘Umar Al-Asyraf, Ummu Kultsum, dan Khadijah. 

Jangan Sebut-Sebut Ayahku, Ibuku, dan Datukku
Berbeda  dengan  kakeknya (‘Ali bin Abu  Thalib),  pamannya  (Al-Hasan  bin ‘Ali), dan ayahnya (Al-Husain bin ‘Ali),  ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin  tidak memiliki ambisi sedikit pun  untuk naik ke  pentas politik  kala  itu. Selama hidupnya tidak pernah  tercatat  bahwa tokoh  yang memiliki garis keturunan dari Nabi Muhammad  Saw.  dan garis  keturunan  dari  Khosru  Sasanian  ini  pernah  mengajukan tuntutan atau menggerakkan pemberontakan terhadap kekuasaan yang ada kala itu. Kehidupannya lebih tercurah pada “dunia  kelak”. 

Memang, kehidupan ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin lebih tercurah pada “dunia kelak”. Suatu ketika Thawus bin Kaisan Al-Yamani, seorang ulama kondang dari kalangan tâbi‘ûn, menyaksikan ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin sedang shalat dan tawaf tanpa henti. Semalaman penuh hingga fajar menunjukkan dirinya. Melihat hal itu, ulama kondang itu pun mendekati ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin. Lantas, tanya Thawus, “Anda adalah cicit Rasulullah Saw. Mengapa Anda sedemikian cemas dan takut kepada Allah Swt.? Semestinya, orang seperti aku inilah yang sangat cemas dan takut kepada-Nya. Diriku sarat dosa. Sedangkan Anda adalah orang yang suci. Anda adalah putra Al-Husain bin ‘Ali dan datuk Anda adalah Rasulullah Saw.?”

“Saudaraku,” jawab ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin. “Jangan Anda sebut-sebut ayahku, ibuku, dan datukku. Sungguh, Allah Swt. menciptakan surga bagi siapa saja yang berbuat baik kepada-Nya. Meski ia adalah seorang budak berkulit hitam legam asal Habasyah. Dan, Dia menciptakan neraka bagi siapa saja yang melakukan perbuatan maksiat kepada-Nya, meski ia adalah seorang pemuka Quraisy. Tidakkah Anda menyimak firman-Nya, “Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak pula mereka saling bertanya.” (QS Al-Mu’minun [23]: 101). Demi Allah, tidak ada yang dapat memberi manfaat pada Hari Kiamat kelak, kecuali amal saleh yang akan berada di depan Anda dan menjadi petunjuk jalan.”

Meski kehidupan ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin lebih tercurah pada “dunia kelak”, namun ia memiliki sikap politik yang jelas: 

Pertama, menolak semua bentuk konflik politik. Ia tidak ingin menyibukkan diri dengan siapa pun yang berkuasa dan memegang alih kendali kekuasaan. Baginya, semua itu merupakan hal yang remeh dan tidak penting. Namun, ia tidak pernah mendukung ketidakadilan. Siapa pun pelakunya.  Ia melakukan hal itu demi kebaikan semua orang. Sehingga, mereka akan mendapat manfaat dari tindakan dan nasihatnya. Tetapi, pengabaian politik yang ia lakukan tidak membuat ia berhenti dari mengajak untuk melakukan kebaikan atau berbicara menentang ketidakadilan. Ia berpandangan, hal itu sebagai tugas penting. Yang tidak boleh ia tinggalkan.

Kedua, mengalihkan perhatiannya untuk memelajari Alquran, hadis, dan fikih. Sehingga, ia kemudian meraih posisi yang sangat terhormat. Dalam semua disiplin ilmu tersebut. Selain itu, posisinya sebagai anak keturunan langsung dari Nabi Muhammad Saw. memastikan bagi dirinya status hormat yang tinggi di antara kaum Muslim. Tidak aneh jika tidak ada ulama yang menolak untuk datang untuk menimba ilmu kepadanya.
 
Memang, ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin adalah seorang tokoh dengan kerendahan hati yang luar biasa: ia bersedia menemui ulama manapun. Untuk menghadiri halaqah orang itu, meski orang itu hanya ingin mengajukan satu pertanyaan tentang ilmu pengetahuan terbaik yang akan diberikan kepadanya. Suatu saat seseorang mempermasalahkan kehadiran ulama terkemuka itu ke halaqah Zaid bin Aslam: seorang ulama dari kelompok masyarakat kelas bawah. Jawab bijak ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-Abidin kepada lawan bicaranya, “Seseorang selayaknya duduk di manapun ia merasa yakin akan mendapatkan manfaat. Ilmu pengetahuan harus dicari. Di mana pun adanya. ”

Ketiga, ia adalah tokoh yang sangat penyayang dan dermawan. Karena itu, ia senantiasa siap memaafkan siapa pun. Pelanggaran apapun atau tindakan tidak baik apapun yang dilakukan terhadap dirinya. Suatu saat saudara sepupunya bertindak sangat kasar kepadanya. Ketika  malam tiba, ia pun pergi ke rumah saudara sepupunya dan berucap kepadanya, “Saudaraku. Bila apa yang engkau katakan tentang diri saya itu benar, kiranya Allah Swt.  mengampuni saya. Sedangkan  bila hal itu tidak benar, kiranya Allah Swt. mengampunimu. Damai bagimu.” Usai berucap demikian, ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin lantas berlalu. Saudara sepupunya pun segera mengikutinya dan meminta maaf kepadanya.
 
‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin pun memaafkan saudara sepupunya itu. Sepenuh hati.

“Lautan Sarat Ilmu”

Di sisi lain, ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin terkenal sebagai seorang ulama kondang pada masanya. Malik bin Anas, pendiri Mazhab Malik, menggelari ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin sebagai “Lautan Sarat Ilmu”. Tidak aneh bila Sa‘id bin Al-Musayyab dan Ibn Syihab Al-Zuhri, dua ulama kondang di Madinah Al-Munawwarah kala itu, sangat mengagumi kedalaman ilmu ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin.
 
Ketika masih muda usia, ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin sudah terkenal sebagai seorang anak muda yang sangat tekun dalam menimba ilmu. Di bidang hadis, misalnya, ia menimba ilmu kepada sederet ulama di bidang tersebut. Antara lain Al-Husain bin ‘Ali, ayahnya, Ummu Salamah  (istri Rasulullah Saw.), Shafiyyah binti Huyay (juga istri Rasulullah Saw.), ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq (juga istri Rasulullah Saw.), Zainab binti Abu Salamah, Al-Hasan bin ‘Ali, Abu Hurairah, Miswar bin Makhramah, ‘Abdullah bin ‘Abbas, Sa‘id bin Musayyab, Ibn Abu Rafi‘, ‘Amr bin Utsman, dan lain-lain.

Namun, ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin tidak hanya seorang pakar di bidang hadis saja. Di bidang fikih, namanya sejajar dengan para pakar fikih Madinah Al-Munawwarah kala itu. Antara lain Sa‘id bin Al-Musayyab, ‘Urwah bin Al-Zubair, Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah, Sulaiman bin Yasar, Kharijah bin Zaid bin Tsabit, Abu Bakar bin ‘Abdurrahman bin Harits bin Hisyam, Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Al-Shiddiq, Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar, Abu Ja‘far Muhammad bin ‘Ali, dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz.

Tokoh yang pernah menyatakan bahwa “manakala seseorang tulus ikhlas dalam  berbuat amal kepada Allah Swt., maka Allah Swt. akan  menampakkan kepadanya perbuatan-perbuatannya yang tercela. Sehingga, ia  hanya akan  sibuk dengan dosa-dosanya saja. Bukan mengurusi  aib  orang lain” ini sendiri berpulang ke hadirat Allah Swt. di kota kelahirannya pada pada  Jumat, 25 Muharram 95 H/20 Oktober 713 M. Di masa pemerintahan Al-Walid bin  ‘Abdul Malik,  penguasa ke-6 Dinasti Umawiyah, di Suriah.  Jenazah ayah lima putra dan dua putri ini dikebumikan di Pemakaman Baqi‘ Al-Gharqad, Madinah Al-Munawwarah. Dekat dengan makam pamannya yang juga mertuanya, Al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib.

Berkaitan dengan kepribadian Sayyiduna ‘Ali bin Al-Husain Zain Al-‘Abidin, Zeeshan Haider Jawadi, dalam sebuah tulisannya berjudul Life Sketch of Sayyiduna Zainul Abideen (a.s.),   menulis:

“Di antara anak keturunan  Nabi Muhammad (Saw.), moral masing-masing anggota memiliki posisi individual. Namun, Imam Al-Sajjad, lewat tampilan akhlaknya yang luhur, juga telah me‘warnai’ dunia filsafat etika, di mana seseorang  membangun karakternya dengan cara terbaik. Jika ada seorang murid mendekatinya, misalnya, ia senantiasa berdiri untuk menghormatinya dan mengatakan bahwa itu adalah warisan Nabi Muhammad Saw. Sehingga, dengan cara demikian ini, nilai pengetahuan agama dalam Islam juga menjadi gamblang dan sekaligus memberikan semangat kepada murid. Andai saja orang-orang yang menghormati orang kaya sesekali memerhatikan para murid itu juga.

Malah, ketika seorang pengemis mendekatinya, ia senantiasa menyambutnya dan berucap, ‘Ia adalah orang yang mengantarkan harta kekayaan saya dari dunia ke akhirat. Tanpa menuntut upah apa pun.’ Ia pun tidak pernah memukul sekali pun unta betina yang senantiasa mengantarkan ia naik haji dua puluh kali. Sehingga, ketika ia berpulang, unta itu meratapinya selama tiga hari di kuburnya dan kemudian mati: bagaikan seorang pria yang jatuh cinta dan merasa tiada kesenangan lagi yang tersisa di dunia ini.”@ru