Ekonomi

Saham Bank Besar Jadi Incaran Jelang Musim “Window Dressing”

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Menjelang akhir tahun, pasar tengah bersiap untuk menyambut musim window dressing. Sebelumnya, window dressing adalah strategi yang digunakan oleh perusahaan publik atau manajer investasi dalam mempercantik kinerja keuangan dan portofolio bisnis untuk menarik investor. Secara historis, window dressing menjadi katalis positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani mengatakan window dressing biasanya terjadi di kuartal akhir.

“Akibat aktivitas rebalancing (perubahan komposisi saham) ini, saham-saham yang memiliki korelasi besar terhadap IHSG dan banyak dibeli fund manager akan mengalami penguatan,” katanya kepada CNNIndonesia.com.

Di tengah sentimen window dressing, ia merekomendasikan saham-saham kapitalisasi besar (big cap), khususnya saham perbankan. Pilihannya jatuh kepada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Pasalnya, saham-saham di jajaran pertama itu merupakan saham-saham penggerak laju indeks saham. Itu berarti, jika harganya naik, maka IHSG cenderung menguat serta sebaliknya jika saham-saham tersebut loyo, maka indeks pun biasanya ikut koreksi.

“Pada window dressing tahun ini, kami merekomendasikan saham dari sektor perbankan dengan top pilihan kami adalah saham BCA,” ujarnya.

Di sisi lain, lanjutnya, harga saham kedua bank tersebut sudah terdiskon. Mengutip RTI Infokom saham BCA terpantau mengalami koreksi sebesar 0,08 persen dalam sepekan ke posisi Rp31.375 per saham. Namun demikian, sejak awal tahun (year to date) saham BCA mampu tumbuh 20,67 persen.

Sementara itu, saham BRI naik 2,51 persen sepanjang pekan lalu menjadi Rp4.090 per saham. Akan tetapi, penguatan saham bank pelat merah ini mampu mencapai 11,75 persen sejak awal tahun.

Ia memprediksi sentimen window dressing mampu mengerek harga saham dua emiten itu. Saham BCA diprediksi mampu melaju ke level Rp31 ribu hingga Rp31.500 per saham, sedangkan Bank BRI ke level Rp4.000 per saham.

Untuk mengantisipasi lonjakan saham saat window dressing, ia menyarankan beli saham BCA dan BRI saat harga rendah (buy on weakness). Menurut dia, level saat ini merupakan momentum tepat untuk akumulasi beli.

Senada, Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki menuturkan menilai saham-saham di sektor perbankan, konsumer, dan konstruksi menjadi menjadi target akumulasi investor menjelang musim window dressing. Alasannya, saham-saham di sektor tersebut telah melemah cukup dalam sepanjang tahun, namun masih berpeluang mengalami kenaikan.

“Ketiga sektor ini sudah banyak koreksi dan masih lagging (tertunda) kenaikan harganya,” ucapnya.

Data statistik Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sektor keuangan melemah 0,48 persen sepanjang pekan lalu. Tak jauh berbeda, barang konsumsi turun 0,37 persen dan infrastruktur turun paling tajam 1,31 persen.

Lihat juga: Pendiri Zara Beli Real Estate Cakup Kantor Facebook – Amazon
Namun tak semua saham di sektor tersebut bisa menjadi pilihan saat terjadi window dressing. Ia hanya merekomendasikan saham empat bank besar, yakni saham BCA, BRI, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).

Sementara itu, pada sektor konsumer ia menyarankan beli saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM).

Dari sektor konstruksi, ia memperkirakan saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP), dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI).

Sektor konstruksi sendiri, diramal akan mendapat sentimen positif dari operasional proyek-proyek yang selesai dibangun pada 2019. Lewat berjalannya proyek-proyek tersebut, arus kas perusahaan diperkirakan menguat.

Ia bilang, pelaku pasar bisa mulai mencicil borong saham-saham tersebut pada pertengahan November hingga pertengahan Desember. Sepakat dengan Hendriko, menurutnya saat tepat untuk membeli saham sebagai antisipasi window dressing adalah di harga rendah.

“Pelaku pasar bisa mulai masuk di minggu kedua Desember,” katanya. (JS)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close