Ekonomi

Rupiah Diperkirakan Masih Melemah

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Kurs rupiah diperkirakan masih akan melemah, terkait isu hubungan dangan antara Amerika Serikat (AS) dan China pada perdagangan Rabu (13/8/2019). Pergerakan rupiah kemungkinan ada di kisaran level Rp14.260 hingga Rp14.340 per dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa masih tingginya minat investor terhadap aset investasi aman menjadi salah satu penyebab rupiah sebagai aset berisiko tidak diminati oleh investor.

“Ketidakpastian hubungan dagang AS dan China masih menjadi faktor yang mendorong minat investor untuk mengoleksi emas. Beberapa analis memperkirakan jika perang dagang AS-China terus tereskalasi bisa menyebabkan perekonomian global jatuh kepada resesi,” ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Selasa (13/8/2019).

Keresahan politik di Hong Kong juga menambahkan kekhawatiran pasar bahwa akan terdapat banyak dana asing yang keluar dari China sehingga akan berpengaruh terhadap perekonomian China.

Anjloknya peso Argentina pasca-pemilihan pendahuluan yang menempatkan calon oposisi, Alberto Fernandez, memiliki suara lebih dominan dibandingkan dengan Mauricio Macri juga menjadi sentimen negatif bagi pasar aset berisiko.

Di sisi lain, Bank Indonesia kembali memantau keadaan pasar dengan cara melakukan intervensi dalam pasar obligasi dan valas melalui transaksi DNDF yang bertujuan demi membendung penghindaran risiko dari gejolak politik di beberapa negara.

Rupiah masih melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Selasa (13/8/2019) dan ditutup menjadi yang terlemah kedua di antara kelompok mata uang Asia lainnya.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp14.325 per dolar AS, melemah 0,524% atau 75 poin. Mata uang Garuda menjadi yang mata uang dengan kinerja terlemah kedua setelah rupee yang melemah 0,658%.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close