Rupiah Ditutup Perkasa ke Rp14.222 per Dolar AS Sore Ini

Rupiah Ditutup Perkasa ke Rp14.222 per Dolar AS Sore Ini
Rupiah

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.222 per dolar AS pada Senin (6/9) sore. Posisi ini menguat 40 poin atau 0,28 persen dari perdagangan sebelumnya yang berada di area Rp14.262 per dolar AS

Begitu juga dengan kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang menempatkan rupiah di posisi Rp14.239 per dolar AS atau menguat dari Rp14.261 per dolar AS pada akhir pekan lalu.

Sementara, mayoritas mata uang di Asia melemah terhadap dolar AS. Tercatat, peso Filipina melemah 0,25 persen, rupee India melemah 0,03 persen, dolar Singapura melemah 0,06 persen, yen Jepang melemah 0,16 persen, ringgit Malaysia melemah 0,01 persen, dan dolar Hong Kong melemah 0,04 persen.

Di sisi lain, yuan China menguat 0,02 persen, won Korea Selatan menguat 0,04 persen, dan baht Thailand menguat 0,16 persen.

Selanjutnya, mayoritas mata uang utama juga terlihat merah di hadapan dolar AS. Rinciannya, dolar Australia melemah 0,34 persen, dolar Kanada melemah 0,14 persen, poundsterling Inggris melemah 0,19 persen, franc Swiss melemah 0,24 persen, dan euro Eropa melemah 0,011 persen.

Analis Asia Valbury Futures Lukman Leong mengatakan rupiah menguat ditopang oleh data AS yang tak sesuai ekspektasi pasar. Pemerintah mencatat data pekerja AS non pertanian dan pegawai pemerintah atau non farm payroll (NFP) hanya bertambah sebanyak 235 ribu pekerjaan pada Agustus 2021 atau jauh di bawah ekspektasi pasar.

"Data tenaga kerja itu akan mengurangi kekhawatiran pasar terhadap isu tapering," ungkap Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Melihat data tenaga kerja AS yang di bawah ekspektasi, dolar AS kembali melemah. Alhasil, sejumlah mata uang negara lain yang sebelumnya melemah, kini mulai menguat kembali.

Namun, Lukman memproyeksi penguatan rupiah tak berlangsung lama. Sebab, pasar akan menunggu pernyataan The Fed terkait tapering off setelah bank sentral itu rapat pada akhir bulan ini.

"Biasanya paling lama hanya seminggu. Kekhawatiran tapering akan kembali muncul menjelang rapat The Fed akhir September," pungkas Lukman.

Diketahui, tapering off artinya mengurangi stimulus moneter yang dikeluarkan bank sentral saat perekonomian sedang terancam dan membutuhkan banyak suntikan likuiditas.

Likuiditas bisa diberikan dengan memangkas suku bunga acuan bank ke level yang sangat rendah hingga nol persen. Hal ini dibutuhkan untuk mendorong pelaku usaha mengajukan kredit, sehingga uang tetap beredar di masyarakat.

Selain itu, likuiditas juga bisa diberikan dalam bentuk pembelian surat utang negara. Pembelian dilakukan demi memastikan pemerintah memiliki likuiditas yang cukup untuk menangani ketidakpastian ekonomi.