Ekonomi

Rupiah Babak Belur di Luar Negeri Hari ini

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Pasar keuangan Republik Indonesia (RI) libur pada perdagangan hari ini, Senin (1/6/2020), tetapi perdagangan di pasar spot luar negeri masih tetap berjalan. Dampaknya, nilai tukar rupiah melemah cukup tajam melawan dolar Singapura dan dolar Australia.

Pada pukul 11:03 WIB, rupiah melemah 0,27% melawan dolar Singapura ke Rp 10.315,56/SG$, sementara melawan dolar Australia merosot 0,84% ke Rp 9.797,32/AU$.

Tetapi seandainya pasar dalam negeri tidak libur, rupiah bisa saja malah mampu menguat melawan kedua dolar tersebut. Pasalnya, pergerakan rupiah melawan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar non-deliverable forward (NDF) menunjukkan penguatan tajam.

Rupiah untuk satu pekan ke depan di pasar NDF menunjukkan penguatan 0,86% ke Rp 14.505/US$ hari ini pada pukul 11:03 WIB, dibandingkan beberapa saat sebelum penutupan perdagangan Jumat lalu Rp 14.631/US$.

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Pasar NDF tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Sehingga ketika NDF menguat, rupiah di pasar spot juga akan menguat. Tetapi dolar AS selamat dari tekanan pada hari ini karena pasar spot dalam negeri libur.

Seandainya tidak libur, rupiah berpeluang menguat tajam melawan dolar AS, dan memberikan efek psikologis ke mata uang lainnya. Alhasil, rupiah juga berpeluang menekan dolar Singapura dan Australia.

Rupiah yang melemah melawan dolar Singapura pada hari ini lebih karena faktor teknikal mengingat Mata Uang Negeri Merlion saat ini di dekat level terlemah dua setengah bulan.

Pada periode April-Mei, rupiah juga sudah menguat nyaris 10% melawan dolar Singapura, sehingga memicu aksi ambil untung (profit taking) yang membuat Mata Uang Garuda melemah pada hari ini.

Sementara itu dolar Australia memang sedang berjaya belakangan ini, sebabnya kebijakan karantina wilayah (lockdown) sudah dilonggarkan sejak pertengahan Mei lalu, tetapi penambahan kasus penyakit virus corona (Covid-19) per hari tidak mengalami lonjakan.

Berdasarkan data Worldometer, kasus baru Covid-19 hanya 7 orang sehingga total menjadi 7.202 kasus, dengan 103 meninggal, dan 6.618 sembuh. Persentase kematian (mortality rate) di Australia sebesar 1,4% jauh di bawah rata-rata dunia sekitar 6%, sementara pasien sembuh tersebut mencapai 92%.

Tidak adanya lonjakan kasus baru saat lockdown dilonggarkan, serta rendahnya mortality rate membuat dolar Australia menjadi perkasa.

Dolar Australia bahkan dikatakan menjadi salah satu mata uang yang layak investasi, khususnya ketika bursa saham global menguat yang artinya sentimen pelaku pasar sedang bagus.

“Dolar Australia adalah mata uang yang anda inginkan untuk dijadikan investasi ketika bursa saham mulai pulih,” kata Sean Callow, ahli strategi mata uang di bank Westpac, sebagaimana dilansir Financial Review.

“Kami akan mengatakan dalam jangka pendek, dolar Australia akan sangat kuat dan tidak bijaksana jika kita menjualnya. Mata uang ini merupakan proxy untuk risk appetite global yang sangat populer,” tambahnya.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close