Rupiah Ditutup Melemah ke Rp14.235 per Dolar AS Sore ini

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp14.235 per Dolar AS Sore ini
Rupiah

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.235 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Jumat (26/2/2021) sore. Posisi tersebut melemah 1,08 persen dibandingkan perdagangan Kamis (25/2/2021) sore di level Rp14.082 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.229 per dolar AS, atau melemah dibandingkan posisi hari sebelumnya yakni Rp14.104 per dolar AS.

Sore ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah terhadap dolar AS. Dolar Singapura melemah 0,04 persen, dolar Taiwan melemah 0,22 persen, won Korea Selatan melemah 1,41 persen, rupee India melemah 0,096 persen, yuan China melemah 0,07 persen, dan ringgit Malaysia melemah 0,21 persen. Sebaliknya, hanya tiga mata uang yang menguat yakni yen Jepang menguat 0,12 persen, peso Filipina menguat 0,10 persen, dan bath Thailand terpantau menguat 0,09 persen.

Sementara itu, mata uang di negara maju bergerak menguat terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,44 persen, dolar Australia menguat 0,39 persen, dolar Kanada menguat 0,03 persen, dan franc Swiss menguat 0,04 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan dolar terhadap mata uang negara berkembang dipicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, khususnya Treasury AS.

Kenaikan tersebut juga tak lepas dari prospek stimulus fiskal besar-besaran di tengah kebijakan moneter yang longgar di negeri Paman Sam.

"Selain itu, percepatan laju vaksinasi secara global juga telah mendukung apa yang kemudian dikenal sebagai perdagangan reflasi. Kenaikan imbal hasil obligasi yang beriringan dengan inflasi yang dipercepat (reflasi), menunjukkan tumbuhnya keyakinan bahwa bank sentral perlu mengurangi kebijakan ultra-longgar," tutur Ibrahim dalam keterangan tertulisnya.

Sementara dari dalam negeri, berbagai stimulus yang digelontorkan pemerintah belum mampu menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, meski lembaga-lembaga keuangan internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia (WB) dan Organisasi Kerja Sama Pembangunan Ekonomi Dunia (OECD) telah memprediksi bahwa ekonomi Indonesia mampu tumbuh di kisaran 4-5 persen pada tahun ini.

"Sinyal negatif dari data eksternal cukup menguatkan indeks dolar sehingga berakibat terhadap melemahnya mata uang rupiah," terangnya.