Ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp14.034

JAKARTA, SENAYANPOST.com — Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.034 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Senin (9/9/2019) sore. Posisi ini menguat 0,47 persen dibanding penutupan pada Jumat (6/9) yakni Rp14.101 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.092 per dolar AS atau menguat dibanding Jumat yakni Rp14.140 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah berada di dalam rentang Rp14.030 hingga Rp14.092 per dolar AS.

Sore hari ini, mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar AS. Peso Filipina menguat 0,01 persen, baht Thailand menguat 0,01 persen, dan dolar Singapura menguat 0,12 persen. Kemudian, ringgit Malaysia menguat 0,2 persen, rupee India menguat 0,24 persen, dan Won Korea Selatan menguat 0,34 persen.

Di sisi lain, terdapat pula nilai tukar mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS seperti dolar Hong Kong sebesar 0,01 persen, yen Jepang sebesar 0,05 persen, dan yuan China sebesar 0,11 persen.

Nilai tukar mata uang negara maju juga menguat terhadap dolar AS. Euro menguat 0,02 persen, poundsterling Inggris menguat 0,02 persen, dan dolar Australia menguat 0,21 persen.

Seperti dikutip CNNIndonesia, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah mendapat angin segar setelah bank sentral AS diramal akan kembali melonggarkan kebijakan moneternya. Kemungkinan ini terbuka setelah Departemen Ketenagakerjaan AS mencatat penciptaan lapangan kerja AS pada Agustus hanya 130 ribu pekerjaan, atau lebih kecil dari perkiraan yakni 163 ribu.

Kemudian, pelaku pasar sejatinya penasaran dengan dua peristiwa yang diharapkan bisa menggairahkan lagi pasar keuangan global.

Pertama adalah rencana negosiasi dagang antara AS dan China yang diharapkan berlangsung Oktober mendatang. Kedua, adalah pertemuan Bank Sentral Eropa pada Kamis (12/9) waktu setempat, di mana petinggi otoritas moneter Eropa kemungkinan akan memberikan stimulus demi memperbaiki ekonomi benua biru yang tengah sakit.

“Kemudian, ekspor China yang turun 1 persen pada Agustus menimbulkan spekulasi bahwa China akan memperkenalkan stimulus baru,” jelas Ibrahim, Senin (9/9). (JS)

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close