Opini

Saat Kiai Wahab Perbolehkan Kurban Sapi untuk Delapan Orang

ALKISAH pada tahun 1970-an seorang menghadap Al Maghfurlah KH Bisri Syansuri (kakek Gus Dur) di Pesantren Denanyar, Jombang. Kepada Mbah Bisri dia mengadu, betapa ingin berkurban bersama dengan kakak-adiknya yang berjumlah 8 orang dengan seekor lembu. Tapi bukankah sapi hanya boleh diserikati tujuh shahibul qurban saja?

“Ya bagaimana ya”, ujar Mbah Bisri. “Satu sapi itu menurut fekihnya hanya untuk bertujuh itu.”

“Jadi meskipun adik saya yang paling kecil itu masih agak kecil, nggak boleh berdelapan ya Mbah?”

Mbah Bisri yang terkenal amat teguh memegangi dalil itu menggeleng lemah.

“Meski sapinya gemuk?”

Dengan senyum prihatin, Mbah Bisri tetap menggeleng.

“Padahal kami ingin seperti wasiat almarhum Bapak dan Ibu, selalu kompak dunia akhirat. Termasuk soal kurban, inginnya besok berdelapan masuk surga mengendarai sapi yang sama”, agak basah mata lelaki berusia empatpuluhan itu. Pemahaman khas masyarakat kampung semacam ini, tak aib jika dihormati.

Lalu orang ini menghadap kiai lainnya, Almaghfurlah KHA Wahab Chasbullah di Pesantren Tambakberas, Jombang. Kiai ini buyut Romahurmuzy, Ketua Unum PPP.

“O tentu saja boleh”, jawab Mbah Wahab dengan ramah yang membuat pria itu terenyak. Dari wajahnya memancarkan kegembiraan.

“Wah, boleh Mbah kurban sapi untuk berdelapan?”

“Lha yo boleh. Tapi…”

“Tapi bagaimana Mbah?”

“Adikmu yang paling kecil itu kan masih agak kecil ya?”

“Iya Mbah.”

“Nah, kalau nanti mau naik ke sapi kan agak susah itu ya? Ngrekel-ngrekelnya itu lho..”

“Lha terus bagaimana Mbah?”

“Mbok kamu tambahi kambing satu ekor, nanti biar buat ancik-ancik, buat pijakan naik ke sapinya.”

“Wah, siap Mbah kalau begitu,” sambut lelaki itu dengan perasaan lega. Dia pun bergegas pulang ingin segera mengabarkan fatwa menggembirakan dari Mbah Wahab itu.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close