Ekonomi

Rupiah Jeblok ke Rp14.522/US$

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Nilai tukar rupiah anjlok berada di posisi Rp14.522 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Jumat (3/7) sore. Posisi ini melemah 145 poin atau 1,01 persen dari Rp14.377 pada Kamis (2/7).

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.566 per dolar AS atau melemah dari Rp14.516 per dolar AS pada Kamis (2/7).

Di kawasan Asia, rupiah menjadi mata uang yang paling anjlok dari dolar AS pada hari ini. Pelemahan rupiah juga diikuti oleh baht Thailand yang melemah 0,12 persen dan ringgit Malaysia minus 0,01 persen.


Sedangkan mayoritas mata uang Asia berhasil menguat dari dolar AS. Rupee India menguat 0,5 persen, peso Filipina 0,36 persen, won Korea Selatan 0,11 persen, yen Jepang 0,03 persen, dan dolar Singapura 0,01 persen.

Hanya yuan China dan dolar Hong Kong yang stagnan dari mata uang Negeri Paman Sam. Sebaliknya, mata uang utama negara maju justru mayoritas berada di zona merah.

Franc Swiss melemah 0,12 persen, euro Eropa minus 0,07 persen, euro Eropa 0,06 persen, dan dolar Kanada minus 0,01 persen. Hanya rubel Rusia yang menguat 0,2 persen dan dolar Australia 0,19 persen.

Analis sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan nilai tukar rupiah jatuh dalam pada hari ini karena perkembangan jumlah kasus baru virus corona terus mencetak rekor tertinggi. Hal ini memunculkan kekhawatiran bagi pelaku pasar, sehingga memilih hengkang dari Indonesia dan melemahkan rupiah.

Data Kementerian Kesehatan mencatat rekor jumlah kasus baru mencapai 1.624 orang pada Kamis (2/7) kemarin, sehingga total mencapai 59.394 orang. Pada hari ini, pertambahan jumlah kasus baru pun terbilang tinggi, meski masih di bawah rekor kemarin, yaitu 1.301 orang.

Namun, dengan pertambahan kasus baru pada hari ini, total kasus positif virus corona di Indonesia tembus 60.695 orang. Sementara jumlah kematian mencapai 2.987 orang.

“Dalam 10 hari terakhir, penambahan kasus corona di Ibu Pertiwi selalu lebih dari 1.000 kasus per hari. Wajar kalau pasar kembali apatis, sehingga arus modal asing yang sudah terparkir di pasar dalam negeri ke luar pasar,” ujar Ibrahim.

Selain itu, sentimen pelemahan rupiah juga datang dari wacana pembubaran lembaga negara yang sempat disampaikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu. Kendati belum diketahui lembaga apa yang sekiranya bakal dihentikan, namun pelaku pasar menaruh perhatian pada wacana ini.

Sementara saat ini, isu yang tengah berkembang di publik adalah pengembalian tugas dan fungsi pengawasan perbankan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ke Bank Indonesia (BI). Selain itu, wacara perombakan (re-shuffle) kabinet juga turut memberi andil pada pelemahan rupiah.

“Bauran ekonomi yang diterapkan pemerintah maupun BI menjadi tidak berfungsi akibat pasar condong terhadap pernyataan Presiden,” katanya.

Dari global, sinyal perbaikan ekonomi AS memberi stimulus bagi dolar AS. Salah satunya berasal dari jumlah penciptaan lapangan kerja baru yang mencapai 4,8 juta pada bulan lalu.

Pasar, kata Ibrahim, juga terus mengikuti perkembangan Undang-Undang (UU) Keamanan Nasional baru China untuk Hong Kong. Sebab diperkirakan akan menjadi gesekan baru bagi hubungan China dengan AS ke depan.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close