Film

Review Film: The Willoughbys

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Di balik penampilan warna-warni para karakter, The Willoughbys merupakan film animasi yang cukup gelap.

Diangkat dari buku bertajuk serupa karya Lois Lowry, film ini menceritakan usaha anak-anak menjadi yatim piatu karena tak mendapat kasih sayang orang tua.

Kisah bermula ketika empat Willoughbys bersaudara, yaitu Tim, Jane, dan dua Barnaby bertemu bayi yang ditelantarkan di depan rumah mereka. Jane yang selama ini tak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua tak ingin bayi yang diberi nama Ruth itu merasakan hal serupa.

Dilansir CNN Indonesia, Jane bersama tiga saudara laki-lakinya pun pergi ke ujung pelangi yang diyakini menjadi tempat sempurna bagi Ruth. Setibanya di sana, mereka melihat Ruth bahagia karena mendapatkan orang tua yang sempurna.

Hal itu membuat Jane melontarkan ide mengirimkan kedua orang tua ke sejumlah kawasan ekstrem supaya Willoughbys bersaudara bisa menjadi yatim piatu dan bahagia.

The Willoughbys masih memiliki unsur animasi klasik di mana sebagian cerita disampaikan melalui tokoh ketiga, seperti suram kehidupan Willoughbys bersaudara yang diungkapkan melalui narasi kucing jalanan (Ricky Gervais).

“Apabila kamu menyukai cerita keluarga yang selalu bersama dan mencintai satu dengan yang lain dan bahagia selamanya, film ini ini bukan untukmu,” demikian bunyi narasi tersebut.

Dari segi cerita, perlakuan orang tua kepada Willoughbys bersaudara di awal film sedikit mengingatkan akan karya legendaris Indonesia, Ratapan Anak Tiri.

Orang tua yang terlalu asyik saling mencinta, anak-anak ditelantarkan, tak diberi makan, dihukum tanpa alasan yang jelas, semua digambarkan di awal film.

Situasi ini berdampak pada karakter Willoughbys bersaudara, yang digambarkan dengan jelas dalam film ini.

Tim (Will Forte) selaku anak pertama terlihat jelas tak pernah merasakan kasih sayang sebelumnya. Ia merasa bingung, aneh, bahkan terancam ketika mendapat perhatian dari orang lain.

Tim juga merasa menjadi kepala keluarga bagi tiga saudara-saudaranya. Ia ingin berperilaku berbeda dari orang tuanya supaya Willoughby bisa menjadi keluarga sempurna.

Sementara itu, Jane (Alessia Cara) dan dua Barnaby (Sean Cullen) terlihat lebih santai, berani mengeluarkan pendapat dan bertindak, bisa berpikir lebih jernih, bahkan cenderung jenius karena memiliki Tim yang selalu ada di pihak mereka.

Di sisi lain, karakter serta kelakuan Ibu (Jane Krakowski) dan Ayah (Martin Short) memudahkan penonton membenci sekaligus gemas di waktu bersamaan.

Mereka memperlihatkan kekuatan cinta bisa mengatasi segalanya. Namun melalui mereka, penonton juga diingatkan tabiat dan karakter seseorang sesungguhnya sulit diubah.

Beberapa karakter lain yang menonjol adalah Linda (Maya Rudolph) serta Commander Melanoff (Terry Crews).

Linda merupakan pengasuh dengan rambut berbentuk hati yang disewa nyonya dan tuan Willoughby. Commander Melanoff merupakan pemilik pabrik di ujung pelangi.

Masa lalu membuat Linda tak ingin Willoughby bersaudara melalui hal yang ia jalani dahulu. Sementara itu, melalui karakter Commander Melanoff, penonton kembali diingatkan untuk tak boleh menilai seseorang melalui fisik.

Secara garis besar, The Willoughbys masih seperti film animasi anak-anak pada umumnya. Namun, inti ceritanya gelap dan menyedihkan.

Karakter lucu dan unik, warna-warna cerah bagai pelangi, serta makanan ringan seperti perman, jeli, kue yang digemari anak-anak bisa ditemukan di sepanjang film.

Scoring dengan nuansa riang juga beberapa kali terdengar, menambah ironi kisah empat bersaudara Willoughbys.

The Willoughbys bisa menjadi salah satu pilihan tontonan untuk akhir pekan. Film ini sudah tayang sejak 20 April dan bisa ditonton di Netflix.

Namun, layaknya kutipan narasi The Willoughbys bahwa, “Apabila kalian menginginkan cinta dan kasih sayang, kalian bisa temukan itu di tempat lain.” (Jo)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close