Riset: 90 Persen Wisatawan Domestik Hemat Biaya Liburan Saat Pandemi

Riset: 90 Persen Wisatawan Domestik Hemat Biaya Liburan Saat Pandemi
Wisatawan Domestik

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Tak dapat dipungkiri bahwa pandemi Covid-19 telah memberikan tekanan terhadap industri wisata, baik secara global maupun lokal. Hal tersebut dapat dilihat dari menurunnya jumlah penumpang transportasi dan tingkat hunian hotel.

Di Indonesia, hal serupa terjadi. Berdasarkan riset dari Lifepal.co.id, perusahaan pialang asuransi, pengeluaran wisatawan domestik Indonesia untuk transportasi dan akomodasi turun hingga 90 persen per bulan sejak awal pandemi pada Maret hingga Juni 2020.

Data menunjukkan jumlah penumpang pesawat di tiga bandara besar, yaitu Bandara Soekarno Hatta, Bandara Ngurah Rai dan Bandara Sultan Hasanudin, mengalami penurunan sejak Februari laku. Puncaknya pada Mei, jumlah penumpang turun hampir 98,6 persen dibandingkan dengan Desember 2019.

Kondisi serupa juga tampak pada penumpang kereta api jarak jauh (Jawa dan Sumatera). Jumlah penumpang berkurang drastis hingga 92 persen.

Pun dengan jumlah penumpang kapal laut. Jumlahnya turun hingga 98,5 persen, diantaranya di Pelabuhan Belawan, Tanjung Priok dan Makassar.

Sejalan dengan itu, tingkat hunian hotel pun turun. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Juni 2020 mencapai rata-rata 19,7 persen atau sudah turun 39,69 poin sejak Desember 2019.

Penurunan paling dalam terjadi pada April dengan angka 12,6 persen, turun sebanyak 46,72 poin dibandingkan Desember 2019.

Menurut data Statistik Wisatawan Nusantara dari Badan Pusat Statistik tahun 2018, wisatawan domestik menghabiskan rata-rata Rp 959.100 per perjalanan wisata.

Dengan memperhitungkan inflasi transportasi dan rekreasi tahunan, diketahui pada 2020 ini, wisatawan domestik menghabiskan rata-rata Rp 980.943 per perjalanan wisata.

Dari data tersebut, kata Lifepal, bisa diperoleh kesimpulan bahwa 90 persen wisatawan domestik menghemat pengeluaran transportasi, sedangkan 40 persen menghemat pengeluaran akomodasi. Lebih jauh lagi, data-data itu menujukkan bahwa terjadi pelemahan pada industri pariwisata Indonesia.