Catatan dari Senayan

Sayang, Artidjo Bersih Sendirian

MEMENUHI undangan DPC Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Yogyakarta, Selasa lalu saya terbang dari Jakarta ke Yogyakarta untuk diskusi buku “Alkostar Sebuah Biografi”. Saya ingin memberikan testimoni tentang mantan Hakim Agung Artidjo Alkostar. Dia hakim yang bersih, berintegritas, dan tegas. Ditakuti para koruptor karena dikenal sebagai “raja tega”.

Begitu turun di Bandara Adisucipto Yogyakarta saya browsing berita dari media online. Paling menarik membaca kabar tiga hakim di Medan terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi alias KPK.

Kontras memang. Sebelumnya di pesawat saya sedang menerawang sosok Artidjo sebagai hakim yang ideal, hakim seperti itulah yang dibutuhkan Indonesia saat ini. Tiba-tiba gambaran ideal itu buyar dengan adanya oknum hakim tang terkena OTT. Bagi saya kondisi yang kontras itu justru menjadi bahan diskusi yang menarik.

Di awal bicara saya langsung menceploskan keprihatinan. Mau bicara hakim yang baik rasanya berat karena saya baru saja membaca berita ada hakim, ketua dan wakil ketua Pengadilan Negeri terkena OTT.

“Ah masa?” Artidjo kaget, spontan menyela.
“Ya. Semua media online resmi memberitakan soal itu,” jawab saya spontan juga. Tampaknya Artidjo sangat risau dengan kabar kelam itu. Institusi yang pernah dipimpinnya tak juga berubah. Sudah puluhan hakim ditangkap KPK. Termasuk hakim Tipikor.

“Ya hakim yang mengadili korupsi ternyata terbukti korupsi” kata Artidjo sambil geleng-geleng kepala usai mendengarkan uraian saya tentang kabar muram tertangkapnya hakim di Pengadilan Negeri Medan itu.

Ternyata Artidjo hanya baik untuk diri sendiri tapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap anak buahnya. Padahal jabatan terakhirnya sebagai Ketua Kamar Pidana di Mahkamah Agung RI. Mengapa dia tak berdaya? Ceritanya panjang. Walaupun sebagai seorang Ketua Kamar, Artidjo juga ketua kamar lainnya yang ada di Mahkamah Agung, tidak dapat mengontrol hakim-hakim di MA, pengadilan tingkat banding dan tingkat pertama.

Pengawasan hanya bisa dilakukan oleh Badan Pengawas (Bawas) dan Komisi Yudisial (KY) dengan segala keterbatasan kewenangannya. Dalam hal putusan, siapa pun tak dapat mencampuri independensi. KY maupun Bawas pun tak dapat menilai putusan.

Artidjo memiliki otoritas penuh terhadap putusannya sendiri tapi tak punya kewenangan mengontrol putusan hakim lain di tingkatan mana pun. Hal itu memang baik. Jabatan hakim sangat istimewa. Karena itu dipilihlah orang-orang terbaik untuk mengisinya. Hakim itu ibarat separuh malaikat. Mereka dalam persidangan dapat menentukan nasib orang. Bisa dihukum, dibebaskan, didenda, bahkan bisa dilenyapkan nyawanya melalui vonis mati. Dia juga disebut wakil Tuhan. Karena itu dalam amar putusannya hakim wajib menggunakan irah-irah “Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Seorang hakim mesti jujur, bersih, mandiri, rendah hati, dan berintegritas. Sifat-sifat itu ada pada seorang Artidjo tapi tidak dimiliki oleh banyak hakim lainnya. Di akhir sesi, Artidjo memberikan kunci yang membuat dirinya seperti itu karena dilandasi keihlasan. Tak ada pamrih selain bekerja diniati semata untuk beribadah, bukan hal lain. Karena itu dia sejak jadi hakim agung sudah mendeklarasikan diri tidak menerima tamu pihak yang berperkara.

Konsekuensinya dia siap menerima kecaman banyak pihak, termasuk dari koleganya sendiri di MA. Karena Artidjo sejak awal sudah bersiap untuk memasuki dunia yang sunyi, sepi dari hiruk pikuk yang sering menggoda dan menggoyahkan iman. Hingga sesudah pensiun dia tetap hidup bersahaja bersama kambing-kambing piaraannya di desa. Meskipun demikian Artidjo merasa bahagia.

Saya tidak melihat hakim-hakim lain menjalani pensiun seperti Artidjo. Banyak hakim yang pensiun bergelimang harta. Bisa jadi saat menjabat mereka menyalahgunakan independensinya sebagai pengadil terpercaya. Wajar kalau banyak hakim terkena OTT dan akhirnya menghuni penjara. Artidjo bersih sendirian.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close