Opini

Risiko sebagai Pejabat Publik

Oleh: Anwar Rahman

USMAN Bin Affan RA adalah salah satu Khalifah (pemimpin) yang sukses, beliau kaya raya namun tetap hidup sederhana, berhati lembut dan shaleh.

Di zaman beliaulah Al Qur’an dikodifikasikan (dibukukan) karena di zaman Nabi naskah Al Qur’an berserakan yakni tidak menjadi satu kesatuan kitab seperti sekarang ini, yakni mushab Al Qur’an belum ada pada zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup.

Prestasi Usman bin Affan yang luar biasa tersebut ternyata masih juga ada lawan politiknya yang iri hati dan menyebarkan isu miring.

Khalifah Usman dituduh tidak punya kapasitas untuk membukukan Al Qur’an, menghambur-hamburkan uang negara, korupsi, pemborosan uang negara dan lainnya, sehingga Usman nasibnya tragis mati terbunuh.

Padahal Usman adalah seorang miliader yang justru sebagian besar hartanya dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa dan negara serta agama.

Bahkan sampai saat ini ada rekening bank khusus di Saudi Arabia yang menampung amal jariyah Usman yakni dari pendapatan hotel-hotel di sekitar Masjid Nabawi yang tanahya milik almarhum Usman Bin Affan.

Atas tuduhan keji seperti itu Usman pernah berkata: “Ketika aku dilantik menjadi Khalifah, akulah pemilik unta dan kambing terbanyak di negeri ini, namun di saat aku menjadi Khalifah, semua unta-untaku habis, tinggal dua ekor ini, semuanya aku pakai untuk kendaraanku pergi haji.

Hikmah yang dapat kita ambil dari kisah ini adalah:
(1) Isu negatif yang berkaitan dengan seorang top pimpinan harus kita cek kebenarannya.

(2) Sebagus apapun prestasi pemimpin belum tentu akan mendapat penghargaan/pujian dari masyarakat, apalagi kalau tidak berprestasi.

(3) Penyebaran fitnah dan adu domba dalam perebutan kekuasaan ada sejak dulu, bahkan sejak nabi-nabi sebelum Muhammad SAW, zaman Nabi Muhammad, zaman Khalifah bahkan sampai zaman sekarang. (*)

Dr. Anwar Rahman SH, MH, seorang santri, anggota DPR-RI Periode 2014-2019.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close