Mutiara Hikmah

Sakit adalah Tamu yang Diutus Allah Swt.

Sakit adalah Tamu yang Diutus Allah Swt.
Dok. Istimewa

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“MAS! Dokter gigi yang biasanya merawat Mas kritis. Saat ini ia sedang dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin!” 

Demikian kabar yang dikemukakan istri kemarin siang, kepada saya, tentang seorang dokter gigi yang sedang  terkena virus covid-19. Dokter gigi yang santun, cekatan, dan ramah itu sudah merawat gigi saya, ketika sedang sakit, sejak bertahun-tahun yang silam. Sejak minggu lalu, dokter gigi tersebut dan istrinya terkena virus covid-19 dan dirawat di sebuah rumah sakit di dekat rumah. Sejenak, saya pusatkan hati dan benak saya, mendoakan kiranya kesembuhan dan kebugaran dikaruniakan Allah Swt.kepada dokter asal Garut dan istrinya tersebut, “Allahumma isyfihimâ syifâ’an ‘âjila la yughâdiru saqamâ, âmîn.”

Di sisi lain, entah kenapa begitu mendengar kabar demikian, tiba-tiba benak saya “melayang-layang”. Jauh, Ya, melayang-layang jauh ke Baghdad Madinah Al-Salam, Irak: teringat pesan indah seorang Tuan Guru kondang bernama Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani. Sejak kecil, saya sejatinya sudah akrab dengan nama Tuan Guru kondang tersebut, karena ayah saya adalah seorang kiai yang pengikut Tarikat Qadiriyah-Naqsyabandiyah. 

Apa pesan sang Tuan Guru tentang sakit?

“Sakit,” demikian pesan Tuan Guru itu, “adalah tamu yang  diutus Allah Swt. kepada seseorang yang sedang sakit. Setiap hari saat ia sakit, Allah Swt., lewat tamu tersebut, mengaruniakan kepadanya pahala yang tidak terhitung. Ini selama ia mengucapkan alhamdulillah (segala puja dan puji bagi Allah Swt. semata) dan tidak meradang serta mengeluh. Dan, ketika Allah memulihkan kesehatannya, Dia menghapus dosa-dosanya dan memberi ia status seperti bayi yang baru lahir. Sakit adalah pengampunan dan berkah.” 

Kini, siapakah jati diri Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani?

Bernama lengkap Abu Muhammad Muhyiddin ‘Abdul Qadir bin Musa bin ‘Abdullah binJangi Dost Al-Hasani Al-Jailan. Pendapat lain menyatakan, nama lengkapnya adalah  ‘Abdul Qadir bin Abu Shalih Abdullah bin Jangi Dost bin Yahya bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin ‘Abdullah bin Al-Hasan bin Al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib. Dengan kata lain, tokoh yang satu ini adalah anak keturunan menantu tercinta Rasulullah Saw.: ‘Ali bin Abu Thalib. Garis keturunan tersebut juga ia dapatkan dari ibunya: Ummu Al-Khair Fathimah binti ‘Abdullah Al-Shauma‘i Al-Zahid bin Jamal Al-Din bin Muhammad bin Mahmud bin ‘Abdullah bin Kamal Al-Din ‘Isa bin Abu ‘Ala’uddin Muhammad Al-Jawad bin ‘Ali Al-Ridha bin Musa Al-Kazhim bin Ja‘far Al-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali Zain Al-‘Abidin bin Al-Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib. 

Pendiri Tarikat Qadiriyyah ini lahir di Desa Nif atau Naif, Jailan, pada Ahad, 1 Ramadhan 470 H/18 Maret 1078 M. Nif atau Naif, sekitar 150 kilo meter sebelah timur laut Kota Baghdad. Tepatnya di wilayah Jilan, Kurdistan. Kala itu, wilayah itu sangat diwarnai oleh sebuah mazhab fikih yang diasaskan oleh Ahmad bin Hanbal, yaitu Mazhab Hanbali.

Selepas menimba ilmu  di kota kelahirannya, pada 488 H/1095 M ia dikirim ibundanya,  Fathimah bin ‘Abdullah Al-Shauma‘i, ke Baghdad. Di kota terakhir ini ia menimba ilmu dari sejumlah tokoh ilmuwan dan ulama dan menempuh jalan  sufi. Ia belajar ilmu fikih kepada Syaikh  Abu  Al-Wafa’ dan  Syaikh  Abu Al-Khaththab Al-Kalwazani. Sedangkan di bidang tasawuf ia menimba ilmu kepada Syaikh Abu Al-Khair Muhammad  bin Muslim  Al-Dabbas dan Abu Sa‘ad Mubarak Al-Mukharrimi dan di bidang bahasa Arab kepada Abu Al-Husain Abu Ya‘la. 

