Rencana Nazaruddin Setelah Bebas Murni: Bangun Pesantren

Rencana Nazaruddin Setelah Bebas Murni: Bangun Pesantren

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Terpidana kasus korupsi Wisma Atlet Jakabaring dan pencucian uang, M. Nazaruddin telah bebas murni pada Kamis (13/8).

Bebasnya Nazar dari masa tahanan memang jauh lebih awal dari perhitungan masa tahanan yang harus dijalaninya.

Dalam kasusnya, ia divonis 13 tahun penjara. Berdasarkan perhitungan normal, seharusnya Nazaruddin baru bebas pada 2024 mengingat mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu diketahui telah mendekam di penjara sejak tahun 2011.

Namun berkat remisi selama 4 tahun yang didapatkannya, Nazar dapat lebih cepat menghirup udara bebas.
Sehingga menurut hitungan, Nazaruddin bebas murni pada 13 Agustus 2020. Tetapi Nazaruddin sebenarnya sudah keluar dari penjara sejak 14 Juni 2020 melalui program cuti menjelang bebas (CMB).

Menurut Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham, remisi 4 tahun itu diperoleh Nazaruddin lantaran ia berstatus sebagai Justice Collaborator (JC) atau pelaku yang bekerja sama dengan penegak hukum yakni KPK.

Ia beberapa kali membantu KPK mengungkap peranan pihak lain yang diduga turut ambil andil dalam beberapa perkara rasuah sebut saja perkara korupsi Wisma Atlet Jakabaring dan pengadaan e-KTP.

Ditemui usai mengurus administrasi pembebasannya di Balai Pemasyarakatan Kelas I Bandung, dia mengatakan bahwa banyak hikmah kehidupan yang ia petik selama menjadi tahanan. Nazar mengaku bersyukur bisa melewati masa pidana tersebut hingga akhirnya bebas.

Setelah dinyatakan bebas, Nazar menyampaikan niatnya untuk memperdalam ilmu agamanya termasuk mewujudkan keinginannya untuk mendirikan pesantren di daerah Bogor, Jawa Barat.

“Kalau soal di dunia biar Allah SWT yang mengatur, karena yang penting saya fokus saja mengejar akhirat. Bagaimana bisa bangun masjid, bisa bangun pesantren, ke depannya akan saya lakukan,” ucap Nazaruddin dilansir kumparan.

“Saya InsyaAllah akan bangun masjid (dan) pesantren yang benar-benar akan menjadi background Indonesia ke depannya. Kita sebagai umat Muslim terbesar di dunia kan. Di Bogor (pesantrennya) InsyaAllah nanti pasti saya kasih tahu kepada rekan media, di mana titik-titiknya,” lanjutnya.

Disinggung mengenai apakah dia masih memiliki hasrat untuk melanjutkan kariernya dalam dunia politik, Nazar enggan menjawabnya detail. Ia bahkan enggan membahas lebih jauh terkait sudah ada atau belum parpol yang menawarinya untuk kembali berpolitik.

“Ya biar Allah yang mengatur jalannya, saya fokus kepada akhirat,” kata dia

Menanggapi kebebasan Nazar, pembimbing Bapas Bandung, Budiana, mengungkapkan sosok Nazar yang menurutnya taat akan aturan. Menurut dia, Nazar selalu menaati aturan wajib lapor sekali dalam sepekan sejak mendapat cuti menjelang bebas (CMB) pada 14 Juni 2020.

“Selama menjalani bimbingan yang bersangkutan mengikuti aturan yang telah ditetapkan, di antaranya adalah kewajiban lapor diri setiap satu Minggu sekali, sampai terakhir hari ini sudah 9 kali lapor ya,” ucap Budiana.

Indonesia Corruption Watch (ICW) angkat bicara soal pembebasan Nazaruddin dari balik jeruji besi. Mereka menyebut pembebasan tersebut jelas bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang ada.

Peneliti ICW, Kurnia Ramadhana, mengatakan dalam pasal 34 A ayat (1) huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012, disebutkan syarat terpidana kasus korupsi dapat remisi di antaranya bersedia bekerja sama dengan penegak hukum sebagai Justice Collaborator.

“Sedangkan menurut KPK, Nazaruddin tidak pernah mendapatkan status sebagai JC,” kata Kurnia.

Kedua, pemberian remisi kepada Nazaruddin dinilai menguatkan indikasi bahwa Kemenkumham tidak berpihak pada isu pemberantasan korupsi dengan mengabaikan aspek penjeraan bagi pelaku kejahatan.

Ketiga, keputusan Kemenkumham untuk memberikan remisi pada Nazaruddin dinilai telah mengabaikan kerja keras penegak hukum dalam membongkar praktik korupsi.

Terlebih lagi, kata Kurnia, kasus Wisma Atlet yang menjerat Nazaruddin ini memiliki dampak kerugian negara yang besar, yakni mencapai Rp 54,7 miliar.

“Tak hanya itu, Nazaruddin juga dikenakan pasal suap karena terbukti menerima dana sebesar Rp 4,6 miliar dari PT Duta Graha Indah. Bahkan aset yang dimilikinya sebesar Rp 500 miliar pun turut dirampas karena diduga diperoleh dari praktik korupsi,” ucapnya.

Meski demikian, Nazar menegaskan remisi yang diterimanya telah sesuai dengan ketentuan. Ia memastikan bahwa seluruh proses yang ada telah dilaluinya, sampai akhirnya ia dihadiahi pemotongan masa hukuman selama 4 tahun 1 bulan.

“Yang pasti semuanya aturan dan mekanisme, semuanya sudah dilalui, ini semua ada hikmahnya. Bilang saja sama teman-teman yang itu (ICW) ya semuanya sudah sesuai mekanisme,” kata Nazaruddin.