Rupiah Dibuka Melemah 18 Poin ke Level Rp14.708 per Dolar AS

Rupiah Dibuka Melemah 18 Poin ke Level Rp14.708 per Dolar AS

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Pada pembukaan pasar hari Jumat (16/10/2020) ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah 18 poin atau 0,12 persen ke level Rp14.708.

Rupiah dibuka di level yang lebih lemah dibandingkan dengan penutupan kemarin. Adapun indeks dolar terpantau turun 0,07 persen ke level 93,738.

Sebelumnya nilai tukar rupiah diprediksi bakal menguat pada perdagangan hari ini meskipun akan bergerak fluktuatif.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan kemarin, rupiah ditutup menguat 27 poin atau 0,19 persen ke level 14.690.Rupiah berhasil menguat di saat mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar AS.

Rupiah berhasil menjadi mata uang yang menguat melawan dolar AS pada perdagangan kali ini bersama dengan won yang terapresiasi 0,32 persen.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa rupiah juga mendapatkan sentimen dari pasar yang terus mengawasi pembicaraan Brexit, seiring dengan tenggat waktu pakta tentang hubungan Uni Eropa dengan Inggris semakin dekat.

Selain itu, pasar juga tengah menanti perkembangan vaksin merah putih yang telah mencapai 55 persen. Jika vaksin Covid-19 itu berhasil, rupiah akan mendapatkan tenaga tambahan untuk menguat lebih lanjut terhadap dolar AS.

“Dalam perdagangan pagi ini  mata uang rupiah kemungkinan akan dibuka menguat  walaupun sesi siang kembali melemah. Rupiah kemungkinan ditutup menguat terbatas sebesar 10-30 poin di level 14.660-14.710,” jelas Ibrahim melalui keterangan tertulis, Jumat (16/10/2020). 

Menurut Ibrahim sentimen lain yang membuat rupiah adalah data neraca perdagangan. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data ekspor dan impor pada September 2020 yang mencetak surplus 2,44 miliar dolar AS.

Dia menyebut, pemulihan perekonomian di kuartal keempat diharapkan bisa menjadi penopang pergerakan nilai tukar rupiah. Ibrahim mengakui di kuartal ketiga pertumbuhan ekonomi dipastikan terkontraksi.

Kendati demikian, sinyal pemulihan ekonomi bisa terlihat sejak Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali menerapkan status transisi untuk pembatasan sosial berskala besar di Jakarta. (Jo)