Mutiara Hikmah

Saudaraku, Jamulah Tamu dengan Baik  

Saudaraku, Jamulah Tamu dengan Baik   
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

BANGKALAN, Madura, Jawa Timur beberapa tahun yang lalu.

Hari itu, saya, istri, seorang ipar, dan kakak sulung saya, sowan ke  Pondok Pesantren Syaikhona Cholil Bangkalan. Ketika itu, pondok pesantren tersebut di bawah asuhan K.H. Abdullah Sahal (alm.) Betapa bahagia kami, malam itu kami dipersilakan menginap di pondok pesantren yang didirikan seorang kiai kondang yang menjadi guru sederet ulama kondang Nusantara. Sebuah pondok pesantren kondang yang juga menjadi salah satu tempat menimba ilmu, selama beberapa tahun, kakek kami: seorang kiai yang pakar qiraah sab’ah.

Ketika saat makan malam tiba, kami pun dipersilakan menikmati makan malam. Ternyata, banyak tamu yang juga menginap bersama kami. Semua tamu pun menikmati sajian makan malam tersebut. Sajian makan malam yang tidak berlebihan. Namun, tampaknya semua tamu sangat menikmati sajian makan malam tersebut. Sajian makan makam yang sarat berkah. Selepas pulang dari sowan itu, “tradisi” menyajikan makan kepada setiap tamu tersebut kami teladani. Hingga kini.

Entah, kenapa, minggu lalu, ketika selepas menerima seorang tamu, “kenangan indah” di Bangkalan tersebut “melayang-layang”.  Dalam benak saya. Kemudian, saya pun lama merenung. Dalam benak saya terbayang: jamuan yang disajikan di Pondok Pesantren Syaichona Cholil tersebut tidak berlebihan. Namun, tetap sedap dinikmati. Apa rahasianya? Merenung demikian, tiba-tiba dalam benak saya “melenting” kisah indah berikut:

Suatu hari Abu Bakar Al-Syibli, seorang ulama kondang, menerima tamu seorang Tuan Guru asal Nishapur, sebuah kota yang terletak di dataran subur di kaki Pegunungan Binalaud, Iran. Ternyata, sang tamu  tidak menginap di rumah Al-Syibli hanya satu atau dua hari. Namun, sang tamu menginap selama empat bulan. Ya, empat bulan. Meski menginap cukup lama, setiap hari Al-Syibli tetap menyajikan aneka ragam santapan lezat kepada sang tamu. Juga, beragam penganan kecil.

Ketika pamit, sang tamu berucap kepada Al-Syibli, “Tuan Al-Syibli. Jika Anda datang ke Nishapur, akan saya ajarkan kepada Anda bagaimana cara menjamu tamu dan kemurahan hati yang sejati.”

“Lo, apa kesalahan yang telah saya lakukan kepada Tuan Guru?” tanya Al-Syibli kepada sang tamu. Penuh tanda tanya. Tentu saja penuh tanda tanya: bukankah ia telah berusaha menjamu  sang tamu dengan senang dan murah hati. Namun, ternyata, di mata sang tamu, pelayanan yang ia berikan tampaknya kurang memuaskan. Duh!

“Saudaraku. Sejatinya, Anda terlalu merepotkan diri Anda. Jamuan yang berlebihan tidaklah sama dengan kemurahan hati. Selayaknya, Anda meladeni tamu seperti meladeni diri Anda sendiri. Dengan demikian, kedatangan tamu tidak merupakan beban bagi Anda. Juga, kepergiannya tidak merupakan alasan bagi Anda untuk merasa lega. Jika Anda terus menjamu tamu secara berlebihan, kedatangannya akan Anda pandang sebagai beban dan kepergiannya sebagai kelegaan. Seseorang  yang beranggapan demikian terhadap tamu, orang itu tidak dapat dikatakan sebagai pemurah.”

Mendengar masukan demikian, Abu Bakar Al-Syibli hanya kuasa menundukkan kepala. Lama. Kemudian, beberapa bulan selepas itu, Al-Syibli datang ke Nishapur. Di kota yang mencapai puncak keemasaannya pada abad ke-10 M itu, ia menginap di rumah Tuan Guru Nishapur. Yang pernah menjadi tamunya. Ternyata, kala itu, Tuan Guru Nishapur sedang menerima banyak tamu.  Jumlah mereka 40 orang. Kemudian, ketika malam tiba, Tuan Guru Nishapur itu menyalakan 41 pelita. Ya, 41 pelita.

Melihat hal tersebut, Abu Bakar Al-Syibli pun bertanya kepada Tuan Guru, “Tuan Guru. Bukankah Anda pernah berpesan kepada saya, hendaklah kita tidak berlebihan dalam menjamu tamu?”

“Jika demikian, tolong padamkanlah pelita-pelita itu,” jawab Tuan Guru Nishapur.

Al-Syibli pun segera melakukan perintah Tuan Guru Nishapur. Namun, betapa pun ia berusaha memadamkan 41 pelita itu, ternyata, hanya satu pelita yang berhasil ia padamkan. Ya, hanya satu pelita yang berhasil ia padamkan. Duh!

“Tuan Guru. Apakah arti semua ini?” tanya Al-Syibli kepada Tuan Guru Nishapur. Sangat penasaran dan penuh rasa ingin tahu.

“Saudaraku. Empat puluh tamu itu adalah 40 utusan Allah Swt. Karena tamu adalah utusan Allah, wajar bila hanya karena Allah Swt. semata sajalah saya nyalakan sebuah pelita  untuk masing-masing tamu.  Kemudian,  sebuah pelita juga saya nyalakan  untuk kepentingan  diri saya sendiri. Karena itu, tidak aneh bila Anda tidak mampu memadamkan keempatpuluh pelita yang saya nyalakan untuk para tamu itu. Itu karena apa yang saya lakukan terhadap para tamu hanya karena Allah SWT. semata. Sedangkan, satu pelita yang saya nyalakan untuk diri saya sendiri, ternyata, berhasil Anda padamkan. Itu karena apa yang saya lakukan adalah untuk kepentingan saya sendiri,” jawab Tuan Guru Nishapur.

Usai berucap demikian, Tuan Guru Nishapur sejenak diam. Lantas, beberapa saat kemudian, ia melanjutkan ucapannya, “Saudaraku. Segala hal yang Anda lakukan di Baghdad, dulu, Anda lakukan karena diri saya. Sedangkan yang saya lakukan di sini, terhadap para tamu, saya lakukan karena Allah Swt. semata. Dengan kata lain, yang Anda lakukan dulu merupakan hal yang berlebihan. Sedangkan yang saya lakukan ini tidak berlebihan.”

Pesan apa yang ingin disampaikan Tuan Guru Nishapur? Lewat pesan  tersebut, ia mengajarkan kepada kita: untuk menghormati tamu. Dan, dalam menghormati tamu hendaklah karena Allah Swt. semata. Bukan karena pamrih tertentu dan tidak perlu berlebihan.

Pesan yang indah. Semoga kita dapat meneladaninya!