Relawan Vaksin Covid yang Meninggal adalah Dokter

Relawan Vaksin Covid yang Meninggal adalah Dokter
Kerabat korban Covid-19 berkabung dalam pemakaman massal korban virus corona di Manaus, Brasil pada 19 Mei. (Andre Coelho/Bloomberg via Getty Images Amerika Selatan)

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Seorang relawan peserta uji klinis Vaksin Covid-19 yang dikembangkan AstraZeneca dan University of Oxford, Inggris, meninggal. Demikian dilaporkan media di Brasil pada Rabu (21/10/2020)

Meski dilaporkan kalau relawan itu termasuk penerima plasebo, bukan vaksin, kasus kematian relawan Vaksin Covid-19 itu adalah yang pertama yang terjadi di dunia.

Pelaksana riset uji klinis Vaksin Covid-19 AstraZeneca di Brasil, Institut Riset dan Pengajaran D’Or (IDOR) di Universitas Federal Rio de Janeiro, mengaku sudah ada kajian independen yang langsung dilakukan atas kasus kematian itu. 

Hasilnya menyimpulkan tak ada yang perlu dicemaskan dari keamanan vaksin itu dan uji coba pada manusia bisa dilanjutkan.

Laporan media di Brasil menyebut relawan yang meninggal itu adalah seorang dokter berusia 28 tahun yang bertugas di unit perawatan darurat dan intensif di dua rumah sakit di Rio de Janeiro. 

Baru lulus dari Fakultas Kedokteran setahun lalu, dia langsung bekerja di garda terdepan dalam penanggulangan pandemi Covid-19 di negaranya itu sejak Maret lalu.

Sang dokter mati muda setelah tertular dan mengalami komplikasi akibat infeksi virus corona 2019 tersebut. 

"Kondisi kesehatannya baik-baik saja sebelum tertular penyakit itu," kata kerabat dan teman-temannya yang dikutip Harian O Globo.

Dokter itu disebutkan berada di antara relawan uji vaksin yang memang memprioritaskan mereka yang sehari-hari berisiko tinggi tertular Covid-19. 

Namun sebagian media menyebutnya tidak menerima dosis vaksin yang sedang diuji, sedang sebagian lain menuliskan dia berada dalam kelompok kontrol dan menerima suntikan berisi air saja (plasebo).

Terpisah, otoritas kesehatan Brasil, Anvisa, mengaku telah mendapat informasi kematian relawan itu Senin. Sebagian laporan dari sebuah komite internasional yang mengkaji aspek keselamatan uji itu juga telah diterima. 

"Komite itu menyarankan uji klinis sebaiknya dilanjutkan," bunyi pernyataan Anvisa.

University of Oxford juga telah memberikan keterangan mengenai perkembangan di Brasil berdasarkan kajian yang sama. 

"Tidak ada yang perlu dicemaskan tentang keselamatan uji klinis," kata Joanna Bagniewska, juru bicara Oxford Vaccine Gorup, sambil menambahkan, "Seluruh insiden medis, apakah itu yang terjadi pada kelompok kontrol ataupun penerima vaksin, selalu dikaji secara independen."

Sedang AstraZeneca menambahkan bahwa kerahasiaan medis melarangnya untuk memberikan keterangan lebih detil mengenai para relawannya. Tindakan yang sama dilakukannya saat menghadapi kasus relawan di Inggris yang mengalami gangguan saraf.

Dari kasus yang pertama itu, uji klinis yang sempat dihentikan telah bergulir kembali kecuali di Amerika Serikat. Saat itu University of Oxford dan AstraZeneca memastikan kasus terjadi bukan karena efek dosis vaksin yang diberikan.