Catatan dari Senayan

Salah Baca Peta NU Jelang Pilpres

TAK mudah membaca peta Nahdlatul Ulama tanpa memahami karakter dan sejarah perkembangan organisasi keagamaan yang berdiri pada 1926 itu. Apalagi kelompok tertentu lewat para “ahli medsos” yang hanya melihat NU di permukaan. Sebagai contoh aktual, ketika KH Syukron Makmun menyatakan mendukung pasangan Prabowo-Sandi, langsung ada yang menyebut KH Syukron lebih senior dari KH Ma’ruf Amin (KMA), bahkan KH Syukron disebut gurunya KMA. Mereka menyimpulkan akan banyak dukungan warga NU kepada Prabowo-Sandi ketimbang kepada Jokowi-KMA.

Sebagai da’i KH Syukron Makmun memang sangat terkenal. Dia pernah aktif di PBNU. Bahkan menjadi Ketua Lembaga Dakwah NU. Tapi mesti diketahui, KH Syukron sering tidak sejalan dengan para tokoh NU mainstream. Sebagai contoh ketika pilihan partai politik mayoritas kyai NU ke PKB atau PPP, KH Syukron malah mendirikan Partai Nahdlatul Ulama. Dalam pemilu 2004 partai ini tidak mendapat dukungan signifikan dari Nahdliyin.

Jauh sebelumnya, pada Muktamar NU di Situbondo (1984) ketika para ulama memperjuangkan khittah Annahdliyah KH Syukron berdiri tegar di kelompok seberang yang dikenal dengan “Kubu Cipete”. Demikian juga di Muktamar NU Cipasung sepuluh tahun kemudian (1994) saat rezim Orde Baru berupaya menggusur Gus Dur dari pimpinan NU, Kyai Syukon pun masuk kelompok barisan penggusur.

Maka keberadaan KH Syukron Makmun sesungguhnya sudah cukup lama berada di luar lingkaran Struktur NU, walaupun sebagai ulama tetap dihormati. pengaruhnya terhadap Nahdliyin relatif kecil.

Di Jombang, KH Hasib Wahab dari Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas menerima dan mendukung Prabowo, para ahli medsos spontan menyebut para ulama Jombang dukung Prabowo, bukan KMA. Mereka tidak paham posisi KH Hasib di antara saudara-saudaranya dan ulama-ulama NU di Jombang. Sama-sama putra KH Wahab Hasbullah, Kyai Hasib selalu berbeda posisi dengan saudara-saudaranya. Dia juga tidak memiliki santri sebagaimana saudara-saudara lainnya.

Juga ketika Sandiaga Uno berusaha merayu Yenny Wahid untuk masuk Tim Kampanye Prabowo-Sandi. Belum apa-apa Sandi dan kawan-kawan sudah terlalu berharap jika Yenny masuk kelompoknya, kader-kader NU akan otomatis tumpah ruah mendukungnya. Apalagi saat dirinya dan Prabowo secara terpisah diterima Ibu Sinta Nuriah, isteri almarhum Gus Dur, seolah sudah mendapat dukungan. Padahal Bu Sinta seperti komunitas ulama pesantren selalu ramah menerima tamu siapa pun dan dari kelompok mana pun. Islam mengajarkan menghormati tamu menjadi bagian dari iman. Mendoakan tamu pun biasa saja.

Para kyai, Bu Nyai, dan komunitas pesantren lainnya tak pernah menutup pintu untuk semua tamu, mendoakan dan merestui apakah sang tamu itu petani, pedagang, calon kepala daerah, calon anggota legislatif, calon presiden, dan lainnya. Tapi soal dukungan tergantung banyak faktor. Kyai-kyai mainstream tetap menjadi panutan. Santri-santri walaupun bebas menentukan pilihan pada umumnya tetap memadukan rasionalitas dan loyalitas. Walaupun struktur NU tidak secara resmi memberi arahan keberpihakan tapi para personel pengurus selalu memberi isyarat. Meskipun bukan parpol, watak NU sulit melepaskan diri dari tanggung jawab politik yang bersifat kebangsaan. Ketika partai politik di Indonesia tidak mampu sepenuhnya mengagregasi kepentingan bangsa, NU selalu tampil sebagai kekuatan riil politik.

Kali ini menjelang Pilpres para petinggi NU di pusat (PBNU) sampai daerah relatif seragam dalam menentukan pilihan. Para kyai dan santri tak akan berbeda jauh dari para patronnya. Mereka akan memiliki pilihan yang sama. Demikian juga dengan keluarga Gus Dur. Semuanya ditautkan dengan kesamaan visi, yakni visi kerakyatan atau keummatan. Nahdliyin, para santri dan Gusdurian pun mengamini.

Selain itu Nahdliyin penganut ajaran ahlussunnah waljamaah memiliki sikap tawassuth atau sikap tengah-tengah tidak ekstrem. Kedua, tawazzun atau seimbang dalam segala hal. Ketiga, i’tidal atau tegak lurus. Kemudian juga sikap tasamuh, toleran. Dengan keempat sikap itu sebenarnya mudah dibaca kepada pasangan calon mana ulama, para kyai dan nahdliyin berlabuh. Intinya NU itu tidak mengenal paham ekstrem dan intoleran. Paslon mana yang didukung kelompok ekstrem dan intoleran rasanya sudah jelas. Kalau ada yang mengajak Nahdliyin berhimpun dengan kelompok ekstrem dan intoleran, akan otomatis tertolak.

Jika ada ulama NU mendukung paslon yang di dalamnya mengakomodir kelompok ekstrem dan intoleran maka oknum ulama itu sesungguhnya tidak merepresentasikan NU. Fenomena seperti itu biasa terjadi di organisasi mana pun. Tak terkecuali NU. Itulah barangkali cara membaca NU yang benar.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close