Ekonomi

Riset Buktikan Perokok Baru Mau Bertobat Jika Harga Per-Bungkusnya Rp70.000

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Kenaikan cukai dan harga jual eceran (HJE) rokok menuai pro kontra di kalangan masyarakat dan pelaku industri.

Peneliti Lembaga Demografi FEUI Abdillah Ahsan menilai, kenaikan cukai untuk hasil tembakau sebesar 23% pada 2020 dengan HJE rokok naik sebesar 35% masih rendah.

Kenaikan cukai dan HJE tersebut, menurut Abdillah, belum akan efektif untuk menurunkan konsumsi rokok yang selama ini menyasar anak-anak dan masyarakat berpenghasilan rendah.

“Untuk sigaret kretek mesin (SKM) golongan I kenaikannya harus dua kali lipat. Karena itu, kan, capital intensive, enggak terlalu banyak tenaga kerja,” ujar Abdillah di Jakarta.

“Hasil survei Pusat Kajian Jaminan Sosial, dengan menelefon 1.000 perokok, menunjukkan, saat ditanya pada tingkat berapa akan berhenti merokok, mereka bilang kalau Rp 70.000 per bungkus,” kata Abdillah kepada Kontan.

Abdillah mengatakan kenaikan cukai dan JHE rokok sebesar tersebut merupakan rata-rata di antara semua jenis hasil tembakau.

Padahal seharusnya, ada ketentuan mininal besaran cukai dan HJE, dan untuk produk rokok-rokok populer kena tarif cukai tertinggi.

Beberapa jenis hasil tembakau yang populer selain SKM adalah sigaret putih mesin (SPM) dan sigaret kretek tangan (SKT).

Abdillah menyebutkan, SKM golongan I yang harganya paling mahal, justru bisa memproduksi lebih dari tiga miliar batang rokok per tahun.

Menurut Abdillah, kenaikan cukai dan HJE sebesar dua kali lipat harus, karena saat ini pasar SKM menguasai pasar rokok. Berdasarkan data yang ia miliki, pada 2018, rokok SKM memiliki pangsa pasar 73% dari total produksi rokok.

Bahkan tahun lalu juga tercatat industri rokok SKM golongan I memproduksi 211 miliar batang per tahun.

“Artinya apa? Artinya, harga termahal masih mampu dibeli orang-orang, masih mau beli. Jadi belum cukup tinggi harga termahal pun. Usulan saya, cukai SKM I dinaikkan, iklan rikok dilarang,” ujarnya.

Di sisi lain, Abdillah menambahkan, pemerintah perlu memberikan intensif berupa kenaikan cukai yang lebih rendah terhadap industri rokok SKT. Soalnya, jenis industri ini lah yang paling menyerap tenaga kerja.

“Kalau mau membela petani tembakau, larang lah rokok mesin,” katanya.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close