Sawahlunto Denhaag van Sumatera

06:00
447
Kota Tua Sawahlunto

TAK biasanya kalau keluar kota yang selalu saya kunjungi selalu ibukota provinsi. Akhir pekan lalu saya berkunjung ke kota kecil, Sawahlunto, Sumatera Barat. Untuk mencapai kota itu perlu sedikitnya tiga jam perjalanan menyusuri kelak kelok tajam dan naik turun perbukitan menerobos kabut tebal dan mesti sabar jika berada di belakang truk-truk besar yang sarat beban muatan. Maklum untuk menuju Sawahlunto dari Padang mesti lewat jalan lintas Sumatera (jalinsum) yang tak terlalu lebar.

Sejak di sekolah dasar dulu saya sudah menghapal Sawahlunto adalah penghasil batubara, Maka setelah menempuh sekitar tiga jam perjalanan dari Bandara Minangkabau Padang, menjelang memasuki kota Sawahlunto yamg saya bayangkan adalah kota yang porak poranda, penuh lubang-lubang besar bekas galian batubara. Yang saya saksikan sebaliknya. Kota Sawahlunto terlihat indah memesona. Meski saya tiba di kota itu malam hari, di bawah pendar penerangan lampu, yang terlihat adalah hijau royo-royo. Konon tata kota Sawahlunto mirip kota Denhaag di Belanda kontur naik turun dan kelak-kelok jalanan mulus di dalam kota, bangunan tertata rapi dan bersih meninggalkan kesan bekas lokasi tambang.

Decak kagum saya ketika pagi hari melewati seluruh lekuk kota. Pertokoan, pasar, dan pemukiman tertata begitu indah. Wow, saya merasakan seperti berada di kota-kota kecil di Eropa. Udara terasa sejuk menerpa kulit, ditimpa hangatnya sinar matahari pagi. Saya seperti terayun dalam mimpi. Berpapasan dengan mobil-motor yang berjalan tertib di jalanan yang tak terlalu lebar semakin mengukuhkan Sawahlunto itu sebagai kota berbudaya. Budaya bersih, budaya toĺeransi antar etnik dan aga, serta budaya tertib berlalulintas.

Pagi ketika bertamu di rumah dinas Walikota yang asri, saya bertemu Ali Yusuf dan Ismed sang Walikota dan wakilnya. Sosok Kota Sawahlunto kian tergambar terang. Hari itu, 1 Desember 2017 bertepatan dengan ulang tahun Kota Sawahlunto ke-129. Kota ini dibangun sejak 1888 oleh orang-orang Belanda, setelah ditemukan kandungan batubara yang sangat besar dan berkualitas tinggi. Sawahlunto barangkali salah satu kawasan yang mengawali sebagai kawasan eksportir hasil bumi kita ke manca negara. Konon sebelum tahun 1900, ribuan ton batubara kualitas tinggi sudah mengalir dari bumi Sawahlunto ke Prancis. Rel kereta api pun dibangun dari Sawahlunto ke Telukbayur, untuk melancarkan bisnis emas hitam itu.

Comments

comments