Rupiah Dibuka Menguat 27,5 Poin di Level Rp14.872,5 per dolar AS

Rupiah Dibuka Menguat 27,5 Poin di Level Rp14.872,5 per dolar AS

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka menguat 27,5 poin atau 0,18 persen ke posisi Rp14.872,5 per dolar AS pada perdagangan Selasa (29/9/2020) pagi. Sedangkan indeks dolar di sisi lain turun 0,05 persen ke posisi 94,2350 pada pukul 08.56 WIB.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan bakal melemah pada perdagangan hari Selasa ini. Fokus pelaku pasar akan tertuju pada sejumlah rilis data perekonomian pekan ini.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 27 poin ke level Rp14.900. Level tersebut merupakan posisi paling lemah sejak 12 Mei 2020. Rupiah melemah bersama mayoritas mata uang Asia. 

Pelemahan mata uang Asia dipimpin oleh baht Thailand yang melemah 0,30 persen, disusul rupiah (-0,18 persen) dan ringgit Malaysia (0,14 persen).

Ibrahim Assuaibi Direktur PT.TRFX Garuda Berjangka memperkirakan rupiah akan melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini, Selasa.

“Rupiah kemungkinan dibuka melemah 60 poin namun dalam penutupan kemungkinan rupiah melemah tipis di level 10-30 poin di level 14.890-14.960,” jelasnya.

Ibrahim menjelaskan, fokus pelaku pasar masih tertuju pada perkembangan rencana stimulus untuk pemulihan ekonomi AS.

Beberapa investor sekarang mengharapkan Kongres AS untuk meloloskan paket stimulus apa pun, yang dipandang penting untuk mendukung ekonomi yang dilanda pandemi, sebelum pemilihan. 

Menurut Ibrahim, investor juga menunggu banyak data karena akhir bulan semakin dekat. Misal, China akan merilis Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur dan non-manufaktur, serta PMI manufaktur Caixin, pada hari Rabu. 

AS juga akan merilis data ekonomi, termasuk indeks kepercayaan konsumen Conference Board (CB) September pada hari Selasa dan Indeks Manajer Pembelian Manufaktur (PMI) Institute of Supply Management (ISM) pada hari Kamis.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pemberlakuan pembatasan sosial berskala mikro (PSBM) di berbagai daerah yang diminta Presiden Joko Widodo akan turut memantik daya beli masyarakat. PSBM dinilai lebih efektif ketimbang pembatasan sosial berskala besar (PSBB). 

“PSBB berskala mikro akan menambah dan meningkatkan daya beli masyarakat kembali berjalan karena tidak adanya pembatasan di tempat-tempat yang berbasis ekonomi seperti pasar, mall, restoran dan cafe dan ini bisa diterapkan di DKI Jakarta kedepan,” jelas Ibrahim. (Jo)