Opini

Runtuhnya Dominasi US Di Tiga Teater

Perkiraan situasi paska martirnya Qasem Sulaiman adalah US akan terhimpit di Timur Tengah dan kehilangan pengaruh di pasifik dan Eropa. Ultimate goal Garda Revolusi dalam rangka balas dendam pada US adalah mengusir tentara Amerika dari kawasan Timur Tengah.

Mereka akan melakukan proxy war menghidupkan kekuatan Syiah di seluruh timteng menyerang warga dan aset US. Di Irak mayoritas penduduknya adalah Syiah dan pemerintahan Irak sekarang dikuasai Syiah. Kataib Hezbollah milisi Syiah di Irak meminta agar tentara Irak menjauh 1000 meter dari basis tentara US.

Pembalasan Iran jangan dibayangkan menggunakan konvensional War perang langsung antar negara namun hybrid war menggunakan proxy, mengirim Garda Revolusi dengan kombinasi serangan cyber dengan sasaran tak terbatas dan tanpa front.

Sewaktu perang dingin US berhasil redam Syiah di Irak menggunakan kekuatan dikatator Suni yaitu Saddam Husein. Ketika perang dingin usai Saddam disingkirkan dan US menerima konsekunsi menguatnya pengaruh Iran di Irak dengan menggunakan kekuatan mayoritas Syiah. Situasi kini Trump salah ambil keputusan dengan mengeliminasi orang yang dianggap sebagai biang pengaruh Iran di luar negeri. Qasem Sulaiman adalah simbol yang bila dimartirkan malah akan membuat lebih banyak martir.

Tradisi Syiah adalah tradisi martir mengingat Imam Husein di Karbala. Puncak perjuangan Syiah adalah menjadi martir. Sekarang US menghadapi ratusan juta calon martir Syiah di seluruh timur tengah yang siap menyerang warga dan aset US.

Hari ini Menlu Qatar menemui Presiden Iran Hasan Rouhani meminta Iran agar menahan diri menyerang US. Permintaan Qatar cukup beralasan karena di Doha ada pangkalan militer US yang besar menampung puluhan ribu prajurit. Qatar tak mau kena getahnya.

Perhatian US akan fokus di Timteng sehingga abai pada dominasi Cina di pasifik. US akan kehilangan kewibawaan di pasifik. Di Eropa US juga akan terhimpit kekuatan Rusia yang baru saja meluncurkan rudal hypersonic dan menguasai distribusi gas di Eropa.

Surya Fermana, Pengamat Militer

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close