Sabam Sirait Politisi yang Persuasif

Sabam Sirait Politisi yang Persuasif
Todung Mulya Lubis

Oleh: Todung Mulya Lubis

SEKITAR jam 21.30 saya baru kembali makan malam dari sebuah restaurant Cina di Oslo. Entah kenapa saya langsung membuka akun Facebook saya, dan berita yang  pertama saya baca adalah berita kepergian politisi senior Sabam Sirait (85 tahun) setelah beberapa waktu dirawat di rumah sakit Siloam, Karawaci. Seorang politisi senior yang banyak makan asam garam dalam panggung politik meninggalkan yunior-yuniornya di berbagai partai politik.

Sabam adalah seorang politisi yang rendah hati, rajin mendengar, dan selalu menyampaikan sikapnya dengan sedikit humor. Tutur katanya halus tak mengesankan dia orang Batak kecuali wajahnya yang sulit mengingkari dirinya orang Batak. Tapi dia bukan politisi yang bersuara gegap gempita, membahana seperti banyak politisi dari daerahnya. Sabam dikenal santun dan sangat rendah hati. Busana yang dipakainya juga biasa-biasa saja. Dia bukanlah politisi zaman ’now’ yang sangat wah dalam berbusana dan mewah dalam berkendaraan. Saya tak yakin Sabam suka menaiki mobil-mobil mewah.

Saya mengenal Sabam pada tahun 1969 ketika kami sama-sama sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia di Salemba. Waktu itu kami sama-sama mahasiswa tahun pertama. Tidak jarang saya bertemu Sabam yang duduk di barisan belakang mendengarkan kuliah dengan khusuk. Saya tak pernah melihat dia mengajukan pertanyaan walau saya mengenal namanya sebagai politisi Parkinson’s. Mungkin dia merasa sudah tahu semua isi kuliah yang diberikan. Tapi di luar ruang kuliah kami sering bicara dan dengan suaranya yang pelan dia selalu memuji pertanyaan yang saya ajukan. Saya termasuk orang yang suka bertanya terkadang agak nakal karena saya senang juga membuat dosen kesulitan menjawab pertanyaan. 

Dalam pembicaraan di luar dia termasuk yang sangat kritis terhadap kekuasaan Soeharto waktu itu tetapi dia juga orang yang tahu diri bahwa dia tak mungkin melawan kekuasaan militer yang semakin menguat pada waktu itu. Dia juga sangat sadar bahwa dia bukan politisi yang ’mayoritas’. Kesan saya Sabam mencoba menjaga kehadirannya dengan memahami kekuasaan yang berada di tangan militer karena transisi dari pemerintahan Soekarno waktu itu membutuhkan stabilitas. Dia juga khawatir dengan kekuatan politik ’mayoritas’ dan di sinilah dia sering bicara kepada saya tentang pluralitas bangsa, tentang kemajemukan, tentang tak ada mayoritas-minoritas. 

Sebagai mahasiswa hukum tahun pertama dan sebagai orang yang bukan politisi saya mendengar dan ikut membenarkan bahwa kemajemukan bangsa adalah asset yang paling berharga dari negeri tercinta. Dia tak boleh dinodai oleh subyektivitas politik sempit yang menggerus kemajemukan itu. Melangkah sedikit lebih ke 4muka, perasaan sekuler sering muncul, walau bung Sabam tak terlalu suka menggunakan istilah sekuler. Sabam adalah seorang yang religious.

Saya terus memelihara kontak dengan Sabam, sering berkomunikasi dan sesekali bertemu dalam berbagai kesempatan. Sabam semakin menonjol karir politiknya sampai-sampai pada awal Reformasi dia bergandengan dengan Megawati. Sabam sempat menjabat Sekjen PDIP dan banyak jabatan lainnya. Dia dianggap ’senioren’ dan atau ’sesepuh’ partai PDIP walau dia juga disegani oleh partai-partai lainnya. 

Dalam tataran politik formal Sabam juga masuk dalam kepemimpinan lembaga tinggi negara apakah DPR dan juga DPA. Mungkin juga lembaga lainnya. Garis politiknya tak berubah yaitu ingin merawat kebinekaan atau kemajemukan, menolak ekstrimisme. Dia tak pernah lelah melakukan lobby dan pendekatan termasuk kepada lawan politiknya. Menariknya dia tak memilih ’politik konfrontasional’. Dia sangat percaya bahwa persuasi politiknya akan berhasil.

Sebagai orang yang berada di luar pemerintahan saya terus memelihara kontak dengan Sabam dan dia sesekali mengkritik saya dengan mengatakan bahwa orang seperti saya gampang mengkritik karena saya berada di luar lapangan tetapi sekalipun dia tak melarang saya melakukan fungsi kritik saya. Sesekali dia hanya nyeletuk agar saya jangan terlalu keras.

Saya beberapa kali didekati oleh partai politik untuk diajak masuk tetapi saya masih belum siap masuk. Itu sejak jaman Orde Baru. Di awal Reformasi saya juga dirayu untuk masuk partai politik dan satu kali di Hotel Hilton, Peacock Cafe, saya diminta bergabung dengan PDIP, ditawari untuk ikut bertarung merebut kursi DPR. Saya sempat ditawari formulir untuk diisi. Terus terang saya sempat bimbang. Lalu saya meminta waktu ketemu Sabam, dan saya bertemu Sabam di rumahnya. Saya meminta pendapatnya. Dia hanya tersenyum. Dia tak membilang setuju dan juga tak melarang. Saya pikir dalam hati kok politisi senior ini tidak jelas sikapnya.

Tapi ketika saya hendak meninggalkan rumahnya Sabam bilang ’sudahlah tak usah masuk partai politik, kamu terlalu halus untuk berpolitik. Kamu tak akan kuat’. Lebih baik diluar saja. Waktu itu saya masih mengurusi LBH dan juga Forum Demokrasi. Ok, kata saya dalam hati, kalau begitu memang tempat saya ada di luar. Sejak itu saya jarang bertemu Sabam, hanya kalau ada diskusi atau pesta perkawinan. Kami hanya bertukar salam, tapi saya tetap menaruh hormat padanya. Saya hanya bertemu dengan putranya yang juga jadi politisi yang kalau ketemu saya selalu menyebut saya ’senior’.

Selamat jalan bung Sabam. Bung telah berbuat banyak untuk negeri yang sama-sama kita cintai ini. Bung akan selalu dikenang oleh banyak orang baik orang partai maupun orang luar partai seperti saya. Semoga bung mendapat tempat yang indah di alam sana. (*)

*Dr. Todung Mulya Lubis, akademisi Universitas Indonesia, kini Duta Besar RI di Norwegia.