Internasional

Rusia ‘Ledek’ Serangan Amerika ke Suriah

MOSKOW, SENAYANPOST.com – Amerika Serikat dan sekutunya telah melancarkan serangan udara ke Suriah, Jumat (13/4) waktu setempat.

Serangkaian ledakan terdengar di Damaskus, ibu kota Suriah, pukul 01.00 GM, atau sekitar pukul 07.00 WIB.

Menurut Jenderal Joseph Dunford, salah satu perwira tinggi ternama AS, serangan tersebut menghantam tiga target.

Target itu adalah pusat riset di dekat Damaskus, fasilitas gudang, dan pos komando juga di dekat ibu kota, serta fasilitas penampungan senjata kimia di dekat Homs.

Tapi, kantor berita resmi Rusia, Tass yang dikutip, Sabtu, merilis laporan yang terkesan ‘menertawakan’ serangan Presiden AS Donald Trump itu.

Kementerian Pertahanan Rusia merilis laporan bahwa pasukan koalisi Amerika, Inggris, dan Perancis, sejatinya meluncurkan lebih dari 100 misil.

Tapi, menurut keterangan mereka, banyak rudal kiriman Amerika yang gagal kena sasaran.

Ternyata, rudal kiriman Amerika telah dicegat oleh meriam antiudara milik Suriah, yakni S-125, S-200, Buk dan Kvadrat.

Asal tahu saja, semua persenjataan Suriah ini berstatus senjata jadul.

“Meriam antiudara Suriah S-125, S-200, Buk dan Kvadrat dipakai untuk menggagalkan serangan misil (semalam). Persenjataan ini dibuat di Soviet, lebih dari 30 tahun lalu,” kata Kemenhan Rusia.

Dalam menghantam ketiga fasilitas tersebut, Negeri “Paman Sam” menggunakan rudal penjelajah mereka, Tomahawk.

Rudal tersebut mampu terbang rendah untuk menghindari radar musuh.

Shaun King, kolumnis situs berita The Intercept dalam kicauannya di Twitter mengatakan, setidaknya terdapat 112 Tomahawk yang diluncurkan ke Suriah.

Rudal sepanjang 5,56 meter buatan pabrikan Raytheon tersebut dihargai 1,87 juta dolar AS, sekitar Rp 25,7 miliar, per buah.

“Total, AS menggelontorkan 224 juta dolar AS, atau sekitar Rp 3,08 triliun,” kata King dalam kicauannya tersebut.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close