Catatan dari Senayan

Romy Terlalu Mencintai “Soekarno Hatta”

KETIKA saya ditugasi untuk mengatur acara Buka Puasa Bersama di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta 30 tahunan yang lalu, saya merasa punya beban. Penceramahnya sudah dapat tokoh yang sangat berbobot, Prof Dr Mukti Ali, mantan Menteri Agama. Pembawa acaranya, saya sendiri. Tapi pada siang hari menjelang acara dihelat ada yang kurang, qori atau pembaca. Al Qur’an.

Entah sudah lupa siapa yang memberitahu, dua jam menjelang acara saya putuskan untuk meminta Romahurmuzy untuk tampil sebagai qori’. Ibu dan kakaknya mengizinkannya.

“Tolong dik segera pakai sarung dan kopyah. Ikut saya ke KR baca Alquran,” pinta saya kepada Romy, begitu Romahurmuzy biasa disapa.

Romy yang kala itu berusia 10 tahunan segera berlari memakai sarung , baju koko dan peci hitam saya bawa ke KR. Satu setengah jam menjelang bedug maghrib acara saya buka dan saya persilakan Romy melantunkan Surah Albaqarah ayat 183.

Semua yang hadir, termasuk Prof Mukti Ali terperangah mendengarkan suara Romy yang merdu mendayu. Saya sendiri pun kaget, karena baru kali ini mendengarkan suara merdunya. Ayat yang menjelaskan perintah puasa Ramadhan itu dibacanya dengan suara bening, tajwid dan mahraj yang sangat bagus.

Romy kecil itu pun tumbuh sebagai anak yang cerdas. Beberapa tahun kemudian masuk ke salah satu sekolah terbaik di Yogyakarta, SMAN 1 Teladan, mengikuti jejak kakak-kakaknya. Lalu kuliah di ITB (S1 dan S2) dan saya ketemu lagi di Jakarta saat dia menjadi Sekretaris Pribadi Menteri Koperasi dan UKM Surya Dharma Ali (SDA) dalam kabinetnya Presiden SBY.

Ketika SDA bermutasi menjadi Menteri Agama Romy sudah terpilih sebagai anggota DPRRI dari Fraksi Persatuan Pembangunan (FPP). Dia aktif sebagai Wakil Sekjen PPP yang ketua umumnya SDA.

Dan saat SDA lengser dari kursi ketua umum PPP karena terbukti melakukan tindak pidana korupsi, Romy tampil menggantikannya memimpin partai bergambar ka’bah itu.

Saya tentu saja bangga, mengikuti kiprah dan prestasi Romy, pria kelahiran 1974 itu. Kebetulan saya kenal dengan keluarganya dan sama-sama dari “dinasti” Jombang. Bocah kecil yang dulu saya tampilkan di acara Buka Puasa Besama itu tumbuh menjadi tokoh nasional yang ikut mewarnai jagat perpolitikan di Indonesia.

Muda, cerdas, dan berprestasi. Walaupun jika dirunut semunya tak mengherankan. Ayahnya almarhum Prof Dr KH Tholchah Mansoer SH, ahli hukum sekaligus kiai. Ibunya almarhumah Nyai Hajah Umroh Mahfudhoh, politikus yang pernah menjadi Ketua PPP Daerah Istimewa Yogyakarta, anggota DPR RI dari PPP dan PKB.

Kakak Romy, M. Fajrul Falaakh SH, MA, ahli hukum tata negara, staf khusus Presiden Abdurrahman Wahid dan juga dosen Fakultas Hukum UGM. Kakak perempuannya, Zunnatul Mafruhah, pernah menjadi anggota DPR RI dari PKB. Kakak Romy satunya lagi, Mahrusah, kini masih menjabat Duta Besar RI di Aljazair. Kakek Romy, almarhum KH Wahib Wahab pernah menjabat Menteri Agama, dan buyut Romy, almaghfurlah KH Wahab Hasbullah, salah satu pendiri NU yang juga Pahlawan Nasional.

Saya terkaget-kaget untuk kedua kalinya, mendengar kabar Romy terkena Operasi Tangkap Tangan KPK, karena dugaan terima suap di Surabaya. Sayang sekali dia bernasib malang. Di tengah prestasinya yang terus menanjak, dia terseret kasus extra ordinary crime, kejahatan luar biasa itu..

Nasab yang bagus, pendidikan yang membanggakan dan karier yang gemilang di usia muda, berakhir tragis begitu cepat akibat terlalu mencintai “Soekarno-Hatta”, gambar yang menghiasi mata uang rupiah kita. Dalam bahasa agama, hubud dunya, atau kata orang Jawa, kedonyan.

Salam

KOMENTAR
Tags
Show More
Close