Rizieq Pulang, Aparat Bimbang

Rizieq Pulang, Aparat Bimbang
Denny Siregar

Oleh Denny Siregar

SAYA mengamati kepulangan Rizieq Shihab dari Arab Saudi sejak kemarin. Bukan Rizieqnya yang saya perhatikan, tapi bagaimana negara menangani kepulangan orang seperti dia. 

Sejak kemarin, beredar pesan-pesan di whatsapp mengundang orang untuk datang ke bandara. Saya dengar juga ada mobilisasi orang-orang dari daerah untuk menuju ke Bandara Soekarno Hatta. Dalam artian, aksi ini ada yang menggerakkan. Bukan aksi yang muncul murni karena gerakan.

Dan kabar berita juga menyebutkan pengamanan di bandara diperketat. Tentara dan polisi diturunkan untuk mengamankan. 

Bandara, apalagi yang kelas internasional memang harus steril, karena di sanalah teras rumah besar bernama Indonesia. Kalau di sana ada apa-apa, misalnya ada bom bunuh diri saja, maka hebohnya bisa mendunia. Dan orang dari luar akan takut datang ke Indonesia.

Tapi hari ini, saya kecewa sekali.

Berbondong-bondong massa datang ke bandara, tapi pengamanan di sana sangat longgar. Ribuan orang datang dan memenuhi bandara. Jalan menuju kesana macet total, sehingga orang yang mau ke sana harus jalan kaki termasuk para pilot dan pramugari. Pesawat-pesawat di reschedule bahkan ditunda. 

Dan ini hanya karena kepulangan satu orang. Hanya satu orang saja. 

"Dimana negara?" Pikir saya dengan kecewa. "Kenapa negara seperti tidak hadir mengamankan simbolnya yang sekelas bandara? Dimana aparat?"

Jelas saya kecewa. Negara dan aparatnya seperti kehilangan wibawa. Hanya karena mereka membawa massa besar, maka mereka boleh berbuat seenak udelnya. Gila, pikir saya. 

Negara kita, ketika harus berhadapan dengan mereka, seperti gagap. Takut nanti ada apa-apa, isu agama akan menjadi api yang menyala.

Halo, negara... Kelompok mereka itu tidak membawa nama agama. Mayoritas yang beragama di sini adalah moderat. Dan jika aparat berani memukul kelompok kecil itu, kami semua akan mendukung. Mereka tidak mewakili kami. Mereka hanya mewakili diri mereka sendiri.

Dari rasa kecewa, saya menjadi takut. Kalau negara saja gagap, bagaimana nasib saya yang selalu berdiri paling depan nanti jika mereka berkuasa? Bisa-bisa saya dikorbankan, hanya dengan alasan "supaya situasi menjadi tenang".

Saya pernah membaca buku berjudul "Taliban", penulisnya Ahmed Rashid seorang wartawan. 

Dia menulis, "Kelompok fanatik Taliban berkuasa di Afghanistan, karena para kaum terpelajar memilih untuk diam. Dan ketika Taliban menang, kelompok pertama yang diburu oleh mereka adalah kaum terpelajar yang memilih diam."

Dan melihat negara tidak berwibawa seperti ini, saya jadi takut. Apakah kelak Indonesia akan seperti Afghanistan saat dikuasai Taliban? Apakah kita harus hancur dulu, baru sadar bahwa kedamaian itu harganya sangat mahal?

Entahlah. Hari ini saya kecewa pada negara. Pada pemerintah. Pada Menko Polhukam. Pada aparat yang memilih diam.

Secangkir kopi mungkin bisa menghibur hati saya yang resah gak karuan, melihat kemana nasib bangsa ke depan. (*)

*Denny Siregar, kolumnis tinggal di Jakarta.