Rupiah Melemah 25 Poin di Level Rp14.095 per Dolar AS

Rupiah Melemah 25 Poin di Level Rp14.095 per Dolar AS

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (19/11/2020) pagi melemah 25 poin atau 0,18 persen.

Rupiah ditransaksikan ke posisi Rp14.095 per dolar AS dari posisi penutupan hari sebelumnya Rp14.070 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah melemah tipis 15 poin ke posisi Rp14.070. Kendati melemah, dalam sebulan terakhir rupiah berada dalam tren positif dengan penguatan hampir 4 persen. Bila dilihat dalam periode tahun berjalan (year to date), depresiasi rupiah juga mengecil menjadi hanya 1,47 persen.

Direktur TFRX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahan bakar utama penguatan rupiah sejak awal November adalah kemenangan kandidat dari Partai Demokrat, Joe Biden, dalam Pilpres Amerika Serikat.

Namun, dia menilai euforia tersebut hanya bertahan sekitar seminggu saja. Terbukti dari pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang greenback yang berfluktuasi sepekan belakangan.

“Selain itu, pergerakan rupiah juga terpengaruh oleh sentimen vaksin, dari sisi progress pengembangan juga dari sikap Trump dan Biden yang berseberangan soal pandemi dan vaksin,” katanya, Rabu (18/11/2020)

Ibrahim menyebut potensi penguatan mata uang Garuda masih terbuka lebar hingga akhir tahun. Bahkan, dia memproyeksikan rupiah bisa menguat hingga level Rp13.500 per dolar AS.

Saat ini para pelaku pasar cenderung masih menunggu nasib stimulus yang akan digelontorkan pemerintah dan Bank Sentral AS, juga bank-bank sentral dunia lain. Jika stimulus berlangsung mulus, akan memberikan sentimen positif kepada rupiah.

Selain itu, nilai tukar rupiah juga akan terdorong oleh pemangkasan suku bunga yang diprediksi bakal dilakukan bank-bank sentral dunia di akhir tahun, termasuk Bank Indonesia yang memberi sinyal akan menurunkan 25 bps pada Desember nanti.

Dia menyebut pelaku pasar cenderung tak terlalu mempersoalkan rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia yang tengah dilaksanakan pada 18—19 November ini karena kemungkinan besar BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan.

“Bank Indonesia tidak mungkin menurunkan suku bunga sendiri, pasti sejalan dengan langkah bank sentral lain karena kalau cuma sendiri pasar tidak akan bereaksi. Tapi jika bersama Bank Sentral Eropa, AS, turun, rupiah bisa lebih kuat,” pungkasnya. (Jo)