Di samping menimba ilmu, Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani juga acap melakukan pengembaraan.  Antara lain, ke Persia, Mesir,  dan  Semenanjung Arab. Tetapi, akhirnya ia memilih Baghdad sebagai  tempat menetapnya. Di kota itu, ia mendirikan padepokan bagi murid-muridnya dan para sufi. Tasawuf, menurut ia, adalah kebeningan dan kebersihan dari kotoran jiwa dan hawa nafsu, hubungan  yang benar dengan Allah dan akhlak yang mulia dalam hubungan  dengan sesama makhluk. Semua itu agar tasawuf benar-benar selaras dengan syariah, hingga menjadi dasar dalam hubungan antara sesama mereka dan  dalam  hubungan ibadah kepada  Allah. Dengan  kata  lain, tasawuf harus selaras dengan Al-Quran dan Sunnah.

Dengan  pandangannya yang demikian ini, tak aneh bila Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani dikenal  sebagai  Tuan Guru yang memiliki toleransi yang tinggi dan sangat  menghormati tetangga, menjauhi kemewahan, dan kenikmatan duniawi.Ini tercermin, misalnya, pada ucapannya, “Bukalah  mata jasmani dan mata hatimu lebar-lebar terhadap dunia  yang  senantiasa mengecoh. Hadapilah dengan meniadakan hawa  nafsu,  tidak membiarkan  ajakannya dan bawalah ke arah pengabdian diri kepada Allah semata.” Karena itu, tak aneh bila ia berpendapat bahwa orang harus ditempa dalam kesengsaraan agar mampu merengkuh kedamaian batin. Allah Yang Maha Kuasa, menurutnya, menghadapkan orang-orang  pilihan-Nya pada berbagai cobaan dan godaan, untuk menguji kekuatan iman mereka dan mengangkat mereka secara ruhaniah dan moral.  

Selain sebagai  sufi,  Al-Jailani  juga  seorang  faqîh  yang mengikuti Mazhab Hanbali dan menguasai ushul fikih dan fikih. Tak aneh bila ia mengaitkan tasawuf dengan Alquran dan  Sunnah. Karena itu, ia  mendapat  pujian dari seorang pengkritik keras tasawuf,  Ibn Taimiyyah. Di samping itu, ia juga terkenal  sebagai seorang sufi yang selalu memberikan  pengarahan  kepada  para muridnya  untuk  senantiasa takut dan patuh kepada Allah. Misalnya, suatu kala ia dimintai nasihat oleh seorang muridnya tentang  hal yang menyebabkan iman dan agama rusak. Jawab Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani, “Agamamu bisa sirna  oleh empat hal: engkau tidak mau beramal terhadap  sesuatu yang  tidak engkau ketahui, engkau tidak  mau  belajar  terhadap sesuatu yang tidak engkau ketahui, engkau lakukan pekerjaan  atas dasar  sesuatu yang  tidak engkau ketahui, dan engkau  menghalangi  orang untuk  belajar sesuatu yang tidak mereka ketahui.”

Tokoh yang satu  ini menghadap  Sang  Pencipta di Baghdad pada Senin, 11 Rabi‘ Al-Akhir 561  H/14 Februari 1166  M,  dengan meninggalkan sejumlah karya. Antara lain: Tafsîr Al-Jailanî, Fath Al-Rabbânî wa Al-Faidh Al-Rahmanî, Al-Shalawât wa Al-Aurâd, Al-Rasâ’il, Yawâqit Al-Hukm, Al-Ghunyah li Thâlib Al-Tharîq Al-Haq ‘Azza wa Jalla, Futûh Al-Ghaib, Al-Dîwân, Sir Al-Asrâr fî Mâ Yahtâj Ilaih Al-Abrâr, Asrâr Al-Asrâr, Jalâ’ Al-Khâthir fi Al-Bâthin wa Al-Zhâhir, Al-Amr Al-Muhkam, Ushâl Al-Saba’, Mukhtashar Ushâl Al-Dîn, dan Ushûl Al-Dîn.                                                                     

Sekali lagi, “sakit adalah tamu yang diutus Allah Swt.” Karena itu, sambutlah dengan baik. Dengan berobat sebaik-baiknya dan banyak berzikir!