Finansial

Rupiah Menguat Bersama Mayoritas Mata Uang Negara Asia

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Nilai tukar rupiah kembali ke zona hijau pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (11/1/2019), setelah berfluktuasi sepanjang perdagangan.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 5 poin atau 0,04% ke level Rp14.048 per dolar AS, dari level penutupan perdagangan Kamis (10/1/2019) saat ditutup menguat 72 poin ke level Rp14.053 per dolar AS.

Rupiah berfluktuasi pada perdagangan hari ini setelah dibuka melemah 20 poin atau 0,14% ke level Rp14.073 per dolar AS. Sepanjang perdagangan rupiah bergerak pada kisaran Rp14.029-Rp14.084 per dolar AS.

Rupiah menguat di saat mayoritas mata uang lainnya di Asia juga terapresiasi. Menempati posisi terkuat terhadap dolar AS adalah yuan China yang menguat 0,74%, disusul peso Filipina yang naik 0,26%.

Penguatan mayoritas mata uang Asia ini menyusul tertekannya dolar AS karena keyakinan bahwa Federal Reserve AS akan menghentikan siklus pengetatan suku bunganya tahun ini.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia melemah 0,19% atau 0,178 poin ke level 95,361 pada pukul 17.37 WIB.

Indeks dolar kembali bergerak di zona merah dengan dibuka turun 0,100 poin atau 0,10% di level 95,439 pagi ini, setelah pada perdagangan Kamis (10/1) mampu rebound dan berakhir menguat 0,34% atau 0,320 poin di posisi 95,539.

Dilansir Reuters, Gubernur The Fed Jerome Powell pada Kamis (10/1/2019) menegaskan kembali pandangan bahwa bank sentral AS tersebut memiliki kemampuan untuk bersabar dalam kebijakan moneter mengingat inflasi tetap stabil.

Powell juga menurunkan prediksi pejabat The Fed Desember lalu yang menunjukkan bahwa suku bunga akan dinaikkan sebanyak dua kali tahun ini.

“Tidak ada jalur yang ditetapkan sebelumnya untuk suku bunga, terutama saat ini. Jika pertumbuhan global melambat, Saya dapat meyakinkan Anda … kami dapat secara fleksibel dan cepat mengalihkan kebijakan, dan kami dapat melakukannya secara signifikan jika itu sesuai,” ungkap Powell.

Senada dengan Powell, Wakil Gubernur The Fed Richard Clarida juga menyampaikan pandangan yang bernada dovish. Ia menggarisbawahi kesediaan bank sentral AS ini untuk tetap bersabar terkait kenaikan suku bunga.

“Pasar hampir memperhitungkan bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga lebih lanjut. Untuk dolar AS yang lebih lemah, pasar kini akan mengharapkan penurunan suku bunga. Saya rasa itu tidak terjadi,” kata Sim Moh Siong, analis valas di Bank of Singapore.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close