Catatan dari Senayan

Rokok Simalakama

“Merokok Membunuhmu”. Kalimat pendek yang seram itu seolah warning kepada semua orang agar tidak menyentuh benda yang satu itu. Tapi karena menempel di merk rokok dengan gambar bagus dan menarik, maka sesungguhnya yang ditonjolkan  tetaplah iklan rokoknya, bukan warning atas nama ancaman kematian.
Inilah anomali rokok di negeri ini. Rokok dapat dikonsumsi oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Anak-anak tak ada rikuh dan takut merokok di dekat orang tua dan gurunya. Guru-guru sekolah pun tak cemas, atas nama hak asasi membiarkan murid-muridnya yang belum cukup umur menghisap rokok di kawasan sekolah. Sopir-sopir bus dan angkot merasa tanpa dosa mengepulkan asap dan terhisap para penumpangnya.
Kios penjual rokok bertebaran di mana-mana. Siapa pun dalam usia berapa pun dapat dengan mudah mendapatkan barang yang satu itu. Perda larangan merokok di depan umum diacuhkan karena tak pernah ada petugas atau siapa pun yang mengawasinya.
Hukum kita tak pernah disertai dengan law enforcement yang memadai. Ancaman sanksi hanya menjadi kalimat imperatif tanpa makna. Bahkan di gedung parlemen sekali pun, sejumlah anggota DPR dengan tanpa risih mempertontonkan “kebodohannya” menghisap rokok semudah mengunyah permen. Kita hanya bisa mengelus dada menyaksikan kelakuan mereka. Karena bagaimana pun mereka adalah para pemimpin yang merepresentasikan rakyat.
Ada organisasi keagamaan mengeluarkan fatwa haram, oleh masyarakat malah dijadikan bahan candaan; “Bikin fatwanya juga sambil merokok.” Miris rasanya mendengar kaum ulama diolok-olok. Fatwa dari makruh sampai haram dari ulama tak dihargai, bahkan dilecehkan.
Jutaan batang rokok dikonsumsi. Triliunan rupiah uang rakyat mengalir deras dari desa ke  kota dan terus menambah pundi-pundi kejayaan pengusaha rokok. Jadilah mereka masuk sepuluh besar orang terkaya di Indonesia. Ada sepertiga tanah  kota di Jawa Timur yang menjadi kawasan industri rokok. Puluhan ribu pekerja ramai bekerja di sana, siang dan malam. Truk-truk boks hiruk pikuk keluar masuk pabrik membawa rokok yang siap dikonsumsi.
Lalu tersiar kabar, harga rokok akan dinaikkan berlipat. Kaum perokok harus bersiap. DPR sudah menyuarakan dukungan dengan bermacam argumen. Mengingat bahaya rokok, demi masuknya pajak dan cukai untuk negara, akan berdampak pada kemakmuran petani tembakau, demi menambah Pendapatan Asli Daerah, dan demi-demi lainnya.
Kita memerlukan keterusterangan. Kita tak lagi membutuhkan kalimat-kalimat bersayap yang menjanjikan. Ingin menyelamatkan jutaan jiwa atau mengeruk sebesar-besarnya dana rakyat. Atau ini bagian dari main mata, pemerintah, DPR dan pengusaha. Sebab melihat kondisi senyatanya, berapa pun harga rokok tak akan mampu menghadang hasrat para perokok setia. Alih-alih malah akan semakin memperkaya pengusahanya dan mereka yang pandai main mata. Rokok semakin menjadi simalakama.
Salam,

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close