Ribuan Orang Ikut Pawai Pride Usai Taiwan Legalkan Pernikahan Sejenis

Ribuan Orang Ikut Pawai Pride Usai Taiwan Legalkan Pernikahan Sejenis

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Lebih dari 100.000 orang turun ke jalan di ibukota Taiwan, Taipei, Sabtu (26/10/2019), dalam pawai Pride terbesar di Asia Timur, beberapa bulan pasca pulau tersebut secara resmi mengizinkan pernikahan sesame jenis.

Taiwan menjadi negara pertama di Asia yang melegalkan pernikahan sejenis.

Dilansir dari Reuters, Sabtu (26/10), Taiwan merupakan negara demokratis yang menjadi benteng bagi nilai-nilai liberal di sebagian negara di dunia, yang di sebagian negara lain masih tetap dinyatakan illegal.

Pemerintah setempat menyatakan sejak disahkan pada 24 Mei lalu, lebih dari 2.150 pasangan sesama jenis yang telah menikah di Taiwan.

Adapun, penyelenggara parade Pride Gay kali ini menyebutkan setidaknya ada lebih dari 200.000 orang ikut berbaris di jalan-jalan Taipei dalam parade yang akan berakhir pada malam hari di luar kantor kepresidenan.

“Kami dulu khawatir dan takut, tapi setelah kami mencapainya, kami semua bergabung dengan parade Pride ini dan bergembira,” kata Chi Chia-wei, salah satu aktivis yang sejak 2017 ikut mendorong perubahan regulasi soal perkaitan sejenis.

Presiden Tsai-Ing-Wen dan Partai Progresif Demokratik yang saat ini berkuasa juga disebutkan ikut mendukung acara tersebut.

“Perayaan tahun ini harus menjadi spesial setelah berlakunya undang-undang pernikahan sejenis dengan lebih dari 200.000 orang diharapkan hadir dari seluruh dunia,” kata Kementerian Luar Negeri Taiwan di laman Facebooknya.

Momen parade tersebut juga dimanfaatkan sejumlah demonstran untuk menyatakan pujian kepada Presiden Tsai dan akan kembali memilihnya dalam Pemilihan Presiden pada Januari 2020. Tsai dianggap telah ikut menjaga kedaulatan Taiwan dan mendukung kaum gay.

Sementara itu, pernikahan sejenis masih tetap illegal di negara-negara tetangga Taiwan, termasuk China.

Taiwan pada dasarnya adalah bagian dari Republik China tapi negara tersebut diklaim sebagai wilayah suci dan China tidak pernah menggunakan kekuatan militernya untuk menaruh pulau tersebut di bawah kendali Beijing. (MU)