Rupiah Diproyeksi Tetap Kokoh Menjelang Pemilu AS

Rupiah Diproyeksi Tetap Kokoh Menjelang Pemilu AS
Foto-tirto

JAKARTA, SENAYANPOST.com  — Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan tetap solid menjelang pemilihan umum di Negeri Paman Sam.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah parkir di level Rp14.660 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan sesi Jumat (23/10/2020). Posisi itu tidak berubah atau stagnan dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya.

Adapun, indeks dolar yang tekanan kekuatan mata uang dolar AS terhadap enam mata uang utama melemah 0,22 persen ke level 92,750 akhir pekan lalu.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede, seperti dilansir bisnis.com, mengatakan pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang Oktober 2020 cenderung menguat hingga 1,5 persen dibandingkan dengan akhir September 2020. Kendati demikian, rupiah masih terdepresiasi 5,4 persen dan diperdagangkan dengan kisaran Rp14.650—Rp14.700.

Josua mengatakan penguatan rupiah didukung oleh membaiknya risiko sentimen di pasar keuangan negara berkembang. Kondisi iu ditopang oleh optimisme kesepakatan tambahan stimulus fiskal AS di parlemen.

Lebih lanjut, dia menyebut penguatan nilai tukar rupiah ditopang fundamental ekonomi Indonesia yang posotif. Dengan demikian, investor asing kembali masuk.

Sepanjang bulan Oktober 2020, pihaknya mencatat kepemilikan investor asing dalam surat berharga negara (SBN) naik US$1,3 miliar. Namun, investor asing masih membukukan net sell di pasar saham US$268 juta pada Oktober 2020.

Penguatan rupiah menurutnya juga ditopang oleh potensi surplus neraca transaksi berjalan pada kuartal III/2020. Hal itu terindikasi dari peningkatan surplus neraca perdagangan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

“Jelang Pemilu Presiden AS pada 3 November 2020 serta rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tanggal 5 November 2020, nilai tukar rupiah diperkirakan akan cenderung stabil,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (25/10/2020).

Josua mengatakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2020 yang diperkirakan masih mengalami pertumbuhan negatif bukan sebuah faktor kejutan. Pasalnya, pemerintah sudah memberikan perkiraan sebelumnya.

Kendati demikian, permintaan dolar AS di dalam negeri cenderung meningkat pada akhir Oktober 2020. Kenaikan dipicu oleh jadwal pembayaran utang luar negeri dan pembayaran impor yang terjadi pada setiap akhir bulan.

“Oleh karena itu itu, nilai tukar rupiah diperkirakan akan berada di rentang Rp14.625–Rp14.775 dalam jangka pendek ini,” imbuhnya.

Secara terpisah, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan mata uang rupiah ditutup stagnan pada akhir pekan lalu. Dalam sesi minggu depan, pihaknya memprediksi rupiah akan dibuka fluktuatif dan melemah 50 poin.

“Namun, ditutup menguat tajam 10 poin—60 poin di level Rp14.610—Rp14.690,” ujarnya.

Dari sisi internal, Ibrahim menyebut ada secercah harapan ekonomi Indonesia akan membaik. Rilis data investasi yang di atas ekspektasi analis membuka peluang produk domestik bruto (PDB) kuartal IV/2020 akan lebih baik.

Untuk faktor eksternal, Pemilu Presiden AS serta harapan paket stimulus tambahan AS masih menjadi sorotan. Kelanjutan perkembangan Brexit juga mencuri perhatian pasar. (Jo)