Risma dan BNPB Berbeda Sikap Soal Penjarahan Bantuan Gempa Sulbar

Risma dan BNPB Berbeda Sikap Soal Penjarahan Bantuan Gempa Sulbar
Risma

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan pernyataan yang berbeda dalam menyikapi informasi dugaan aksi penjarahan terhadap bantuan logistik untuk korban gempa bumi di Sulawesi Barat (Sulbar).

Risma berkata, kejadian yang sebenarnya terjadi bukan penjarahan. Menurutnya, jalur penghubung antara Kota Makassar dan Kabupaten Mamuju sempat terputus kemudian mengakibatkan pengiriman bahan bantuan berupa pangan untuk korban gempa bumo di Mamuju dan Majene memakan waktu hingga sekitar enam jam.

"Jadi begini, ada beberapa video yang beredar bahwa seolah-olah itu penjarahan. Tapi kejadian sebetulnya bukan begitu. Memang karena kemarin (jalur penghubung) Makassar dengan Mamuju itu terputus karena ada longsoran. Mungkin sekarang baru dikerjakan," kata Risma kepada wartawan di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (16/1/2021).

"Sehingga bahan kebutuhan pangan kita itu harus muter, kurang-lebih enam jam. Jadi baru tadi pagi sampai, karena mestinya sembilan jam. Tapi ditambah muter lagi enam jam baru sampai. Kita baru bisa membagi. Mungkin mereka juga kelaparan kondisinya," imbuh politikus PDIP itu sebagaimana dikutip dari detikcom, Minggu (17/1).

Risma kemudian menegaskan kembali bahwa informasi yang diketahui dari sebuah video viral berdurasi 30 detik di media sosial itu bukan penjarahan. Menurutnya, situasi pascabencana harus dibaca, karena toko dan pasar di Mamuju tidak beroperasi saat ini.

"Kita harus bisa membaca situasi, karena tidak ada pasar yang buka, tidak ada toko yang buka. Karena semua takut, sehingga semua mengungsi. Semua bahan makanan yang kita bawa dari Palu dan Makassar," ucap Risma.

Berbeda, Kepala Pusat Pengendali Operasi BNPB Bambang Surta Putra mengakui bila penjarahan bantuan di tengah bencana telah terjadi. Namun ia tak menyebut di daerah mana penjarahan tersebut dilakukan.

Diketahui bencana alam baru saja terjadi di dua provinsi Indonesia, yakni banjir di Kalimantan Selatan dan gempa di Sulawesi Barat. Sejauh ini dua provinsi tersebut masih dilakukan evakuasi dan penanganan.

"Penjarahan berdasarkan yang info kami dapatkan ini memang sempat terjadi," kata Bambang melalui virtual, Sabtu (16/1/2021).

Lebih lanjut, ia mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk melakukan penyelidikan terkait kasus penjarahan bantuan saat ini. Pihak BNPB juga menjalin kerja sama dengan aparat keamanan untuk melakukan proses sterilisasi guna meningkatkan pengamanan terutama bagi daerah yang dianggap rawan saat proses distribusi bantuan.

"Tapi saat ini sedang dilakukan penyelidikan oleh pihak kepolisian setempat. Selain itu juga sudah dilakukan upaya penanganan untuk pengamanan bagi jalur yang dikhawatirkan," kata Bambang.

Sebelumnya Relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Makassar mengaku diadang dan dijarah saat akan memberi bantuan korban - Kota Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu (16/1). Karena khawatir dengan keselamatan diri, para petugas relawan tersebut membiarkan logistik itu diambil warga hingga habis.