Catatan dari Senayan

Salah Memaknai Hijrah di Kalangan Anak Muda

TREN HIJRAH melanda kalangan muslim muda di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, termasuk para artis. Begitu mereka menyatakan hijrah lalu berpakaian, berpenampilan fisik, dan berperilaku yang bertolak belakang dari kebiasaan sebelumnya.
Para lelakinya berpenampilan dan berperilaku seperti orang Arab. Antara lain berbaju panjang sampai mata kaki, berjenggot, dan pakai sorban atau aksesoris ala orang-orang Arab.

Demikian juga kaum perempuannya, benar-benar mengubah penampilan dan perilaku. Mereka kebanyakan hanya menganggap benar kelompoknya. Kalau perlu menjauhi kawan-kawannya bahkan keluarganya yang mereka anggap tidak mau “berhijrah.”

Lebih berbahaya lagi kelompok yang memaknai hijrah secara politis. Seperti disampaikan Prof. Noorhaidi Hasan dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam ceramah onlinenya untuk jamaah Ramadhan di Kampus (RDK) Masjid Mardliyyah UGM baru-baru ini, bahwa hijrah yang benar adalah hijrah spiritual transendental, dalam pengertian berpindah dari hal-hal yang tidak dikehendaki oleh Allah kepada hal-hal yang dikehendaki Allah.

Hijrah yang benar menurut pakar politik Islam ini adalah hijrah yang bersifat spiritual transendental –yang kita latih selama bulan Ramadhan– yakni hijrah berpindah dari sifat-sifat yang tidak disukai oleh Allah swt seperti hedonisme, bersenang-senang, berperilaku koruptif-manipulatif, melakukan kekerasan, radikalisme dan terorisme.

Berhijrah kepada hal-hal yang disukai Allah seperti sikap solidaritas, bersikap solider kepada sesama, menebar kasih sayang kepada manusia lain, kepada orang-orang yang membutuhkan, kepada orang-orang yang kesusahan. belajar sungguh-sungguh mencari ilmu pengetahuan, mengabdi kepada bangsa dan negara.

Alwara wal bara

Hijrah, lanjut Prof Noorhaidi, sering disalahpahami kalangan anak-anak muda muslim perkotaan, hijrah yang tadinya spiritual transesdental menjadi hijrah yang sangat politis.

Ini terutama dipengaruhi oleh ajaran salafi yang radikal. Ajaran ini disebutnya diambil dari “alwara wal bara.” Alwara artinya loyal, cinta, senang mendukung mereka yang satu paham, satu aliran, satu pemikiran dan lainnya. Wal bara artinya membenci atau tidak mendukung mereka yang tidak satu paham, satu aliran, dan sebagainya.

Dari doktrin alwara wal bara ini dunia dipecah menjadi dua: dunia jahiliah dan nonjahiliah. Dunia jahiliah adalah dunia yang penuh kesyirikan, kemunafikan, bid’ah, dan sebagainya. Dunia nonjahiliah adalah dunia yang penuh rahmat kasih sayang, dan sebagainya.

Itu yang digambarkan secara politis. Akhirnya dari doktrin alwara wal bara itu banyak anak muda yang terjebak ke dalam pemikiran sesat.

Akhirnya mereka membenarkan doktrin hakimiah, doktrin yang menyatakan bahwa tidak boleh berhukum selain yang ditentukan oleh Allah, tapi dimaknai secara sangat sempit, yang akhirnya membawa mereka ke dalam jurang kekerasan, menggunakan doktrin jihad tapi sebenarnya diliputi oleh hawa nafsu untuk menebar permusuhan, untuk menebar permusuhan, menebar radikalisme dan terorisme.

Pada momentum Ramadhan ini Prof Noorheidi Hasan mengajak kita semua terutama anak-anak muda muslim di perkotaan untuk kembali kepada hijrah spiritual transendental.

“Jangan terjebak pada hijrah yang bersifat politis. Jauhi hijrah yang bersifat politis yang akhirnya membawa kita ke radikalisme, terorisme dan seterusnya. Tetapi kita harus melakukan hijrah yang spiritual transendental.

Caranya, jauhi apa yang tidak dikehendaki oleh Allah. Misalnya kita berperilaku hedonisme, bersenang-senang, kita mengabaikan tugas sebagai anak muda yang harus belajar keras, menimba ilmu sabaik-baiknya.

Alih-alih melakukan tugas itu kita seharusnya berkhidmat untuk mencari ilmu pengetahuan, untuk belajar dengan keras untuk berbakti dan menģabdikan diri kepada kemanusiaan, kepada agama, nusa bangsa. Inilah hakikat hijrah yang harus kita jalani. (*)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close