Ribuan Pendukung Trump Gelar Demo Tolak Hasil Pemilu AS

Ribuan Pendukung Trump Gelar Demo Tolak Hasil Pemilu AS
Pendukung Trump

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Ribuan orang dari kaum konservatif Amerika Serikat menggelar demo pada Sabtu (14/11) di Washington sebagai bentuk protes menentang hasil Pemilu Presiden AS umum 3 November lalu.

Pantauan CNN memperlihatkan ribuan demonstran memenuhi Jalan Pennsylvania yang terletak hanya beberapa blok dari Gedung Putih. Banyak dari para pedemo turun ke jalan tanpa mematuhi protokol kesehatan, seperti menggunakan masker dan menjaga jarak.

Sebagian besar demonstran merupakan pendukung Presiden Donald Trump. Sementara itu, sebagian pedemo lain terlihat berasal dari beberapa kelompok sayap kanan, supremasi kulit putih, dan kaum teori konspirasi.

Para pedemo tampak bersemangat ketika iring-iringan mobil Trump melewati lokasi demonstrasi. Beberapa pedemo juga mencoba mendekati mobil Trump. Aksi penolakan serupa juga terjadi di beberapa kota dengan kelompok-kelompok yang berbeda di antaranya "Stop the Steal", "March for Trump", dan "MAGA Million March".
Sejumlah demonstran diperkirakan akan menggelar aksinya hingga ke Gedung Mahkamah Agung AS.

Aparat keamanan juga telah mengeluarkan izin penggunaan Taman Nasional untuk salah satu gerakan penolakan hasil pemilu. Acara tersebut disebut mendatangkan massa sekitar 10 ribu orang.

Meski begitu, tidak jelas berapa banyak massa yang hadir dalam aksi tersebut. Trump menyambut baik aksi-aksi protes tersebut. Melalui kicauan di Twitter, presiden AS ke-45 itu menyebut aksi demonstrasi tersebut sebagai sesuatu yang "menghangatkan hati".

Ia bahkan mengatakan, mungkin akan mampir ke salah satu demo dan menyapa para pendukungnya. Meski begitu, Trump tak menyebutkan kapan dan tempat pastinya. Seperti diketahui, Trump menolak untuk mengakui kemenangan Biden pada Pemilu kemarin.

Trump beserta tim kampanye menegaskan bakal menempuh jalur hukum untuk menolak hasil Pilpres yang memenangkan Biden. Ia dan timnya menuduh terjadi kecurangan di Pennsylvania dan negara bagian lain yang memenangkan perolehan suara Biden.

Namun, sejauh ini, tim Trump belum membuktikan apa-apa di pengadilan mengenai klaim kecurangan tersebut. Selain menuntut hasil pemilu ke pengadilan, Trump dan pemerintahannya disebut berupaya mempersulit proses transisi pemerintahan kepada Biden.

Kepala Pelayanan Umum Pemerintahan (General Services Administration/GSA) Emily Murphy, yang dipilih Trump, masih menolak menandatangani sejumlah dokumen agar masa transisi bisa segera dimulai.

Tanpa persetujuan GSA, dana transisi dan sumber daya lainnya tidak dapat mengalir ke Biden dan timnya.

Selain itu, Biden dan tim transisinya juga masih belum diberi akses terhadap informasi intelijen. Trump bahkan melarang Kemlu AS memberi Biden akses terhadap tumpukan pesan dari sejumlah kepala negara asing.