Rupiah Ditutup Perkasa ke Rp14.312 per Dolar AS Sore Ini

Rupiah Ditutup Perkasa ke Rp14.312 per Dolar AS Sore Ini
Rupiah

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.312 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Rabu (4/8) sore. Posisi tersebut menguat 0,21 persen dibandingkan perdagangan Selasa (3/8) sore di level Rp14.342 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.324 per dolar AS, atau menguat dibandingkan posisi kemarin yakni Rp14.362 per dolar AS.

Sore ini, mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Kondisi ini ditunjukkan oleh yen Jepang turun 0,16 persen, peso Filipina turun 0,30 persen, ringgit Malaysia melemah 0,05 persen, dan bath Thailand koreksi 0,23 persen.

Sedangkan, dolar Singapura naik 0,13 persen, dolar Taiwan menguat 0,43 persen, won Korea Selatan bertambah 0,42 persen, rupee India naik 0,08 persen, dan yuan China menguat 0,12 persen.

Sementara itu, mayoritas mata uang di negara maju perkasa di hadapan dolar AS. Tercatat, poundsterling Inggris naik 0,04 persen, dolar Australia menguat 0,26 persen, dan dolar Kanada naik 0,01 persen. Namun, franc Swiss turun 0,23 persen terhadap dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah sore ini ditopang oleh pelemahan dolar AS karena pasar menunggu rilis sejumlah data ekonomi AS.

Meliputi, data perubahan pekerja sektor non pertanian periode Juli, Purchasing Managers Index(PMI) manufaktur dari IHS Markit, serta PMI non-manufaktur dari Institute of Supply Management (ISM).

"Indeks dolar masih bergerak melemah dan tetap mendekati posisi terendah baru-baru ini," ujarnya dalam riset resmi.

Dari dalam negeri, pasar memantau data pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Pemerintah masih optimis bahwa pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 7 persen walaupun banyak pengamat ekonomi yang proyeksinya lebih rendah dari target pemerintah.

"Namun, pasar terus mengapresiasi keteguhan pemerintah yang tetap kuat di angka tersebut," ujarnya.